MERAHPUTIH.COM — SEEKOR possum kecil dengan satu jari yang sangat panjang di setiap tangan menjadi salah satu dari dua spesies yang sebelumnya diduga telah punah, tapi kini ditemukan kembali di Papua Barat. Spesies ini menjadi sebuah penemuan ilmiah nan luar biasa.
Spesies lainnya mencakup glider berekor cincin yang memiliki ekor yang dapat mencengkeram cabang pohon. Keduanya ditemukan hidup di hutan hujan terpencil. Sebelumnya keduanya spesies ini diyakini telah menghilang sekitar 6.000 tahun lalu.
“Menemukan kembali spesies yang telah lama hilang merupakan hal yang jarang terjadi, tetapi menemukan dua sekaligus merupakan sesuatu yang menakjubkan,” kata para ilmuwan yang memublikasikan temuan mereka di jurnal Records of the Australian Museum, Jumat (6/3), dikutip BBC.
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian. “Penemuan satu lazarus taxon saja sudah merupakan penemuan yang luar biasa,” kata Tim Flannery, ilmuwan terkemuka Australia yang dikenal lewat bukunya, The Weather Makers, yang membahas perubahan iklim.
Spesies pertama yang ditemukan kembali yakni pygmy long-fingered possum, marsupial bergaris dengan berat sekitar 200 gram yang diperkirakan menghilang dari Australia pada zaman es. Ciri khasnya yakni pada setiap tangan, jari keempat possum ini dua kali lebih panjang ketimbang jari lainnya. Para ilmuwan mengatakan jari tersebut membantu hewan ini menggali larva serangga pengebor kayu yang menjadi sumber makanan utama mereka.
Baca juga:
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Spesies kedua yakni ring-tailed glider. Sama seperti kerabatnya di Australia, greater glider, hewan ini hidup di lubang-lubang pada pohon tinggi.
Penemuan tersebut dilakukan dengan menyusun berbagai potongan puzzle, ketika para ilmuwan meneliti fosil-fosil lama, foto langka, serta spesimen lama selama beberapa dekade untuk mengumpulkan petunjuk sebelum melakukan ekspedisi ke lokasi terpencil di New Guinea.
Flannery, bersama penulis lain makalah tersebut, Kris Helgen, dan para peneliti dari Universitas Papua, juga berbicara dengan para tetua lokal dari klan Tambrauw dan Maybrat. Disebutkan, sebagian di antara mereka baru berhubungan dengan dunia modern sejak 1960-an. Menurut Rika Korain, seorang perempuan Maybrat sekaligus penulis bersama penelitian tersebut, identifikasi spesies tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan masyarakat setempat.
“Mereka ialah masyarakat yang sangat tradisional,” kata Flannery. Ia menambahkan bahwa glider tersebut dianggap begitu suci sehingga mereka bukan hanya tidak memburunya, melainkan juga tidak menyebut namanya.
Sayangnya, habitat glider itu semakin terancam oleh aktivitas penebangan hutan di wilayah tersebut. Hal ini mendorong para ilmuwan dan kelompok konservasi satwa liar untuk berupaya mengamankan hak kepemilikan adat atas hutan tersebut sehingga penebangan tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan masyarakat lokal.(dwi)
Baca juga:
Sudah Berstatus Terancam Punah, Populasi Penguin Afrika Kian Terpuruk Imbas Kelangkaan Sarden

