Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya

Warga berpayung saat cuaca panas terik meliputi Jakarta pada Senin (24/4/2023). (ANTARA FOTO/Fauzan/aww)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — AGUSTUS tahun ini tercatat sebagai bulan terpanas bumi, jauh melampaui ambang batas iklim penting. Kondisi tersebut didorong kombinasi berbahaya antara perubahan iklim akibat aktivitas manusia dan fenomena El Nino yang sangat kuat.

Layanan iklim Eropa Copernicus menyebut suhu panas ekstrem pada Agustus juga membuat musim panas di Belahan Bumi Utara dan Amerika Serikat menjadi yang terpanas yang pernah diukur para ilmuwan.

Suhu rata-rata global bulan lalu mencapai 16,96 derajat celsius. Angka tersebut secara teknis 0,01 derajat celsius lebih tinggi jika dibandingkan dengan rekor global sebelumnya yang tercatat pada Juli 2023. Namun, karena perbedaannya masih berada dalam tingkat ketidakpastian pengukuran, Agustus dan Juli 2023 dianggap berada pada posisi yang sama sebagai bulan terpanas.

Sekarang saatnya berhenti terkejut bahwa planet kita yang semakin panas terus menjadi lebih panas. Ini terjadi persis seperti yang telah diperkirakan para ilmuwan sejak puluhan tahun lalu.

Andrew Dessler, ilmuwan iklim dari Texas A&M University

Baca juga:

Seperlima Pantai Italia Terancam Tenggelam Akibat Pemanasan Global, Terbagi 4 Zona



Dessler menyebut pertanyaan menariknya bukan apakah kita akan terus memecahkan rekor panas, yang sudah pasti akan terjadi, melainkan apakah kita akan melakukan sesuatu untuk mengatasinya atau hanya berdiri diam ketika kereta perubahan iklim melindas kita.

Secara global, suhu Agustus tercatat 1,65 derajat celsius di atas tingkat praindustri. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas 1,5 derajat celsius yang menjadi target jangka panjang dalam Perjanjian Iklim Paris 2015. Menurut data Copernicus, delapan bulan terpanas yang pernah tercatat semuanya terjadi sejak Juli 2023.

“Sistem iklim kita benar-benar beroperasi jauh di luar kisaran yang kita perkirakan bahkan satu dekade lalu,” kata Samantha Burgess, pimpinan strategis iklim Copernicus, pada Rabu (9/9).

Saat berbicara dari Inggris yang tengah dilanda gelombang panas, Burgess menyebut kita telah beralih dari kondisi ketika iklim terasa sangat abstrak dan mungkin hanya berdampak pada negara-negara di belahan bumi selatan atau tempat-tempat yang jauh, menjadi kondisi ketika iklim memengaruhi dan mengganggu kehidupan sehari-hari kita. Cuaca panas ekstrem telah membuat sekolah ditutup, rumah sakit kewalahan, jalan meleleh, hingga jalur kereta api melengkung.

Kenyataannya, kita akan semakin sering mengalami kondisi seperti yang kita lihat pada musim panas ini.

Samantha Burgess, pimpinan strategis iklim Copernicus



Suhu laut global rata-rata pada Agustus juga menyamai rekor Maret 2024 sebagai bulan terpanas yang pernah tercatat. Sementara itu, 22 Agustus menjadi hari dengan suhu permukaan laut terpanas yang pernah dicatat Copernicus.

Baca juga:

Nyamuk Pertama Ditemukan di Islandia: Tanda Pemanasan Global Kian Nyata



Bahan Bakar Fosil dan El Nino Jadi Penyebab



Sejumlah ilmuwan mengatakan El Nino memang menjadi salah satu faktor, tetapi fenomena alami dan sementara yang menghangatkan sebagian wilayah Pasifik serta memengaruhi cuaca di seluruh dunia itu jauh lebih kecil pengaruhnya ketimbang gas rumah kaca yang dihasilkan manusia melalui pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam.

“Selama umat manusia terus membakar batu bara, minyak, dan gas dalam jumlah yang sangat besar, polusi yang ditimbulkan akan terus memanggang planet kita. Suhu ekstrem akan terus memecahkan rekor, menewaskan jutaan orang dan menelan biaya triliunan dolar, mengganggu sistem transportasi dan kesehatan, serta menaikkan harga kebutuhan rumah tangga seperti makanan,” kata Simon Stiell, kepala badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Meski El Nino mulai meningkatkan suhu, penyebab utamanya tetap pembakaran bahan bakar fosil yang terus-menerus kita lakukan. Perubahan iklim membuat setiap El Nino menjadi lebih panas. Selama kita tidak berhenti membakar batu bara, minyak, dan gas, bulan-bulan pemecah rekor seperti ini akan terus terjadi.

Friederike Otto, ilmuwan iklim dari Imperial College London



Burgess mengatakan El Nino biasanya hanya menambah sekitar 0,1 hingga 0,2 derajat celsius terhadap suhu global. Sebagian besar peningkatan suhu lainnya berasal dari panas yang terperangkap akibat pembakaran bahan bakar fosil. Namun, El Nino kali ini diperkirakan akan memecahkan rekor kekuatan dalam beberapa bulan mendatang.

Katharine Hayhoe, ilmuwan iklim dari Texas Tech University, menyebut, seiring dengan suhu yang terus meningkat, gelombang panas, badai, banjir, dan kebakaran hutan diperkirakan semakin sering terjadi dan menjadi lebih berbahaya. Para ahli memprediksi 2027 hampir pasti akan mengalahkan rekor cuaca ini dan berpotensi mencapai 1,8 derajat celsius di atas tingkat praindustri akibat El Nino yang diperkirakan mencapai kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Burgess mengatakan sejumlah hari tertentu bahkan dapat menembus ambang iklim yang lebih tinggi, yakni 2 derajat celsius di atas suhu pertengahan abad ke-19.

“Ini harga yang terus meningkat akibat kecanduan umat manusia terhadap bahan bakar fosil dan krisis iklim global yang ditimbulkannya,” tegas Stiell.(dwi)

Baca juga:

Belanda Alami Panas Malam Sangat Parah, Pemanasan Global Bisa Naikkan Suhu Capai 4 Drajat Celcius

#Pemanasan Global #Suhu Bumi #Cuaca Ekstrem #El Nino
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Terjadi persis seperti yang telah diperkirakan para ilmuwan sejak puluhan tahun lalu.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Indonesia
Dari Air Bersih hingga Sawah, Jurus Pemerintah Tangani Dampak Kekeringan di 2.200 Lokasi
Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), penanganan darurat telah dilakukan di 2.200 lokasi yang terdampak kekeringan di berbagai daerah.
Dwi Astarini - Rabu, 09 September 2026
Dari Air Bersih hingga Sawah, Jurus Pemerintah Tangani Dampak Kekeringan di 2.200 Lokasi
Indonesia
Hari Ini Jakarta Akan Diliputi Awan Tebal, Hujan Bisa Turun di Sore Hari
Proses belajar mengajar dan kegiatan sekolah kembali berjalan normal mulai Rabu (9/9) karena situasi setelah erupsi Gunung Anak Krakatau dinilai cukup membaik.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 09 September 2026
Hari Ini Jakarta Akan Diliputi Awan Tebal, Hujan Bisa Turun di Sore Hari
Indonesia
El Nino Makin Panjang, Bantuan Beras Bakal Dilanjut Sampai Akhir Tahun
Penyaluran bantuan beras yang telah berjalan hingga September akan dilanjutkan pada tiga bulan berikutnya sesuai arahan Presiden Prabowo.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 08 September 2026
El Nino Makin Panjang, Bantuan Beras Bakal Dilanjut Sampai Akhir Tahun
Indonesia
BMKG Buka-bukaan soal El Nino Sangat Kuat, Musim Hujan Baru Datang Oktober
BMKG mengingatkan ancaman El Nino sangat kuat saat musim kemarau 2026. Musim hujan diprediksi mulai bertahap pada pertengahan Oktober 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 07 September 2026
BMKG Buka-bukaan soal El Nino Sangat Kuat, Musim Hujan Baru Datang Oktober
Indonesia
BMKG Keluarkan Peringatan Dini untuk Wilayah Sumatera Utara, Ada Potensi Bencana Hidrometeorologi
BMKG keluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut) dalam sepekan ke depan.
Frengky Aruan - Senin, 07 September 2026
BMKG Keluarkan Peringatan Dini untuk Wilayah Sumatera Utara, Ada Potensi Bencana Hidrometeorologi
Indonesia
Masuki Puncak Musik Kemarau, BMKG Keluarkan Peringatan Berbagai Dampak Bencana
Musim kemarau tahun ini diperparah dengan aktifnya fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. El Nino diperkirakan masih akan berlangsung sampai awal 2027
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 07 September 2026
Masuki Puncak Musik Kemarau, BMKG Keluarkan Peringatan Berbagai Dampak Bencana
Indonesia
El Nino Bakal Bertahan Hingga Februari 2027, Warga Rasakan Kekeringan dan Panas Ekstrem
WMO memperkirakan kemungkinan suhu pada September November 2026 berada di atas normal di hampir seluruh wilayah daratan.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 04 September 2026
El Nino Bakal Bertahan Hingga Februari 2027, Warga Rasakan Kekeringan dan Panas Ekstrem
Dunia
Peringatan PBB: El Nino 2026 Bisa Capai Level Ekstrem dan Bertahan hingga 2027
PBB melalui Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO memperingatkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan akan semakin menguat.
Yusuf Abdillah - Kamis, 03 September 2026
Peringatan PBB: El Nino 2026 Bisa Capai Level Ekstrem dan Bertahan hingga 2027
Indonesia
Cuaca Indonesia Terbaru 30 Agustus - 2 September Bawa Kejutan, Siap-Siap Cuaca Ekstrem?
Cek info cuaca Indonesia terbaru dari BMKG untuk 30 Agustus - 2 September 2026. Waspada ancaman musim kemarau, potensi cuaca ekstrem, dan peringatan dini cuaca di wilayahmu. Baca selengkapnya sebelum beraktivitas
Angga Yudha Pratama - Senin, 31 Agustus 2026
Cuaca Indonesia Terbaru 30 Agustus - 2 September Bawa Kejutan, Siap-Siap Cuaca Ekstrem?
Bagikan