Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, mengatakan, ada tiga motif utama di dalam intoleransi di Yogyakarta. Ketiga motif tersebut ialah ideologi, politik, dan ekonomi.
"Pertama, ideologi, terkait munculnya pandangan-pandangan ideologi sekterian, yang tertutup. Kedua, kekuasaan politik," katanya saat konferensi pers di Jalan Magelang, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (27/2).
Terkait motif ekonomi, Tigor memastikan adanya hubungan simpatisan partai dengan pelaku intoleran.
"Mereka dengan bertindak seperti itu kan dapat galangan dana. Simpatisan ada yang memberi donasi ke mereka," paparnya.
Setara Institute menyatakan, berdasarkan penelitiannya, Yogyakarta disebut sebagai "kota intoleran". Hal ini sesuai penelitian yang dilakukan selama 10 tahun, dari tahun 2007 hingga 2016.
Berita ini merupakan laporan dari Fredy Wansyah, kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk membaca berita lainnya terkait intoleransi baca di sini: Riset Setara Institute: Intoleransi di Yogyakarta Meningkat