MERAHPUTIH.COM - GELOMBANG demonstrasi besar di Prancis terus menjalar hingga ke beberapa wilayah Eropa lainnya. Aksi menyebar sampai ke Spanyol hingga Portugal. Gerakan mereka menuntut hal yang sama yakni biaya sekolah dan penurunan biaya hidup.
Saat tahun ajaran baru dimulai di akhir September 2026, sekelompok anak muda duduk di bangku menengah di Perancis mulai turun ke jalan. Mereka berkelompok menyuarakan agar pemerintah menjawab kebutuhan pelajar yang selama ini mengalami kekurangan guru.
Mereka juga menuntut adanya perbaikan fasilitas pendidikan yang layak serta perbaikan sistem penerimaan mahasiswa perkuliahan yang selama ini tidak transparan.
Setali tiga uang, mahasiswa juga menyuarakan tuntutan mereka. Kelompok pelajar kelas menengah akhirnya bergabung ke gerakan tersebut, bersatu menyuarakan keresahan bersama dengan memprotes pemerintahan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Baca juga:
Unjuk Rasa Pelajar Prancis Tuntut Sekolah Layak, Pemerintah Berjanji Bertindak
Selain pendidikan, massa aksi turut menyuarakan hentikan genosida Palestina, tekan lonjakan biaya hidup, juga penaikan harga bahan bakar akibat konflik Amerika-Iran menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Pada periode awal, aksi protes berjalan kondusif, tapi hal tersebut tak memberikan jawaban atas persoalan yang dituntut. Aksi turun ke jalan tersebut berlanjut di Oktober.
Pada 6 Oktober 2026, di sosial media terlihat insiden kaos konflik antara polisi dan massa aksi. Wali Kota Saint-Denis Bally Bagayoko terlibat dalam ketegangan tersebut. Dari video yang viral, Bagayoko berdiri berusahan meredam konflik. Namun, aksinya itu membuatnya terkena gas air mata yang ditembakkan aparat.
Gerakan protes di Portugal
Gerakan aksi juga hadir di Portugal. Massa aksi menyuarakan tingginya tekanan hidup membuat mereka mengalami krisis mendapatkan rumah, biaya sewa pun turut naik. Massa aksi menuntut hentikan penggusuran dan larangan investor untuk membeli properti.
Persoalan krisis properti ini pun terjadi Portugal. Massa aksi menuntut pemerintah mengatasi krisis rumah di negaranya. Saat ini Portugas mengalami kenaikan harga rumah sampai 124 persen. Sebuah peningkatan signifikan di bidang properti selama 10 tahun terakhir di antara negeri Uni Eropa.
Gerakan aksi pun terjadi di Albania. Massa aksi menyampaikan kerisauan mereka tentang krisis lapangan pekerjaan, korupsi, dan kualitas pendidikan yang buruk.(Tka)
Baca juga:
Macron Tetap Terbang ke Negara Teluk di Tengah Kerusuhan Prancis, Harga BBM Jadi Sorotan