MerahPutih.com - Badan Perserikatan Bangsa Bangsa melansir jika Bumi sekarang 1,1°C lebih hangat daripada di akhir tahun 1800-an. Dekade terakhir (2011-2020) adalah rekor terpanas. Konsekuensi dari perubahan iklim saat ini antara lain, kekeringan hebat, kelangkaan air, kebakaran hebat, naiknya permukaan laut, banjir, pencairan es kutub, badai dahsyat dan penurunan keanekaragaman hayati.
Para politisi di Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk mengurangi intensitas sinar matahari (solar dimming) menggunakan teknologi rekayasa iklim berskala besar demi menanggulangi krisis pemanasan global.
Teknologi rekayasa iklim yang dimaksud adalah solar geoengineering atau pengelolaan radiasi surya, demikian laporan Politico pada Rabu (23/9) dengan mengutip dua mantan pejabat pemerintah.
Namun, para aktivis lingkungan menentang keras penggunaan teknologi tersebut karena berisiko merusak lapisan ozon pelindung bumi serta berpotensi mengubah pola cuaca alami di berbagai wilayah.
Baca juga:
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Selain itu, laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa intervensi rekayasa iklim tidak mampu mengatasi akar masalah dari pemanasan global, yakni penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara.
Meskipun demikian, seorang pakar menilai kemungkinan untuk mengurangi intensitas radiasi matahari secara buatan justru menjadi wacana yang semakin relevan saat ini, sejalan dengan meningkatnya investasi yang masuk ke berbagai perusahaan rintisan (startup) yang berfokus pada pengembangan teknologi solar geoengineering. (*)