Sains

Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah

Ilustrasi Penguin. (Foto: Unsplash/Jay Ruzesky)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — PERUBAHAN iklim mendorong dua spesies ikonis Antartika menuju ambang kepunahan. Penelitian terbaru menyabut penguin kaisar dan anjing laut berbulu Antartika ganti status jadi terancam punah. Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN). Mereka menyebut faktor-faktor seperti pemanasan suhu laut, mencairnya es laut, serta penurunan ketersediaan makanan sebagai penyebab utama yang mengancam kelangsungan hidup spesies tersebut.

Daftar Merah IUCN yang mencatat spesies berisiko punah merupakan sensus otoritatif mengenai spesies yang paling terancam, beserta penyebab penurunannya. Daftar ini terpisah dari klasifikasi dalam Undang-Undang Spesies Terancam Punah Amerika Serikat (US Endangered Species Act/ESA). Undang-undang tersebut, pada 2022, menetapkan penguin kaisar sebagai spesies berstatus terancam. Sementara itu, anjing laut berbulu Antartika saat itu belum masuk daftar ESA.

Kedua spesies tersebut tergolong megafauna karismatik. Penguin kaisar merupakan spesies penguin terbesar dengan tingginya mencapai lebih daripada 90 cm dan berat sekitar 45 kilogram. Burung ini, bersama anak-anaknya yang besar dan berbulu tebal, tampil menonjol dalam film dokumenter klasik March of the Penguins.

Sebaliknya, anjing laut berbulu merupakan spesies anjing laut Antartika yang paling kecil dan hidup terutama di pulau-pulau sub-Antartika. Hewan ini hampir diburu hingga punah pada abad ke-19, tapi intervensi hukum dan proyek konservasi sempat memulihkan populasinya. Kini mereka kembali menghadapi ancaman.

Seperti dilansir CNN, status penguin kaisar dalam Daftar Merah IUCN kini berubah dari ‘hampir terancam’ menjadi ‘terancam punah’. Statu itu berdasarkan proyeksi baru yang menunjukkan populasinya bisa menyusut hingga setengahnya pada 2080-an. Data satelit menunjukkan pada 2009 hingga 2018, penguin kaisar kehilangan sekitar 10 persen populasinya, atau lebih daripada 20 ribu individu dewasa. Anggota kelompok kerja IUCN yang menyusun penilaian tersebut Philip Trathan menyebut faktor utama yang mendorong penurunan populasi yakni perubahan iklim yang menyebabkan pecahnya es laut lebih awal serta hilangnya es laut.

Baca juga:

Sudah Berstatus Terancam Punah, Populasi Penguin Afrika Kian Terpuruk Imbas Kelangkaan Sarden



“Bagi penguin kaisar, es laut merupakan habitat utama mereka. Mereka berkembang biak di es laut yang menempel pada garis pantai. Mereka juga berganti bulu di bongkahan es yang mengapung. Mereka mencari makan di dalam es laut, di area polinya, celah, dan retakan es,” kata Trathan, dikutip CNN.

Menurutnya, ketika es laut berkurang, habitat mereka juga ikut berkurang. Hilangnya es laut dalam skala besar akibat perubahan iklim regional merupakan ancaman yang terus berlangsung dan mungkin akan mengurangi keberhasilan berkembang biak serta kelangsungan hidup penguin dewasa dalam jangka panjang.

Ia menambahkan es laut musiman di Antartika telah menurun secara signifikan sejak 2016. Hal itu menyebabkan kegagalan berkembang biak yang meningkat, bahkan total, pada hampir setengah koloni penguin kaisar yang diketahui di seluruh Antartika. Trathan mengatakan ada dua jenis bukti yang mendukung perubahan status penguin kaisar, yakni analisis citra satelit yang didukung pengamatan langsung di lapangan serta pemodelan populasi.

Sementara itu, status anjing laut berbulu Antartika juga berubah dari ‘risiko rendah’ menjadi ‘terancam punah’ dalam Daftar Merah IUCN setelah populasinya menyusut lebih dari 50 persen pada 1999 hingga 2025. Penurunan populasi anjing laut ini juga terkait dengan perubahan iklim, yang mengurangi ketersediaan krill, sumber makanan utama mereka.

Kit Kovacs, yang terlibat dalam penilaian anjing laut berbulu Antartika, mengatakan kenaikan suhu permukaan laut di sekitar Antartika membuat krill bergerak lebih jauh ke lepas pantai dan ke perairan yang lebih dalam untuk mencari suhu yang lebih dingin.

“Hal ini membuat krill jauh lebih sulit dijangkau oleh predator krill yang hidup di daratan,” kata Kovacs.

Ia menyebut perubahan terbaru di Samudra Atlantik Selatan ini mencerminkan kondisi yang sebelumnya terjadi di kawasan Arktik Atlantik Utara, tempat anjing laut hooded, harp, dan ringed telah terbukti mengalami penurunan populasi yang serius.(dwi)

Baca juga:

Penguin Kaisar Muncul di Pantai Australia, Merantau dari Antartika

#Anjing Laut #Sains #Penguin #Pemanasan Global
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn
suhu panas ekstrem yang terjadi selama kehamilan makin terikat dengan kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat rendah, serta komplikasi maternal pada ibu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
  Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Dunia
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Pemanasan global menyebabkan bagian depan gletser, yang dikenal sebagai gletser outlet, mengalami penyusutan
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Dunia
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan permafrost serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Dunia
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Sebanyak 12,5 triliun ton es kutub mencair sejak 1970-an akibat pemanasan global. Simak data satelit terbaru dan dampak mengerikan kenaikan permukaan laut di sini
Angga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Indonesia
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Para aktivis lingkungan menentang keras penggunaan teknologi tersebut karena berisiko merusak lapisan ozon pelindung bumi
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Dunia
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Terjadi persis seperti yang telah diperkirakan para ilmuwan sejak puluhan tahun lalu.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Bagikan