Nepal Hentikan Pencarian Ribuan Korban Banjir, Fokus pada Rehabiitasi

Dwi AstariniDwi Astarini - 2 jam, 28 menit lalu
Nepal Hentikan Pencarian Ribuan Korban Banjir, Fokus pada Rehabiitasi

Banjir Bandang Terjang Nepal.(foto: Instagram @trendand.truth)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — PEMERINTAH Nepal resmi menghentikan pencarian korban banjir bandang, pekan ini. Keluarga dari ribuan orang yang masih hilang, beberapa minggu setelah banjir bandang melanda negara tersebut, mengungkapkan perasaan yang bercampur aduk.

Kantor Perdana Menteri Balendra Shah pada Senin (5/10) memutuskan operasi pencarian dan penyelamatan korban banjir pada 26 Agustus resmi dihentikan. Alih-alih melanjutkan pencarian, pihak berwenang akan berkonsentrasi pada rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk memulihkan jalan dan jembatan yang terputus akibat banjir, terutama di daerah terpencil tempat infrastruktur yang rusak menyulitkan penyaluran bantuan.

Sejauh ini, tim penyelamat telah menemukan setidaknya 1.455 jenazah, tetapi 5.285 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan warga negara asing.

Harapan untuk menemukan korban selamat sempat bangkit kembali setelah dua pekerja asal Nepal diselamatkan dari terowongan bawah tanah di proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Trishuli pada 4 September. Dua hari kemudian, tim penyelamat menemukan seorang pria berkebangsaan China di lokasi yang sama.

Baca juga:

Longsor masih Mengintai Nepal, para Pendaki Dievakuasi dengan Helikopter


Disambut Protes




Keluarga korban telah menggelar aksi protes dan doa bersama di Nepal, mendesak agar upaya pencarian ditingkatkan.

“Saya sangat marah kepada pemerintah karena menyerah pada upaya pencarian dan penyelamatan padahal ribuan orang masih hilang. Saya tidak paham bagaimana mereka bisa melakukan itu saat kami masih memiliki harapan bahwa orang yang kami cintai bisa ditemukan,” ujar Usha Khatri, dikutip The Korea Times. Ia telah menghabiskan waktu berhari-hari mencari suaminya di beberapa kota yang dilalui aliran sungai tempat jenazah-jenazah ditemukan.

Selama pencarian yang masih berlangsung, ia terus memeriksa foto-foto jenazah yang ditemukan, tapi langsung dimakamkan demi preservasi sampai identifikasi selesai dilakukan. “Pemerintah harus menyerahkan jenazahnya atau menunjukkan bukti kuat bahwa suami saya sudah tiada, baru setelah itu mereka bisa menyatakannya meninggal,” tegas Khatri.

Mahesh Shrestha, yang saudaranya bekerja sebagai insinyur di PLTA yang diterjang banjir menyebut pemerintah telah menelantarkan keluarga korban. “Mereka seharusnya tidak menghentikan pencarian. Keluarga kami menuntut agar mereka terus mencarinya,” ujarnya.


Baca juga:

Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis


Mengalihkan Fokus pada Upaya Rehabilitasi




Namun, sebagian warga lainnya menyambut baik keputusan tersebut dan menyatakan sedang mengurus surat keterangan kematian yang diterbitkan pemerintah.

“Setelah berminggu-minggu berlalu, harapan untuk menemukan korban selamat sangat tipis atau bahkan tidak ada sama sekali. Kami yakin tidak ada anggota keluarga kami yang selamat dan kami hanya menginginkan kepastian,” ungkap Nirajan Poudel, yang kehilangan lima anggota keluarganya akibat banjir tersebut.

Beberapa orang yang kerabatnya masih belum ditemukan telah menggelar pemakaman simbolis. Kremasi merupakan ritual terakhir yang sangat penting dalam tradisi Hindu. Mereka tetap menggelar upacara tersebut meskipun tanpa jasad, memberikan ketenangan spiritual bagi sejumlah keluarga.

Poudel mengatakan pemerintah sejauh ini masih menolak menerbitkan surat keterangan kematian dengan alasan adanya regulasi dan undang-undang yang perlu diubah terlebih dahulu. Surat keterangan kematian ini sangat krusial di Nepal agar keluarga korban dapat menerima santunan, klaim asuransi, dan pembagian hak waris.

Setelah resmi menghentikan upaya pencarian korban, pemerintah Nepal mengalihkan fokus pada pemulihan dan rekonstruksi. Pemerintah memperkirakan biaya rekonstruksi dan pemulihan akan menelan dana sebesar USD 4,77 miliar (sekira Rp 76,3 triliun). Hampir 33.000 orang terdampak dan sekitar 7.500 rumah rusak atau hancur.(dwi)

Baca juga:

Nepal Tetapkan Hari Berkabung Nasional setelah Banjir Mematikan

#Nepal #Banjir Bandang #Bencana Alam
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Nepal Hentikan Pencarian Ribuan Korban Banjir, Fokus pada Rehabiitasi
Sejauh ini, tim penyelamat telah menemukan setidaknya 1.455 jenazah, tetapi 5.285 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan warga negara asing.
Dwi Astarini - 2 jam, 28 menit lalu
Nepal Hentikan Pencarian Ribuan Korban Banjir, Fokus pada Rehabiitasi
Indonesia
2 Orang Meninggal Tertimbun Longsor di Pekalongan Jawa Tengah
Tim petugas gabungan termasuk dari BPBD Pekalongan saat ini sedang melakukan kaji cepat terhadap dampak dari longsor ini.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Oktober 2026
 2 Orang Meninggal Tertimbun Longsor di Pekalongan Jawa Tengah
Dunia
Longsor masih Mengintai Nepal, para Pendaki Dievakuasi dengan Helikopter
Ratusan pendaki di Jalur Annapurna, yang sangat krusial bagi perekonomian Nepal, harus menghentikan pendakian lebih awal untuk menyelamatkan diri.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Longsor masih Mengintai Nepal, para Pendaki Dievakuasi dengan Helikopter
Dunia
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan permafrost serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Indonesia
Banjir Bandang Solok Tewaskan Warga, 1 Jasad Ditemukan Lainnya Masih Dicari
Banjir bandang menerjang Nagari Batang Barus, Solok. Satu korban ditemukan meninggal dunia, tim SAR masih mencari korban hilang lainnya.
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Banjir Bandang Solok Tewaskan Warga, 1 Jasad Ditemukan Lainnya Masih Dicari
Indonesia
Banjir Bandang Hantam Solok, BMKG: Peringatan Sudah Sejak Seminggu Lalu
anjir bandang terjang Solok akibat hujan lebat 94 mm/hari. BMKG sebut peringatan dini sudah dikeluarkan 7 hari sebelum bencana.
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Banjir Bandang Hantam Solok, BMKG: Peringatan Sudah Sejak Seminggu Lalu
Indonesia
Jalan Solok-Padang Ditutup Akibat Banjir Bandang, 4 Orang Dikabarkan Terluka
Akses jalan Solok-Padang di kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, putus sementara akibat tertutup material banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut pada Senin (21/9) malam.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 22 September 2026
Jalan Solok-Padang Ditutup Akibat Banjir Bandang, 4 Orang Dikabarkan Terluka
Dunia
Seorang Perempuan Selamat Setelah 10 Hari Tertimbun di Bawah Reruntuhan Lonsor Nepal
Perempuan berusia 64 tahun itu diselamatkan dari lantai teratas sebuah bangunan empat lantai yang tertimbun reruntuhan di Betrawati, Nuwakot
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Seorang Perempuan Selamat Setelah 10 Hari Tertimbun di Bawah Reruntuhan Lonsor Nepal
Dunia
Syarat Baru Pendaki Naik Everest, Harus Pernah Taklukkan Puncak 7.000 Meter
Nepal sedang menyusun RUU baru yang melarang pendaki tanpa pengalaman ketinggian ekstrem 7.000 meter untuk mendaki Gunung Everest. Simak syarat lengkapnya di sini!
Wisnu Cipto - Selasa, 15 September 2026
Syarat Baru Pendaki Naik Everest, Harus Pernah Taklukkan Puncak 7.000 Meter
Indonesia
DPR Setujui Permintaan Presiden Prabowo Tambah Anggaran Mitigasi Bencana, asal Bermanfaat
DPR akan memberikan dukungan selama tambahan anggaran tersebut bermanfaat bagi masyarakat.
Dwi Astarini - Selasa, 08 September 2026
DPR Setujui Permintaan Presiden Prabowo Tambah Anggaran Mitigasi Bencana, asal Bermanfaat
Bagikan