Ketika si Kecil Kehilangan Minat pada Makanan
Senin, 23 Oktober 2023 -
ORANGTUA sering cemas ketika melihat 'si kecil' kehilangan atau penurunan minat pada makanan. Perubahan minat ini disebabkan berbagai faktor seperti fisik, psikologis, dan sosial.
Junita, Business Unit Head Morinaga GUM, KALBE Nutritionals, meyakini perubahan dalam minat makan anak ini normal dan wajar pada masa pertumbuhan dan perkembangan.
“Sisi positifnya, ini juga kesempatan memperkenalkan anak pada beragam jenis makanan dan menciptakan kebiasaan, serta lingkungan makan positif yang akan bertahan hingga dia besar. Kami mengajak orang tua tidak khawatir anak mengalami masalah makan," kata Juanita dalam keterangan persnya.
Senada dengan Junita, dr. Muliaman Mansyur, Head of Medical KALBE Nutritionals ,juga menjelaskan kehilangan atau penurunan nafsu makan pada anak umumnya bersifat sementara.
Meskipun demikian, orang tua tetap harus memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, mulai dari pencatatan berat dan tinggi badan hingga perkembangan umum anak.
Baca juga:
atau penurunan nafsu makan pada anak umumnya bersifat sementara. (Foto: Kalbe)
Ketika anak kehilangan minat pada makanan, orangtua harus menjadi teladan yang baik dalam hal pola makan sehat. Anak-anak sering meniru perilaku orang dewasa. Jadi, jika orangtuanya menunjukkan minat positif pada makanan sehat, anak-anak terdorong untuk melakukannya juga.
“Orang tua tidak perlu panik dan segera susun prioritas yang tepat ketika anak kehilangan atau berkurangnya nafsu makannya. Kondisi ini normal dan sering terjadi dalam perkembangan anak. Penting untuk tetap tenang tetapi memastikan prioritas utama yaitu memenuhi kebutuhan nutrisi hariannya, menciptakan lingkungan yang mendukung dan positif seputar makanan, serta memberi anak pilihan makanan yang sehat,” ungkap dr. Muliaman.
Riri Restiani, selebgram dan parenting blogger (IG: @princessrhie), mengaku sempat khawatir ketika anaknya kehilangan minat untuk makan.
"Saya khawatir ini akan mempengaruhi tumbuh kembang, apalagi mulai terjadi perubahan fisik juga misalnya anak jadi semakin kurus. Sebagai ibu yang aktif mencari informasi, saya menemukan ternyata hampir 1 tahun anak saya tidak mencapai standar kenaikan berat badan yang ditargetkan,” tutur Riri.
Pengalaman serupa juga dialami selebgram dan parenting Blogger Mira Utami (IG/Tiktok: @miramiut). “Ketika anak mulai susah makan, saya berusaha tidak panik. Saya prioritaskan hal paling penting yaitu mencapai dan mempertahankan berat badan, kemudian melatih pola makan yang sehat bersama anak," kata Mira.
Untuk mengatasi kecemasan orangtua tersebut, PT Sanghiang Perkasa (KALBE Nutritionals) menawarkan alternatif pemenuhan gizi anak ketika mengalami penurunan atau kehilangan minat pada makanan. Melalui Morinaga Morigro, kebutuhan nutrisi anak diklaim dapat terpenuhi.
Formula susu diperkaya oleh minyak ikan, Probiotik BB536, serat FOS dan tinggi kalsium. Kandungan minyak ikan pada formula GROMAX membantu anak mencapai berat dan tinggi badan ideal, serta berfungsi sebagai booster nafsu makan. Probiotik BB536 dan Prebiotik serat FOS untuk menjaga imunitasnya, serta kandungan vitamin A, C, E dan Zinc yang tinggi untuk mendukung tumbuh kembang.
Baca juga:
Morigro juga dilengkapi kandungan Vitamin D, 14 vitamin dan sembilan mineral. Tersedia dalam dua varian rasa madu dan rasa vanila, Morigro rendah kandungan gula agar anak tumbuh sehat dan tetap jauh dari obesitas.
Peran orang tua sangat penting untuk membuat anak kembali makan dengan lahap. Setelah minat makannya kembali, berikan sang buah hati beragam pilihan makanan sehat yang membuat mereka lebih tertarik mencoba makanan baru.
Buat pengalaman makan menjadi menyenangkan dengan menghadirkan makanan dalam bentuk yang menarik, seperti hidangan berwarna-warni atau bentuk-bentuk yang lucu. Ini bisa membantu meningkatkan minat anak pada makanan.
Hindari memaksa anak untuk makan atau memberikan tekanan berlebihan, karena bisa membuat mereka semakin enggan makan. Biarkan mereka mengendalikan sejauh mana mereka ingin makan, tetapi pastikan kebutuhan nutrisinya tercukupi dan selalu tersedia pilihan yang sehat.
“Penting diingat bahwa setiap anak adalah individu yang unik, dan pendekatan yang efektif untuk mengatasi masalah makanan dapat bervariasi.” ujar dr. Muliaman. (dru)
Baca juga: