MerahPutih.com - Proyek Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela diproyeksikan tidak hanya menjadi salah satu proyek gas terbesar di Indonesia, tetapi juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur.
Selain memperkuat pasokan energi nasional, proyek senilai USD 20,9 miliar atau sekitar Rp 352 triliun ini diperkirakan memberikan penerimaan negara yang besar, membuka ribuan lapangan kerja, serta mendorong hilirisasi industri.
Presiden Prabowo Subianto telah melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela yang berlokasi sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, Maluku.
Cadangan Gas dengan Produksi 9,5 Juta Ton LNG per Tahun
Lapangan Abadi memiliki potensi cadangan gas mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF) dan dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton gas alam cair (LNG) per tahun.
Selain memproduksi LNG, Lapangan Abadi juga akan memasok sekitar 150 juta kaki kubik gas per hari untuk kebutuhan industri dalam negeri serta menghasilkan sekitar 35.000 barel kondensat per hari.
Baca juga:
Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela, Proyek Energi yang Dinanti Hampir 28 Tahun
Produksi Gas Diprioritaskan untuk Kebutuhan Domestik
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, Kamis (16/7), sebagian besar produksi gas dari Lapangan Abadi akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri guna memperkuat industri nasional.
Gas yang dihasilkan nanti sekitar 60 persen minimal akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sedangkan maksimal 40 persen untuk ekspor,
Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia.
Menurut Bahlil, pasokan gas tersebut akan menjadi fondasi bagi pengembangan berbagai industri hilir, termasuk industri pupuk yang akan dibangun di kawasan sekitar proyek.
"Pupuk akan membangun industri hilirisasi di sini. Kemudian sebagian gas juga akan kita salurkan kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta. Langkah ini sekaligus meningkatkan nilai tambah dan mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah," kata Bahlil.
Berpotensi Hasilkan Penerimaan Negara Puluhan Miliar Dolar
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, pemerintah memperkirakan Proyek LNG Abadi Masela akan memberikan manfaat ekonomi dan fiskal yang signifikan.
Selama masa konstruksi hingga operasi, proyek ini diproyeksikan menghasilkan penerimaan langsung bagi negara sekitar USD 37,8 miliar.
Di sisi lain, kontribusi pajak tidak langsung diperkirakan mencapai sekitar USD6,43 miliar.
Baca juga:
Groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela, Prabowo: Investor Harus Untung, Rakyat Harus Sejahtera
Bahlil menambahkan, proyek ini juga akan memberikan dampak besar terhadap penciptaan lapangan kerja.
Pada masa konstruksi, Proyek LNG Abadi Masela diperkirakan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung.
Setelah memasuki tahap operasi, Lapangan Abadi akan mempekerjakan sekitar 800 hingga 1.000 tenaga kerja.
Diharapkan Jadi Katalis Ekonomi Baru di Indonesia Timur
Dengan besarnya nilai investasi, penyerapan tenaga kerja, serta pengembangan industri hilir, pemerintah berharap Proyek LNG Abadi Masela menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur.
Kehadiran proyek ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap pembangunan industri, peningkatan penerimaan negara, serta kesejahteraan masyarakat di wilayah Maluku dan sekitarnya.
Saat ini, Ladang Gas Abadi di Blok Masela dikelola oleh konsorsium INPEX Masela Ltd dengan kepemilikan saham 65 persen, Pertamina Hulu Energi 20 persen, dan Petronas Masela Sdn. Bhd. 15 persen. (Asp)