MerahPutih.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, upaya menghadapi perubahan iklim harus berangkat dari persoalan yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Pramono, aksi menghadapi perubahan iklim tidak hanya ditujukan untuk mengurangi emisi. Kebijakan tersebut juga harus mampu menghadirkan kota yang lebih bersih, sehat, terjangkau, dan nyaman dihuni.
"Aksi iklim harus memberikan manfaat nyata yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari melalui transportasi yang lebih bersih, ruang publik yang lebih baik, energi yang lebih bersih, serta kualitas hidup yang lebih baik," ujar Pramono saat menjadi pembicara utama dalam Heat Roundtable di New York, Amerika Serikat, Minggu (20/9).
Forum tersebut mempertemukan para pemimpin kota dunia untuk bertukar pengalaman mengenai tantangan panas perkotaan dan ketahanan iklim. Diskusi digelar bersama C40 Cities, Harvard University’s Salata Institute for Climate and Sustainability, serta Atlantic Council’s Climate Resilience Center.
Sejumlah kepala daerah turut hadir, antara lain Wali Kota Paris dan Wali Kota Freetown. Forum Heat Roundtable merupakan bagian dari rangkaian agenda Pramono di New York.
Baca juga:
Empat Juta Orang Bergerak Keluar-Masuk Jakarta
Dalam forum tersebut, Pramono memaparkan tantangan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan mobilitas tinggi.
Setiap hari, sekitar empat juta orang bergerak keluar-masuk Jakarta dari wilayah penyangga, terutama pada jam sibuk. Di sisi lain, Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari.
Persoalan kemacetan, polusi udara, dan sampah tidak berdiri sendiri. Ketiganya berkaitan langsung dengan mobilitas, kesehatan, serta kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kebijakan iklim Jakarta diarahkan agar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga,
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Data mengenai lebih dari empat juta orang yang keluar-masuk Jakarta juga disampaikan Pramono dalam pertemuan bilateral dengan Wali Kota New York Zohran Kwame Mamdani.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono menjelaskan pengembangan Transjabodetabek sebagai salah satu upaya memperkuat konektivitas Jakarta dengan wilayah penyangga.
Baca juga:
Pramono Pamer Integrasi Transortasi Jakarta ke Para Wali Kota Dunia di New York
Jakarta Perkuat Ketahanan Hadapi Perubahan Iklim
Pramono menambahkan, Jakarta terus belajar dari berbagai kota besar dunia dalam memperluas ruang terbuka hijau dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
Upaya tersebut termasuk menghadapi peningkatan suhu perkotaan yang menjadi salah satu tantangan bagi kota metropolitan.
Ia menegaskan, Jakarta terbuka untuk bertukar pengalaman dan bekerja sama dengan kota-kota lain dalam mencari solusi yang sesuai dengan karakter masing-masing.
"Jakarta siap berbagi praktik baik, belajar dari kota-kota lain, dan mewujudkan tujuan iklim bersama menjadi solusi yang praktis," tutupnya. (Asp)