Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Bamsoet Ingatkan Negara Punya Tahapan Kritis Hadapi Pagebluk COVID-19

Angga Yudha Pratama - Rabu, 10 Juni 2020

Merahputih.com - Ketua MPR Bambang Soesatyo mengingatkan, ada sejumlah tahapan krisis suatu negara dalam menghadapi wabah atau pandemi, terutama COVID-19 yang saat ini sedang berlangsung.

Tahap pertama, krisis kesehatan yang sekarang serentak melanda dunia termasuk Indonesia. Tahapan kedua, adalah krisis ekonomi. Beberapa negara sudah mulai masuk ke tahap ini. Tahap ketiga adalah krisis sosial.

Baca Juga:

Tekan Penularan Corona, Anies Tutup Tempat Wisata dan Hiburan di Jakarta

"Amerika Serikat tampaknya sudah masuk dalam tahap ketiga ini yang dipicu tewasnya warga negara AS kulit hitam oleh polisi yang menjadi trigger mencuatnya isu pertikaian ras dan kerusuhan di hampir semua negara bagian AS," ucap Bambang Soesatyo dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (9/6).

"Tahap berikutnya atau tahap keempat adalah krisis politik," kata dia.

Dia menyatakan, pemerintah tidak mengorbankan sektor kesehatan dengan membuka aktivitas ekonomi di tengah pandemi COVID-19.

Bamsoet pede pemerintah bisa atasi masalah bangsa termasuk penyebaran virus corona
Ketua MPR Bambang Soesatyo atau Bamsoet (Foto: Antara/Dok. Bamsoet)

Menurut Bambang, pemerintah tidak sedang memilih antara mementingkan sektor ekonomi atau kesehatan dalam menerapkan gaya hidup baru atau new normal.

Sektor ekonomi dan kesehatan harus tetap menjadi fokus perhatian utama ditengah pandemi COVID-19, karena keduanya saling berkaitan satu sama lain.

Ia juga mengingatkan bahwa organisasi kesehatan dunia (World Health Organization) menyatakan perang terhadap virus corona masih akan berjalan lama, minimal hingga dua tahun ke depan.

Baca Juga:

Pasien Penderita Corona yang Sembuh Dipulangkan Sabtu Esok

Adapun skenario terburuknya, virus corona tak akan pernah hilang dari muka bumi. "Manusia tak boleh sekadar berpasrah diri menghadapi pandemi COVID-19. Kita perlu mengubah perilaku atau gaya hidup," ujar Bambang.

"Karena itu saya lebih suka menyebut gaya hidup baru ketimbang menggunakan istilah new normal. Dari mulai gaya hidup yang lebih sehat, sampai gaya hidup yang lebih melek digital dalam bekerja," kata politisi Partai Golkar itu. (Knu)

Baca Artikel Asli