Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya

Ilustrasi (NASA)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Tahukah kamu bahwa fenomena es kutub mencair kini sudah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan akibat pemanasan global? Faktanya, sekitar 12,5 triliun ton es Greenland dan Antartika telah lenyap tak berbekas sejak era 1970-an, memicu kenaikan permukaan laut yang mengancam jutaan nyawa.

Temuan mengejutkan dari tim ilmuwan internasional ini menjadi bukti kuat bahwa dampak perubahan iklim bukan lagi sekadar teori, melainkan krisis nyata dan butuh penanganan segera.

Baca juga:

Es di Kutub Utara Mencair, Waktu Global akan Berubah Beberapa Detik

Lewat riset berskala raksasa bernama Ice Sheet Mass Balance Inter-comparison Exercise (IMBIE), para peneliti berhasil memetakan keparahan tingkat es kutub mencair dengan sangat presisi.

Catatan satelit terpanjang dalam sejarah ini mengumpulkan bukti pemanasan global dari 42 survei dan 27 misi satelit berbeda dengan rentang waktu dari 1972 hingga 2023.

Dari belasan triliun ton bongkahan es yang raib tersebut, penyumbang kerusakan paling parah ternyata berasal dari runtuhnya lapisan es Greenland dan Antartika.

Dengan menelusuri data kembali ke tahun 1970-an, kita sekarang bisa melihat langsung bagaimana lapisan es ini telah berubah drastis selama setengah abad terakhir,

Inès Otosaka, peneliti utama dari Northumbria University dalam pernyataan resminya.

Ancaman Nyata Kenaikan Permukaan Laut

Data sejarah dari IMBIE ini nggak cuma nunjukin seberapa banyak es yang hilang, tapi juga mencatat adanya lonjakan permukaan air laut global hingga lebih dari 3 sentimeter atau sekitar 1,18 inci selama periode tersebut.

Kenaikan permukaan laut sebesar tiga sentimeter mungkin kedengarannya sepele, tapi itu cukup untuk menempatkan enam hingga sembilan juta orang dalam bahaya banjir pesisir dan erosi,

Andrew Shephard, Kepala Sekolah Geografi dan Ilmu Pengetahuan Alam di Northumbria University sekaligus pendiri IMBIE.

Ia juga menegaskan bahwa dengan potensi pencairan es yang makin gila-gilaan di masa depan, asesmen global seperti IMBIE sangat vital buat melindungi komunitas yang terdampak perubahan iklim.

Bukan Sekadar Meleleh, Ini Dalang Utamanya

Tebak apa yang bikin es ini hilang begitu cepat? Ya benar, perubahan iklim dan bumi yang makin panas.

Menariknya, peneliti menemukan bahwa 84% hilangnya es kutub disebabkan oleh pergerakan gletser yang mengalir jauh lebih cepat ke lautan, sedangkan proses meleleh di permukaan cuma nyumbang porsi 16% saja.

Lebih dari empat perlima es yang hilang itu terbuang ke laut karena gletser yang mengalir makin cepat, bukan karena meleleh di atasnya. Ini ngasih tau kita bahwa tren jangka panjang ini didorong oleh respons dinamis lapisan es terhadap suhu laut yang makin menghangat,

terang Otosaka.

Laju Kehancuran yang Makin Menggila Sejak 1990-an

Kalau kita bedah datanya secara terstruktur, grafik pencairan es ini melonjak tajam mulai era 90-an. Berikut perbandingan mengerikan laju pencairan es dari dekade ke dekade:

  • Lonjakan Es Greenland: Pada dekade 1980-an, Greenland kehilangan sekitar 66 miliar ton es per tahun. Masuk ke era 2010-an, angkanya meroket nyaris lima kali lipat jadi 291 miliar ton per tahun.

  • Krisis Es Antartika: Nasib serupa terjadi di kutub selatan. Dari kehilangan 53 miliar ton per tahun di era 80-an, angkanya melonjak drastis jadi 222 miliar ton per tahun di era 2010-an.

Masa Depan Bumi dan Krusialnya Pantauan Satelit

Melihat tren yang bikin merinding ini, wajar kalau kekhawatiran global makin meningkat. Apalagi, PBB baru-baru ini merilis laporan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, suhu bumi berisiko melampaui batas ambang 1,5 derajat Celcius atau batas aman yang disepakati 200 negara dalam Perjanjian Paris 2015.

Baca juga:

Trump Tolak Rencana Global Kendalikan Kecerdasan Buatan

Riset yang dipublikasikan di jurnal Scientific Data dan didukung oleh NASA serta European Space Agency (ESA) ini membuktikan betapa kuatnya peran teknologi luar angkasa.

Data satelit nggak cuma ngasih kita gambaran realita, tapi juga jadi senjata ilmuwan buat mendesak perubahan kebijakan demi ngerem aktivitas manusia seperti industri dan agrikultur yang merusak bumi.

Satelit ngasih kita bukti valid dari tahun ke tahun di seluruh benua soal apa yang sedang terjadi sekarang. Ini adalah data krusial yang kita butuhin buat memvalidasi model prediksi dan mempersempit ketidakpastian soal masa depan kenaikan permukaan laut,

ungkap Tyler Sutterly, peneliti pendamping dari University of Washington.

Temuan ini nunjukin betapa pentingnya satelit buat mantau lapisan es. Mempertahankan misi seperti CryoSat-2 dan Sentinel, serta menjaga rekaman data iklim jangka panjang, adalah hal yang mutlak diperlukan untuk dekade-dekade mendatang.

Diego Fernández dari ESA juga ikut menambahkan,
#Greenland #Antartika #Pemanasan Global #Dampak Pemanasan Global
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Angga Yudha Pratama

Seorang jurnalis profesional, reporter senior, editor berita, dan asisten redaktur yang telah berkarya di industri media online nasional selama lebih dari satu dekade. Selalu mengedepankan akurasi, objektivitas, dan kualitas informasi dalam setiap karyanya berbekal dari pengalaman langsung bertahun-tahun melakukan peliputan di lapangan, penulisan berita, penyuntingan artikel, hingga pengelolaan konten digital. Keahlian tersebut membuat pemahaman secara menyeluruh proses produksi konten digital modern, mulai dari pencarian data, wawancara narasumber, verifikasi fakta, penulisan artikel, optimasi SEO, editing naskah, hingga publikasi berita sesuai kode etik jurnalistik. Lebih spesifik, pemahaman mengenai strategi optimasi SEO dan Digital Content untuk mesin pencari juga menjadi fokus saat ini di tengah disrupsi media. Keahlian itu meliputi SEO writing, content writing, copywriting, keyword research, semantic SEO, search intent, on page SEO, optimasi, artikel google, struktur heading SEO, evergreen content, optimasi readability, meta description hingga internal linking.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan permafrost serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Dunia
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Sebanyak 12,5 triliun ton es kutub mencair sejak 1970-an akibat pemanasan global. Simak data satelit terbaru dan dampak mengerikan kenaikan permukaan laut di sini
Angga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Indonesia
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Para aktivis lingkungan menentang keras penggunaan teknologi tersebut karena berisiko merusak lapisan ozon pelindung bumi
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Dunia
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Terjadi persis seperti yang telah diperkirakan para ilmuwan sejak puluhan tahun lalu.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Indonesia
Lama Ditinggalkan, AS Akan Kembali Tempatkan Pasukan di Pangkalan Militer Greenland
Negosiasi tersebut mencakup lokasi yang pernah digunakan sebagai pangkalan AS selama Perang Dunia II dan Perang Dingin,
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 April 2026
Lama Ditinggalkan, AS Akan Kembali Tempatkan Pasukan di Pangkalan Militer Greenland
Dunia
Pasal 5 NATO Bisa Jadi Penyelemat Greenland dari Obsesi Donald Trump
Pasal 5 menyatakan serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi NATO.
Wisnu Cipto - Selasa, 27 Januari 2026
Pasal 5 NATO Bisa Jadi Penyelemat Greenland dari Obsesi Donald Trump
Indonesia
Isu Akuisisi Greenland oleh AS, Menlu: Indonesia Tegaskan Posisi Non-Align
Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan Indonesia berada pada posisi non-align dan tidak berpihak dalam isu AS yang dikabarkan akan mengakuisisi Greenland.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 24 Januari 2026
Isu Akuisisi Greenland oleh AS, Menlu: Indonesia Tegaskan Posisi Non-Align
Dunia
PBB Tegaskan Status Greenland Milik Kerajaan Denmark
Hak dan kesejahteraan seluruh warga Greenland selalu terjamin selama berada di bawah Kerajaan Denmark.
Wisnu Cipto - Kamis, 22 Januari 2026
PBB Tegaskan Status Greenland Milik Kerajaan Denmark
Dunia
NATO Hentikan Pasokan Info Intelijen ke AS Imbas Trump Ngotot Ambil Kendali Greenland
Kementerian Luar Negeri China meminta agar Presiden Amerika Serikat Donald Trump berhenti untuk menjadikan China sebagai alasan untuk mengakusisi Greenland.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 20 Januari 2026
NATO Hentikan Pasokan Info Intelijen ke AS Imbas Trump Ngotot Ambil Kendali Greenland
Bagikan