Merahputih.com - Fenomena El Niño berkekuatan sangat tinggi meningkatkan ancaman kekeringan ekstrem secara meluas di beberapa wilayah di Tanah Air.
Perkembangan musim kemarau Dasarian I Agustus mencatat penurunan curah hujan secara drastis pada mayoritas kawasan Indonesia.
Baca juga:
Modifikasi Cuaca Pemadaman Kebakaran Bromo Mulai 14 Agustus? BNPB Tunggu Akurasi Prediksi BMKG
Kondisi atmosfer relatif kering mendominasi wilayah Nusantara, memicu kekhawatiran krisis air bersih serta gangguan sektor pertanian nasional.
Karakteristik cuaca sebagian besar wilayah Indonesia masih menunjukkan kondisi relatif kering akibat minimnya pembentukan awan hujan,
tulis BMKG dalam keterangannya.
Peta Penyebaran Kemarau dan Pemicu Hujan Lokal

Pemutakhiran data iklim nasional menunjukkan ekspansi musim kemarau telah mencengkeram sebagian besar wilayah Indonesia.
Kendati demikian, beberapa daerah tetap mencatatkan curah hujan intensitas sedang berkat bantuan dinamika atmosfer regional.
Berikut perincian data sebaran curah hujan serta kondisi musim kemarau di Indonesia:
-
Cakupan Curah Hujan Rendah: Meliputi 90,79 persen wilayah Indonesia pada Dasarian I Agustus.
-
Kategori Curah Hujan Lain: Kategori menengah mencakup 8,28 persen wilayah, sedangkan kriteria tinggi hanya 0,93 persen wilayah.
-
Sebaran Zona Musim (ZOM): Sebanyak 76,5 persen wilayah atau setara 535 ZOM resmi memasuki musim kemarau.
-
Sifat Hujan Bawah Normal: Mencapai 87,28 persen wilayah, berbanding sifat hujan normal 4,35 persen, atas normal 2,77 persen, dan jauh di atas normal 5,60 persen.
-
Wilayah Hujan Lokal: Kepulauan Nias mencatat curah hujan 44 mm/hari, Sumatera Utara 28 mm/hari, serta Papua Pegunungan 23 mm/hari pada periode 10–13 Agustus.
"Interaksi faktor dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan pola belokan angin mendukung pembentukan awan konvektif secara lokal di tengah kemarau," tambah perwakilan BMKG menguraikan penyebab hujan singkat di kawasan utara.
Dinamika Atmosfer Sepekan dan Proyeksi Kekeringan
Pengaruh fenomena El Niño intensitas sangat kuat berpadu harmonis dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kombinasi ini memangkas pasokan uap air di udara, memicu kekeringan atmosfer berkepanjangan hingga beberapa dasarian mendatang.
Baca juga:
Berikut proyeksi iklim serta dinamika atmosfer Indonesia periode Agustus II hingga September I:
-
Intensitas Pemicu Utama: El Niño intensitas sangat kuat dan tren IOD positif menahan pembentukan awan.
-
Proyeksi Curah Hujan Agustus II – September I: Berada pada kriteria rendah hingga menengah berkisar 0–150 mm/dasarian.
-
Cakupan Wilayah Berpotensi Kering (<50 mm/dasarian): Meliputi Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga Papua.
-
Aktivitas Gelombang Atmosfer: Fenomena MJO dan Gelombang Kelvin terpantau aktif di sebagian besar Sumatera serta Kalimantan bagian utara dan timur.
"Aktivitas MJO dan Gelombang Kelvin berpotensi memicu pembentukan awan hujan pada wilayah dengan dukungan labilitas atmosfer lokal," jelas tim ahli BMKG memprediksi dinamika cuaca sepekan ke depan.