Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Fatherless Daughter Syndrome, ketika Ayah tak Hadir dalam Hidup Anak Perempuan

Dwi Astarini - Sabtu, 13 November 2021

TUGAS untuk mengurus dan membimbing anak kerap kali didelegasikan sepenuhnya kepada ibu. Rapuhnya gambaran maskulinitas jika mengurus anak hingga kesibukan pekerjaan kerap kali menjadi alasan pria enggan turut serta dalam mengurus buah hati. Keengganan ayah di Indonesia untuk turut serta mengurus anak membuat Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai fatherless country. Padahal, kehadiran ayah merupakan kunci penting dalam menentukan tumbuh kembang anak terutama anak perempuan.

Dari ayahnya, anak perempuan akan mendapatkan gambaran sosok laki-laki ideal. Jika ayah tidak terlibat secara langsung, anak akan kehilangan figur ayah. Ia akan kebingungan dalam menentukan standar laki-laki yang tepat. Perlahan-lahan anak akan kehilangan sosok sang ayah dan itu memberi efek pada psikologis yang dikenal dengan fenomena fatherless daughter syndrome.

BACA JUGA:

Di Hari Ayah Nasional, Pahami 'Daddy Issues'

Sindrom itu muncul dari tidak adanya fondasi yang kuat yang diletakkan seorang ayah untuk putrinya. Berdasarkan analisis yang dilakukan SurveyMonkey dari studi kuantitatif daring yang melibatkan lebih dari 1.200 wanita berusia 15 hingga 70 tahun dari seluruh dunia, kehilangan emosional yang dialami perempuan tanpa figur ayah terlalu sulit untuk ditangani jika dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan figur ayah. Bagian terburuknya ialah masalah emosional mereka tidak ditangani secara memadai.

ayah anak

Kedekatan emosional ayah dan putrinya amat penting. (Sumber: Pexels.josh willink)

Efek psikologis dari ketidakhadiran ayah pada seorang perempuan muncul saat dia tumbuh. Emosi yang tertekan ini cenderung meledak jika terjadi kehilangan, pengabaian, atau trauma lainnya. Ledakan emosinya sering kali tidak wajar dan mungkin tampak berlebihan dalam persepsi orang lain.

Ledakan seperti itu membuatnya merasa menyesal, bersalah, terisolasi, dan disalahpahami. Setiap pengalaman hidup setelah kehilangan ayah memicu rasa sakit yang dipupuk jauh di lubuk hatinya sejak usia yang sangat muda.

Mereka merindukan kasih sayang laki-laki, perlindungan tanpa syarat di masa-masa sulit dan kehadiran orang yang penuh kasih dan kasih sayang di saat-saat pencapaian. Pendampingan emosional dari sosok laki-laki yakni ayah, kakek, kakak laki-laki, paman atau anggota keluarga laki-laki dapat mengubah jalan hidup seorang perempuan dengan cara yang hebat.

Namun, ketika sistem dukungan di luar keluarga ini tidak tersedia, dia mungkin mengembangkan kecenderungan untuk tertarik pada hubungan yang tidak sehat dari kebutuhan untuk dicintai dan diterima.

depresi

Ketidakhadiran ayah dalam hidup anak perempuan berdampak pada psikologi anak. (Sumber: Pexels/cottonbro)

Perempuan yang tidak mendapatkan sosok ayah menimbulkan perasaan tidak aman yang terus-menerus. Mereka cenderung hidup dengan rasa takut akan penolakan dan pengabaian. Penelitian tersebut juga mengungkapkan aspek penting lainnya.

Didorong dengan tanggung jawab pada usia yang sangat muda, seorang gadis tanpa ayah tumbuh lebih cepat daripada teman-temannya. Dia memperoleh kualitas khusus dari kemandirian, ketekunan, dan kepemimpinan. Dia menjadi orang yang memahami pentingnya kesetiaan, kasih sayang, dan persahabatan di jalur pengembangan hubungan.

Di sisi lain, memikul terlalu banyak beban sejak usia sangat muda dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisiknya. Dia mungkin rewel, stres berlebihan dan menderita depresi berkala. Ini juga dapat membuatnya rentan terhadap penyakit kronis seiring berjalannya waktu.(Avia)

Baca Artikel Asli