Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Kisah Relawan Tidak Boleh Nengok Jarum Suntik Saat Divaksin

Andika Pratama - Kamis, 03 September 2020

MerahPutih.com - Bagi relawan vaksin COVID-19, mendapat kesempatan suntik vaksin adalah pengalaman amat langka. Lewat penyuntikan vaksin ini sejarah pandemi ditentukan. Keberadaan vaksin pun menjadi sumber penasaran relawan, seperti diakui salah seorang relawan vaksin bernama Arif Budiawan.

Pria 53 tahun tersebut mengaku penasaran ingin melihat wujud vaksin Sinovac Biotech yang diujicobakan ke dalam tubuhnya. Namun berdasarkan prosedur penelitian, relawan tidak boleh melihat vaksin tersebut.

Baca Juga

Jumlah Kasus COVID-19 Tembus 180 Ribu, Lonjakan akibat Libur Panjang

Tadinya, Arif ingin menengok wujud vaksin ketika peneliti menyuntikkan vaksin ke lengan kirinya. Tetapi, niat ini urung demi menghormati prosedur.

"Cairan di suntikannya ga dilihatin, saya lihat yang nyuntik saja ga boleh. Saya tanya kenapa, katanya prosedurnya, SOP-nya begitu, masih uji coba," kata Arif, saat dihubungi MerahPutih,com baru-baru ini.

Selain itu, ia juga tidak bisa melihat wajah penelitinya yang mengenakan APD lengkap. "Saat disuntik saya disuruh nengok ke tempat lain. Kan saya pengin lihat ga boleh sama dia karena masih uji coba ga boleh, prosedurnya gitu," lanjut Arif.

Arif Budiawan saat disuntik vaksin. (Dok Pribadi)
Arif Budiawan saat disuntik vaksin. (Dok Pribadi)

Meski demikian, Arif berhasil mengabadikan dirinya saat diinjeksi vaksin. Ia meminta tolong kepada peneliti untuk memotret proses penyuntikan bersejarah tersebut. "Saya minta difotoin ke suster pake hp saya," terangnya.

Menurutnya, dalam uji coba tersebut masing-masing relawan ada yang mendapat vaksin dan ada pula yang mendapat plasebo. Masing-masing relawan tidak diberitahu apakah dia mendapat suntikan vaksin atau plasebo.

Ia juga bilang, peneliti yang menyuntikkan vaksin pun tidak tahu relawannya disuntik vaksin atau plasebo. Sebab yang mengetahui kandungan dalam suntikan tersebut hanya peneliti pusat, yakni Bio Farma.

Arif mendapat kesempatan disuntik pada Jumat (28/8) di salah satu lokasi uji klinik vaksin di Bandung, yakni Puskesmas Dago. Saat disuntik, pria yang bekerja sebagai kontraktor tersebut merasakan kaku atau pegal di bagian lengan. Tapi, gejala ini tidak berlangsung lama. Selanjutnya, ia merasa sehat walafiat.

Oleh peneliti, ia dibekali kartu berisi laporan harian dan termometer untuk memeriksa suhu tubuh secara mandiri. Hasil pengukuran suhu tubuh dituliskan di kartu laporan tersebut setiap harinya. Kartu ini juga berisi daftar gejala yang harus diisi relawan tiap harinya.

"Alhamdulillah saya sampai hari ini ga ada kerasa apa-apa," kata Arif.

Baca Juga

Tujuh Strategi Hentikan Terjadinya Klaster COVID-19 di Perkantoran

Uji klinis vaksin tersebut hasil kerja sama PT Bio Farma dengan perusahaan vaksin Sinovas Biotech, Tiongkok. Dalam penelitian terhadap relawan, PT Bio Farma menggandeng peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjdjaran (Unpad). Uji klinis tahap tiga atau akhir ini diikuti 1.620 relawan. (Iman Ha/Bandung)

Baca Artikel Asli