Sains

Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat

Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat.(foto: Arman Muharmansyah)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — SEEKOR possum kecil dengan satu jari yang sangat panjang di setiap tangan menjadi salah satu dari dua spesies yang sebelumnya diduga telah punah, tapi kini ditemukan kembali di Papua Barat. Spesies ini menjadi sebuah penemuan ilmiah nan luar biasa.

Spesies lainnya mencakup glider berekor cincin yang memiliki ekor yang dapat mencengkeram cabang pohon. Keduanya ditemukan hidup di hutan hujan terpencil. Sebelumnya keduanya spesies ini diyakini telah menghilang sekitar 6.000 tahun lalu.

“Menemukan kembali spesies yang telah lama hilang merupakan hal yang jarang terjadi, tetapi menemukan dua sekaligus merupakan sesuatu yang menakjubkan,” kata para ilmuwan yang memublikasikan temuan mereka di jurnal Records of the Australian Museum, Jumat (6/3), dikutip BBC.

Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian. “Penemuan satu lazarus taxon saja sudah merupakan penemuan yang luar biasa,” kata Tim Flannery, ilmuwan terkemuka Australia yang dikenal lewat bukunya, The Weather Makers, yang membahas perubahan iklim.

Spesies pertama yang ditemukan kembali yakni pygmy long-fingered possum, marsupial bergaris dengan berat sekitar 200 gram yang diperkirakan menghilang dari Australia pada zaman es. Ciri khasnya yakni pada setiap tangan, jari keempat possum ini dua kali lebih panjang ketimbang jari lainnya. Para ilmuwan mengatakan jari tersebut membantu hewan ini menggali larva serangga pengebor kayu yang menjadi sumber makanan utama mereka.

Baca juga:

Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun



Spesies kedua yakni ring-tailed glider. Sama seperti kerabatnya di Australia, greater glider, hewan ini hidup di lubang-lubang pada pohon tinggi.

Penemuan tersebut dilakukan dengan menyusun berbagai potongan puzzle, ketika para ilmuwan meneliti fosil-fosil lama, foto langka, serta spesimen lama selama beberapa dekade untuk mengumpulkan petunjuk sebelum melakukan ekspedisi ke lokasi terpencil di New Guinea.

Flannery, bersama penulis lain makalah tersebut, Kris Helgen, dan para peneliti dari Universitas Papua, juga berbicara dengan para tetua lokal dari klan Tambrauw dan Maybrat. Disebutkan, sebagian di antara mereka baru berhubungan dengan dunia modern sejak 1960-an. Menurut Rika Korain, seorang perempuan Maybrat sekaligus penulis bersama penelitian tersebut, identifikasi spesies tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan masyarakat setempat.

“Mereka ialah masyarakat yang sangat tradisional,” kata Flannery. Ia menambahkan bahwa glider tersebut dianggap begitu suci sehingga mereka bukan hanya tidak memburunya, melainkan juga tidak menyebut namanya.

Sayangnya, habitat glider itu semakin terancam oleh aktivitas penebangan hutan di wilayah tersebut. Hal ini mendorong para ilmuwan dan kelompok konservasi satwa liar untuk berupaya mengamankan hak kepemilikan adat atas hutan tersebut sehingga penebangan tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan masyarakat lokal.(dwi)

Baca juga:

Sudah Berstatus Terancam Punah, Populasi Penguin Afrika Kian Terpuruk Imbas Kelangkaan Sarden

#Hewan Langka #Sains #Lingkungan Hidup Dan Kehutanan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
PT Amerta Jiwa Indonesia Tanam 1.500 Bibit Pohon di Gunung Pangrango, Wujudkan Misi Pelestarian Alam
PT Amerta Jiwa Indonesia mewujudkan misi pelestarian dengan menanam 1.500 bibit pohon di Gunung Gede Pangrango.
Dwi Astarini - Rabu, 19 Agustus 2026
PT Amerta Jiwa Indonesia Tanam 1.500 Bibit Pohon di Gunung Pangrango, Wujudkan Misi Pelestarian Alam
Indonesia
Orang Utan Koleksi Solo Safari Lepas, Langsung Dicek Kesehatan Begitu Tertangkap
Proses penanganan dilakukan secara terukur dengan mengutamakan keselamatan masyarakat dan satwa, sesuai prosedur yang berlaku.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 18 Agustus 2026
Orang Utan Koleksi Solo Safari Lepas, Langsung Dicek Kesehatan Begitu Tertangkap
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
RUU Kehutanan, Fraksi PKB Minta Pengelolaan Hutan Didasarkan Pasal 33 UUD
Pengelolaan kawasan hutan harus sepenuhnya berpedoman pada amanat Pasal 33 UUD 1945 untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dwi Astarini - Selasa, 21 Juli 2026
RUU Kehutanan, Fraksi PKB Minta Pengelolaan Hutan Didasarkan Pasal 33 UUD
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Indonesia
Tak Semua Orang Bisa Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Kali Ciliwung, Arief Kamarudin Ingatkan Bahayanya
Aktivis lingkungan, Arief Kamarudin mengatakan ia tidak pernah menganjurkan masyarakat untuk langsung turun tangan menangkap ikan sapu-sapu di perairan.
Dwi Astarini - Jumat, 24 April 2026
Tak Semua Orang Bisa Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Kali Ciliwung, Arief Kamarudin Ingatkan Bahayanya
Lifestyle
Arief Kamarudin Kisahkan Kali Ciliwung, Sungai yang Menghidupi kini Penuh Sampah, Limbah, dan Invasi Ikan Sapu-Sapu
Arief bukanlah pengamat. Ia saksi hidup yang tumbuh bersama Ciliwung.
Dwi Astarini - Jumat, 24 April 2026
Arief Kamarudin Kisahkan Kali Ciliwung, Sungai yang Menghidupi kini Penuh Sampah, Limbah, dan Invasi Ikan Sapu-Sapu
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bagikan