Merahputih.com - Impor susu Indonesia masih mendominasi kebutuhan nasional hingga mencapai angka 80 persen, sementara produksi peternak lokal hanya mampu menyumbang 20 persen sisanya.
Tingginya ketergantungan ini berakar pada rendahnya populasi sapi perah, dampak berkelanjutan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), serta efisiensi biaya imbas perjanjian perdagangan bebas.
Akar Masalah Peternak Lokal
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, mengkritik keras lambatnya langkah pemerintah dalam menekan angka impor tersebut. Menurutnya, peternak lokal masih terjebak pada problematika klasik yang tak kunjung usai, mulai dari sulitnya akses bibit unggul, mahalnya harga pakan, hingga buruknya manajemen limbah.
Baca juga:
Legislator Nilai Bebas Pajak Impor Susu Tak Adil dan Ancam Ketahanan Pangan
Panggah mendesak kementerian terkait segera merumuskan langkah konkret yang lebih fokus dan terukur untuk menyelamatkan industri susu nasional.
"Kunjungan kali ini bertujuan menyerap aspirasi koperasi susu di Salatiga agar kami memahami persoalan riil di lapangan. Masalah ketergantungan impor susu yang mencapai 80 persen ini sudah terlalu lama tidak terselesaikan," tegas Politisi Fraksi Partai Golkar dalam keterangannya, Jumat (10/4).
Strategi Peningkatan Produksi Nasional
Panggah meminta Kementerian Pertanian menyusun action program dengan tahapan jelas guna mengurangi ketergantungan terhadap produk asing. Ia menilai progres yang ada saat ini berjalan sangat lambat jika dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya.
"Saya meminta mitra kementerian menyusun program aksi bertahap agar ketergantungan impor susu ini terus berkurang. Progresnya sejauh ini masih sangat-sangat lambat," tutur Legislator asal Dapil Jawa Tengah VI tersebut.
Baca juga:
Viral Video Susu MBG Gratis Dijual di Minimarket, Begini Penjelasan Kepala BGN
Sebagai solusi, Panggah mengusulkan dua pendekatan klaster. Pertama, mendorong dunia usaha agar berkontribusi aktif dalam investasi sektor susu. Kedua, melakukan pembinaan intensif bagi peternak kecil guna meningkatkan volume produksi secara nyata.
Ia membandingkan sektor susu dengan beras dan daging yang sudah menunjukkan perbaikan signifikan, sementara komoditas seperti jagung, kedelai, dan susu masih jalan di tempat.