Jumlah Narapidana di Prancis Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Penjara Makin Sesak

Yusuf AbdillahYusuf Abdillah - Selasa, 03 November 2026
Jumlah Narapidana di Prancis Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Penjara Makin Sesak

Ilustrasi penjara di Prancis. (The Guardian)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Jumlah narapidana di Prancis mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan hampir 91.000 orang. Kondisi tersebut memperparah persoalan kepadatan lembaga pemasyarakatan di negara itu, yang kapasitasnya jauh di bawah jumlah penghuni.

Berdasarkan data Kementerian Kehakiman Prancis, jumlah narapidana terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pada September 2026, angka tersebut untuk pertama kalinya menembus 90.000 orang.

Baca juga:

Prancis Bakal Terapkan Aturan Peserta Aksi Bayar Kerusakan, Denda Rp 200 Juta Per Orang

Hingga 1 Oktober 2026, tercatat sebanyak 90.937 narapidana menghuni berbagai lembaga pemasyarakatan di Prancis. Padahal, kapasitas penjara di negara tersebut hanya sekitar 63.400 orang.

9.000 Napi Tidur di Lantai

Artinya, jumlah penghuni telah melampaui kapasitas resmi hingga lebih dari 27.000 orang. Situasi ini membuat kondisi penjara semakin memprihatinkan.

Kementerian Kehakiman Prancis menyebut hampir 9.000 narapidana terpaksa tidur di atas kasur yang digelar langsung di lantai akibat keterbatasan ruang.

Baca juga:

Barang-Barang Jarahan Kerusuhan Prancis Bermunculan di Vinted

PBB Soroti Kepadatan Penjara di Prancis

Kondisi tersebut turut mendapat perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi internasional itu mendesak pemerintah Prancis segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kepadatan penjara.

PBB menilai kondisi tersebut berisiko memicu perlakuan yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat para narapidana.

Sorotan serupa juga disampaikan Dewan Eropa. Lembaga tersebut menyebut Prancis dan Turki sebagai dua negara anggota yang memiliki tingkat kepadatan lembaga pemasyarakatan paling parah.

Baca juga:

Pemerintah Prancis Akui Gagal Tangani Kerusuhan, akan Kerahkan Pasukan Militer untuk Pengamanan

Prancis Pernah Dinyatakan Melanggar Konvensi HAM

Persoalan kepadatan penjara di Prancis sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun dan berulang kali mendapat kritik dari lembaga internasional.

Pada Juli 2023, Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) memutuskan bahwa Prancis telah melanggar sejumlah ketentuan dalam Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Putusan tersebut berkaitan dengan kondisi penjara yang terlalu padat serta tidak adanya langkah konkret dan terarah untuk memperbaiki situasi tersebut.

#Prancis #Lembaga Pemasyarakatan #PBB
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Jumlah Narapidana di Prancis Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Penjara Makin Sesak
Jumlah narapidana di Prancis mencapai 90.937 orang, jauh melampaui kapasitas penjara. Hampir 9.000 orang terpaksa tidur di atas kasur lantai.
Yusuf Abdillah - Selasa, 03 November 2026
Jumlah Narapidana di Prancis Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Penjara Makin Sesak
Dunia
Kuba Mengadu ke PBB: 2,6 Juta Rakyatnya Susah Minum Gara-Gara Trump
Kuba mengadu ke PBB usai 2,6 juta rakyatnya kesulitan air minum akibat krisis listrik dan blokade ekonomi Amerika Serikat. Simak laporan resminya!
Wisnu Cipto - Kamis, 29 Oktober 2026
Kuba Mengadu ke PBB: 2,6 Juta Rakyatnya Susah Minum Gara-Gara Trump
Indonesia
Prancis Bakal Terapkan Aturan Peserta Aksi Bayar Kerusakan, Denda Rp 200 Juta Per Orang
RUU itu bertujuan mengatur "ganti rugi atas kerusakan akibat kekerasan atau perusakan yang dilakukan di ruang publik serta pemulihan kerugian."
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 28 Oktober 2026
Prancis Bakal Terapkan Aturan Peserta Aksi Bayar Kerusakan, Denda Rp 200 Juta Per Orang
Dunia
Kunjungi Timur Tengah, Macron Desak Israel Tarik Pasukan dari Wilayah Palestina
Seruan itu disampaikan dalam pernyataan bersama yang diikeluarkan Kementerian Luar Negeri Qatar seusai Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Doha, Rabu (21/10).
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 22 Oktober 2026
Kunjungi Timur Tengah, Macron Desak Israel Tarik Pasukan dari Wilayah Palestina
Dunia
Barang-Barang Jarahan Kerusuhan Prancis Bermunculan di Vinted
Vinted, yang didirikan di Lituania pada 2008, telah berkembang menjadi salah satu pasar barang bekas terbesar di Eropa.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Barang-Barang Jarahan Kerusuhan Prancis Bermunculan di Vinted
Dunia
Pemerintah Prancis Akui Gagal Tangani Kerusuhan, akan Kerahkan Pasukan Militer untuk Pengamanan
Pihak militer akan diterjunkan mendampingi aparat kepolisian.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
 Pemerintah Prancis Akui Gagal Tangani Kerusuhan, akan Kerahkan Pasukan Militer untuk Pengamanan
Dunia
Cegah Kerusuhan Lanjutan, Polisi Paris Terapkan Jam Malam di 2 Wilayah
Jam malam akan berlaku mulai Senin pukul 23.00 hingga Selasa pukul 06.00. Selain itu, kerumunan dan demonstrasi juga dilarang mulai pukul 20.00.
Dwi Astarini - Selasa, 20 Oktober 2026
Cegah Kerusuhan Lanjutan, Polisi Paris Terapkan Jam Malam di 2 Wilayah
Indonesia
PBB Ingatkan Janji Negara Maju Bantu Negara Berkembang Rp 300 Miliar Buat Program Transisi Energi
Mineral kritis yang menjadi komoditas kunci dalam transisi energi harus membawa timbal balik yang bermanfaat bagi negara berkembang pemiliknya.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 20 Oktober 2026
PBB Ingatkan Janji Negara Maju Bantu Negara Berkembang Rp 300 Miliar Buat Program Transisi Energi
Dunia
Kerusuhan Prancis, PM Sebastien Lecornu Tegaskan Penjarah Harus Ganti Rugi
Sebagian besar pemilik toko telah kehilangan seluruh harta benda mereka.
Dwi Astarini - Senin, 19 Oktober 2026
Kerusuhan Prancis, PM Sebastien Lecornu Tegaskan Penjarah Harus Ganti Rugi
Dunia
Dari Perancis ke Albania, Gerakan Protes Satu Suara 'Tuntut Pendidikan dan Tekan Biaya Hidup'
Mereka juga menuntut adanya perbaikan fasilitas pendidikan yang layak serta perbaikan sistem penerimaan mahasiswa perkuliahan yang selama ini tidak transparan.
Dwi Astarini - Senin, 19 Oktober 2026
Dari Perancis ke Albania, Gerakan Protes Satu Suara 'Tuntut Pendidikan dan Tekan Biaya Hidup'
Bagikan