Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis

Banjir Bandang Terjang Nepal.(foto: Instagram @trendand.truth)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — BANJIR dahsyat yang melanda Nepal pada akhir Agustus lalu bukan sekadar tragedi lokal, tapi sebuah peringatan bagi dunia. Hal itu diungkap Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (24/9).

Shah mengatakan pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan lapisan tanah beku (permafrost) serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.

Ia mendesak komunitas internasional untuk membantu menanggung biaya adaptasi terhadap perubahan iklim, karena Nepal tidak dapat membangun ketahanan sendirian dalam menghadapi krisis yang diperparah oleh kegagalan tata kelola global.

Banjir bandang menerjang kawasan perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus 2026. Material es, batu, lumpur, dan puing dalam jumlah besar bergerak dari kawasan pegunungan dan menerjang wilayah di bawahnya. Disebutkan, korban meninggal 1.225 orang. Sebanyak 4.757 orang masih dinyatakan hilang sampai hari ini.

Selain korban jiwa, banjir bandang juga menyapu permukiman, jalan, lahan pertanian, serta berbagai infrastruktur yang berada di sepanjang jalur alirannya.

Baca juga:

Ancaman Kesehatan Sampai Risiko Banjir Susulan masih Membayangi Nepal



Ancaman Kesehatan di Balik Pencairan Gletser






Selain ancaman banjir, pencairan gletser juga membawa persoalan lain yang tidak selalu terlihat. Peneliti menyebut lapisan bawah gletser yang dikenal sebagai moraine dan cryoconite pernah disebut sebagai sumber penting penyebaran mikroorganisme dari kawasan gletser menuju lingkungan di bawahnya.

Mikroorganisme yang keluar dari moraine dan cryoconite berpotensi berpindah melalui air lelehan maupun udara.

Itulah mengapa mereka disebut sebagai potensial pantogen, tapi tak otomatis menyebabkan penyakit pada manusia.

Di lain sisi, glestser yang mencair bisa membawa kontaminan, gen resistansi antibiotik, serta bakteri yang berpotensi patogen menuju aliran sungai.



Risiko kesehatan dapat semakin besar ketika air banjir bercampur dengan limbah, kotoran, maupun material lain dan kemudian mencemari sumber air bersih. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan air dan sanitasi, seperti diare, kolera, hingga tifus.

Baca juga:

Seorang Perempuan Selamat Setelah 10 Hari Tertimbun di Bawah Reruntuhan Lonsor Nepal


Krisis Pangan Mengintai






Dampak bencana juga dapat menjalar ke sektor pangan. Banjir yang merusak lahan pertanian berpotensi mengganggu hasil panen dan pasokan makanan masyarakat.

Jika berlangsung dalam waktu lama, berkurangnya pasokan pangan dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi. Kondisi tersebut membuat masyarakat, terutama kelompok rentan, semakin mudah terserang penyakit.



Di saat yang sama, fasilitas kesehatan harus menghadapi tekanan tambahan. Rumah sakit dan layanan medis di wilayah terdampak berpotensi kewalahan menangani korban bencana sekaligus kebutuhan kesehatan masyarakat yang meningkat.


Himalaya Bukan Satu-satunya




Persoalan pencairan gletser tidak hanya mengancam Nepal. Wilayah lain yang memiliki gletser, mulai dari Norwegia, Selandia Baru, Islandia hingga Cile, juga menghadapi risiko serupa akibat pemanasan global dan pencairan es yang semakin cepat.

Ahli gletser Universitas Kathmandu, Nepal, sekaligus Penjelajah National Geographic, Mohan Bahadur Chand, mengatakan seluruh wilayah yang tertutup gletser rentan terhadap dampak pemanasan yang cepat dan pencairan yang semakin meningkat.(dwi)

Baca juga:

Nepal Tetapkan Hari Berkabung Nasional setelah Banjir Mematikan

#Nepal #Pemanasan Global #PBB
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan permafrost serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Indonesia
Di New York, Menlu Sugiono Galang Dukungan Indonesia untuk DK PBB 2029-2030
Menlu Sugiono memanfaatkan rangkaian Sidang Umum PBB di New York untuk menggalang dukungan bagi pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB 2029-2030.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 25 September 2026
Di New York, Menlu Sugiono Galang Dukungan Indonesia untuk DK PBB 2029-2030
Dunia
Indonesia Ikut Aksi Walk Out Saat Benjamin Netanyahu Pidato di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB
Merespons jumlah delegasi yang walk out, Netanyahu justru berseloroh mempersilakan mereka keluar sebelum dia berpidato.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
Indonesia Ikut Aksi Walk Out Saat  Benjamin Netanyahu Pidato di  Sidang ke-81 Majelis Umum PBB
Dunia
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Sebanyak 12,5 triliun ton es kutub mencair sejak 1970-an akibat pemanasan global. Simak data satelit terbaru dan dampak mengerikan kenaikan permukaan laut di sini
Angga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Indonesia
Indonesia Bawa Isu Ketahanan Global dan Palestina ke Sidang Umum PBB ke-81
Menlu Sugiono akan menyampaikan National Statement Indonesia di Sidang Umum PBB ke-81, membawa isu Palestina, multilateralisme hingga Global South.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 24 September 2026
Indonesia Bawa Isu Ketahanan Global dan Palestina ke Sidang Umum PBB ke-81
Indonesia
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Para aktivis lingkungan menentang keras penggunaan teknologi tersebut karena berisiko merusak lapisan ozon pelindung bumi
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Dunia
2 Kali Visa Presiden Mahmoud Abbas ke Sidang PBB Ditolak AS, Isu Palestina Tetap Jadi Bahasan
Debat umum PBB dijadwalkan berlangsung pada 22-26 September dan 28 September.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
2 Kali Visa Presiden Mahmoud Abbas ke Sidang PBB Ditolak AS, Isu Palestina Tetap Jadi Bahasan
Indonesia
PAM Jaya Paparkan Pengelolaan Air Jakarta di New York, Incar Target 100 Persen pada 2029
PAM Jaya mewakili Indonesia di New York, Amerika Serikat. PAM Jaya menargetkan pengelolaan air Jakarta selesai 2029.
Soffi Amira - Rabu, 23 September 2026
PAM Jaya Paparkan Pengelolaan Air Jakarta di New York, Incar Target 100 Persen pada 2029
Indonesia
Risiko Pembersihan Etnis Makin Menguat di Tepi Barat Palestina
Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan tindakan sementara yang mengikat secara hukum dalam perkara terkait penerapan Konvensi Genosida di Jalur Gaza.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Risiko Pembersihan Etnis Makin Menguat di Tepi Barat Palestina
Dunia
Dunia Lebih Besar dari 5 Negara, Presiden Erdogan Usul Hak Veto PBB Dihapus
Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan serukan penghapusan hak veto dan keanggotaan tetap DK PBB demi tatanan dunia yang lebih adil. Simak usulan lengkapnya!
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Dunia Lebih Besar dari 5 Negara, Presiden Erdogan Usul Hak Veto PBB Dihapus
Bagikan