MerahPutih.com - Musim hujan belum segera merata di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 61 persen wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau.
Kondisi tersebut terjadi di tengah pengaruh El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat serta fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kombinasi kedua fenomena tersebut turut membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang di sejumlah daerah.
Bantul Alami 131 Hari Tanpa Hujan
Salah satu gambaran ekstrem terjadi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
BMKG mencatat wilayah tersebut mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan masih menjadi perhatian meski sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki periode peralihan menuju musim hujan.
Baca juga:
BMKG: Musim Hujan 2026/2027 Datang Terlambat di Banyak Wilayah Indonesia
529 ZOM Diprediksi Mengalami Keterlambatan
BMKG sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.
Bahkan, sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami awal musim hujan lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis.
Keterlambatan tersebut juga diikuti durasi musim hujan yang cenderung lebih pendek di sejumlah wilayah.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, Rabu (23/9), meski durasi musim hujan diprediksi lebih singkat, karakteristik musim hujan pada periode 2026/2027 secara umum masih berada dalam kategori normal.
Meski diprediksi lebih singkat, musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia,
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan
Kemarau Masih Perlu Diantisipasi
Sementara itu, kondisi kemarau yang masih berlangsung membuat sejumlah sektor perlu melakukan antisipasi.
Ketersediaan air, aktivitas pertanian, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan selama periode kemarau yang berkepanjangan.
BMKG juga mengingatkan bahwa memasuki musim hujan bukan berarti risiko bencana hidrometeorologi otomatis berakhir. Hujan dengan intensitas tinggi tetap berpotensi memicu banjir dan longsor di wilayah yang rentan.
Baca juga:
Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diminta mempersiapkan diri menghadapi dua kondisi sekaligus, yakni keterbatasan air selama kemarau dan potensi cuaca ekstrem ketika musim hujan mulai datang.
Dengan sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami kemarau, kedatangan musim hujan tahun ini diperkirakan tidak berlangsung serentak.
Masyarakat di sejumlah daerah masih harus menghadapi periode kering lebih lama sebelum hujan mulai turun secara lebih konsisten. (Knu)