Merahputih.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempersingkat alur pelaksanaan vaksinasi yang awalnya empat meja menjadi dua meja. Langkah ini dilakukan untuk mencegah potensi terjadinya penumpukan dan terlalu lama menunggu.
"Dengan demikian itu juga bisa mempercepat proses vaksinasi kita,” ujarnya Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin kepada wartawan, Selasa (4/5).
Baca Juga:
Pemerintah Targetkan Vaksinasi COVID-19 kepada 60 Ribu Pekerja Seni
Dalam proses vaksinasi, peserta harus melewati empat meja. Yaitu meja pendaftaran dan verifikasi data, penapisan kesehatan, penyuntikan vaksin, dan tahap observasi.
Tak hanya mempercepat alur vaksinasi, Kemenkes juga terus berupaya untuk mendorong percepatan pelaksanaan vaksinasi yang hingga akhir April telah mencapai 20 juta suntikan.
Dalam upaya menambah pasokan vaksin yang akan digunakan untuk mempercepat pelaksanaan vaksinasi tersebut, Pemerintah kembali akan mendatangkan vaksin COVID19 melalui kerja sama multilateral Fasilitas COVAX dari GAVI.
“Bulan [April] ini kita sudah kedatangan 3,8 juta vaksin AstraZeneca dari program GAVI yang gratis. Rencananya akan datang lagi sekitar 1,8 juta vaksin AstraZeneca yang gratis, sehingga totalnya ada 5,6 juta,” ujarnya.
Selain itu, dengan bahan baku vaksin Sinovac yang sudah tiba di Tanah Air, Bio Farma juga akan memproduksi sekitar 18 juta vaksin pada bulan ini.
Baca Juga:
Bisakah Kamu Menyebarkan COVID-19 Setelah Mendapatkan Vaksin?
Dia mengungkapkan, jika pada masa awal vaksinasi diperlukan waktu sekitar 2 bulan untuk mencapai 10 juta suntikan, saat ini hanya diperlukan waktu 1 bulan untuk mencapai jumlah yang sama.
“Sekarang satu bulan, dengan segala keterbatasan, kita tetap bisa menembus 10 juta suntikan atau sekitar 12,5 juta rakyat Indonesia sudah diberikan vaksinasi yang pertama,” ungkapnya. (Knu)