MERAHPUTIH.COM - CHRISTINE Hakim menjadi salah satu figur publik yang selalu hadir di sidang pengadilan kasus korupsi Chromebook dan Chrome Device Management 2019-2022 dengan terdakwa Nadiem Makarim. Pada sidang Senin (11/5), Christine Hakim menyampaikan aksinya ini sebagai bentuk solidaritas. Ia yakin Nadiem ialah korban hukum.
"Jadi saya percaya karena melihat latar belakang Nadiem. Memang Nadiem ialah anak muda mempunyai komitmen yang tinggi untuk bangsa dan negara, apalagi untuk dunia pendidikan," katanya saat ditemui di PN Jakarta Pusat, Senin (11/5).
Pemenang Piala Citra itu menilai kapabilitas dan integritas sosok Nadiem tak perlu dipertanyakan. Tugas menteri yang dilimpahkan kepadanya menjadi bukti bahwa Presiden Joko Widodo, yang saat itu menjabat presiden, meyakini Nadiem ialah sosok yang tepat. "Kalau enggak melihat ada potensi itu, eggak mungkin presiden waktu itu melantiknya," kata dia.
Dia menyoroti tugas yang diberikan kepada Nadiem sebagai menteri pendidikan bukan hal yang mudah. Ada puluhan juta nasib anak muda yang dipertaruhkan untuk menuju Indonesia emas 2045. Christine mengungkap ada ironi dalam kasus ini. Ketika gagasan visioner dijalankan anak muda bisa menjadi persoalan di masa depan.
Baca juga:
Duduk di Kursi Terdakwa, Nadiem Makarim Sebut Kasusnya Terjadi karena tak Berpolitik
"Bagaimana kita bisa mencapai Indonesia emas di 2045, kalau kita masih jauh tertinggal dari masalah teknologi. Kecepatan dalam menghadapi informasi, dalam menyesuaikan dengan itu, mengejar mutu pendidikan, enggak mungkin dengan cara-cara yang konvensional seperti selama ini," kata dia.
Christine menyebut ada upaya menjatuhkan Nadiem. Sebelumnya, Nadiem sempat mengucapkan permohonan maaf kepada birokrasi kementerian tempat dia bekerja. Ia beranggappan bahwa permohonan maaf itu untuk sistem kerja birokrasi lawas yang tidak ia patuhi.
Nadiem menyebut contohnya seperti membawa talenta muda, berdedikasi, visioner di luar dari lingkup kementerian dianggap sebagai hal yang salah. Dengan begitu, Christine mengatakan Nadiem sudah di jalan yang benar.
Christine mengatakan Nadiem punya gagasan untuk menciptakan filosofi Belajar Merdeka yang nyata, contohnya digitalisasi itu sendiri. Namun, mungkin, hal tersebut menjadi gangguan bagi entitas tertentu yang terusik kenyamanannya.
"Nah, ini yang menurut saya perombakan yang besar ini pada akhirnya ada sebagian kelompok kecil yang memang terganggu mungkin kenyamanannya. Karena dari ATK diganti ke digital," kata dia.(tka)
Baca juga: