MerahPutih.com - Kapten Timnas Swiss sekaligus gelandang senior Sunderland, Granit Xhaka, mengakui telah membeli sertifikat vaksin COVID-19 palsu pada 2022 akibat rasa takut ekstrem serta ketidakpercayaannya terhadap dosis medis saat itu.
Saat emosi saya tidak stabil, saya memilih membeli sertifikat itu ketimbang bertanya kepada ahlinya. Hari ini saya merasa tindakan itu salah. Itu kesalahan besar. Saya menyesal,
Granit Xhaka lewat akun Instagram pribadinya, dikutip Selasa (22/9)
Baca juga:
Chelsea Belum Menyerah! Segera Siapkan Tawaran Baru untuk Granit Xhaka
Pengakuan Dosa Sang Kapten dan Kasus Hukum Luzern
Skandal hukum ini meledak ke publik setelah Kejaksaan Kantonal Luzern mengusut dugaan penerbitan dokumen kesehatan ilegal yang melibatkan seorang dokter lokal di Swiss.
Xhaka yang sempat terjangkit virus COVID-19 saat masih berkostum Arsenal pada September 2022 memilih menggunakan jalur belakang guna memenuhi syarat perjalanan udara tanpa pernah disuntik vaksin yang sebenarnya.
Baca juga:
Atas dugaan tindakan pemalsuan dokumen serta pemalsuan otentikasi berdasarkan Pasal 253 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Swiss, sang gelandang kini dibayang-bayangi ancaman sanksi denda besar hingga hukuman penjara maksimal lima tahun.
-
Sertifikat Tanpa Suntikan: Xhaka mendapatkan sertifikat digital tanpa pernah melewati prosdur penyuntikan dosis vaksin resmi.
-
Diperiksa Kejaksaan: Kejaksaan Kantonal Luzern dijadwalkan memanggil Xhaka secara resmi untuk menjalani pemeriksaan klarifikasi fakta.
-
Kooperatif Penuh: Pemain berusia 33 tahun tersebut berjanji bersikap kooperatif dan siap menerima seluruh konsekuensi hukum atas perbuatannya.
Baca juga:
Xherdan Shaqiri Pensiun dari Timnas Swiss, Catatkan Penampilan Terbanyak
Coret Diri dari Skuad UEFA Nations League
Demi menjaga ketenangan internal tim nasional serta memfokuskan perhatiannya pada proses investigasi, Xhaka bersepakat dengan Asosiasi Sepak Bola Swiss (SFV) untuk mundur sementara dari skuad.
Keputusan tersebut memaksa sang kapten absen membela La Nati dalam empat pertandingan krusial UEFA Nations League mendatang melawan Makedonia Utara, Skotlandia, dan Slovenia.
“Saya bertanggung jawab atas keputusan saya, saya berkomitmen penuh menjalani investigasi itu dan bekerja sama penuh dengan otoritas terkait,” tandas Xhaka.
Presiden SFV, Peter Knäbel, menyambut baik langkah kapten timnya yang berani mengambil tanggung jawab publik di tengah tensi tinggi investigasi.
Belum diketahui sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada Xhaka bila nantinya dinyatakan bersalah. Klubnya, Sunderland, juga belum memberikan keterangan terkait kasus hukum yang menjeratnya. (*)