Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

PBB Lakukan Penyelidikan Kematian 3 Prajurit TNI Pasukan Perdamaian, Cek Lokasi Terhambat

Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 April 2026

MerahPutih.com - Personel pasukan perdamaian UNIFIL asal Indonesia, Praka Farizal Rhomadhon, gugur akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu (29/3).

Keesokan harinya pada Senin (30/3), Indonesia kehilangan lagi dua personelnya di UNIFIL akibat konvoi pasukan yang mereka kawal diserang. Dua personel yang gugur dalam serangan tersebut ialah Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memastikan bahwa penyelidikan terhadap serangan yang menyebabkan gugurnya tiga personel RI di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) sedang berlangsung, dan hasilnya dapat diumumkan dalam waktu dekat.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric, menegaskan, serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL adalah hal yang tidak dapat diterima dan harus dipertanggungjawabkan.

Baca juga:

Golkar Minta Indonesia ‘Melawan’ atas Gugurnya Anggota TNI di Lebanon, Saatnya Cabut dari BoP

“Penyelidikan tengah berlangsung dan, meski dengan situasinya menantang, kami yakin dapat segera menyampaikan informasi terbaru terkait hasil penyelidikannya," kata Dujarric dalam konferensi pers di Markas PBB, Rabu (1/4) waktu setempat.


Dia mengakui, meski prosesnya butuh waktu, para ahli teknis saat ini tengah memeriksa bukti-bukti fisik di lokasi kejadian serta berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait.

Dujarric menyebut, upaya penyelidik mendatangi lokasi kejadian secara tepat waktu sedikit terhambat karena ada kebutuhan untuk meredakan ketegangan dengan pihak-pihak terkait.

Ia memastikan, PBB senantiasa berkomitmen mendapatkan fakta yang sebenar-benarnya terkait peristiwa yang terjadi.

Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Jean-Pierre Lacroix menekankan, pihaknya terus memantau situasi di lapangan demi keselamatan dan keamanan personel, kata Dujarric.

Hal tersebut semakin penting mengingat personel UNIFIL melaporkan terjadinya “ledakan besar dan pembongkaran di desa Naqoura di dekat Markas UNIFIL” pada 1 April.

UNIFIL juga mencatat 62 kali pelanggaran ruang udara terjadi pada 31 Maret di tengah tingginya aktivitas militer Zionis Israel serta peluncuran roket ke arah Israel dan personel Zionis di Lebanon. (*)

Baca Artikel Asli