Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Headline

Sejumlah Pasal dalam RUU Antiterorisme Jadi Sorotan Pegiat HAM

Eddy FloEddy Flo - Rabu, 16 Mei 2018
Sejumlah Pasal dalam RUU Antiterorisme Jadi Sorotan Pegiat HAM

Rapat paripurna DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Pertimbangan hak asasi manusia (HAM) ditengarai sebagai salah satu benang kusut yang membuat mandeknya pembahasan RUU Antiterorisme di DPR. Baik pemerintah dan DPR tampaknya tak ingin menjadi pihak yang disalahkan jika dalam penerapan nanti UU Antiterorisme jadi bumerang bagi penegakan hak asasi manusia.

Atas dasar itu, sejumlah pihak ikut mengamati dan memberikan masukan agar RUU Antiterorisme yang bakal digunakan untuk menggebuk teroris tidak menjadi alat pembenaran untuk menindas HAM warga.

Dalam Revisi UU Antiterorisme, DPR bakal mengesahkan beberapa pasal perluasan terkait penindakan dan perluasan pidana materil.

Anggota Pansus RUU Antiterorisme Arsul Sani mengatakan ada beberapa perluasan pasal yang sudah disepakati Pemerintah dan DPR diantaranya adalah perluasan kewenagan penegak hukum dalam menegakkan upaya paksa.

Arsul Sani
Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani. (Foto: MP/Fadli)

"Misalnya perpanjangan waktu penangkapan dari 7 hari menjadi 14 hari dan bisa ditambah 7 hari lagi, jadi totalnya terduga teroris untuk ditetapkan menjadi tersangka bisa 14 hari dan bahkan bisa sampai 21 hari," kata Arsul Sani beberapa waktu lalu.

Begitu juga saat teroris sudah ditetapkan sebagai tersangka, maka dalam proses peradilan atau persidangan jangka waktu penahanannya juga akan lebih panjang.

"Nah setelah tersangka maka dia bisa ditahan yang jangka total waktu penahanan sedikit lebih panjang, dalam KUHP kewenangan penuntutan, banding, sampai MA itu lebih kurang 770 hari jadi seorang yang diproses hukum atas dasar teroris ini dia akan ditahan paling tidak 770 hari ini tentu akan dipotong masa penahanan ini. Ini terkait perluasan kewenangan," terang Arsul.

Selanjutnya kata Politisi PPP ini, perluasan pidana materil. Dalam RUU ada pasal-pasal yang bisa digunakan untuk mentersangkakan dan mendakwa teroris dalam proses hukum.

Arsul Sani bersama kader PPP
Asrul Sani bersama kader PPP (MP/Ponco Sulaksono)

"Kalau di UU teroris (UU nomor 15 tahun 2003) tidak ada pasal yang mengatur bisa dipidananya perbuatan persiapan contoh orang yang sudah berbaiat kepada kelompok teroris, kemudian adakan pelatihan militer, latihan nembak, main panah, main pedang, itu kalau menurut UU teroris itu tidak bisa di pidana," jelasnya.

Akan tetapi, dalam RUU Antiterorisme asal bisa dibuktikan bahwa dia terkoneksi dan terasosiasi dengan organisasi teroris bisa diproses hukum atau di pidana.

"Karena pelatihannya itu akan dikonstruksikan perbuatannya sebagai persiapan teror," lanjutnya.

Arsul menambahkan, yang lebih tegas lagi diatur dalam RUU adalah penegakan hukum kepada WNI yang pernah bepergian ke negara yang diasosiasikan sebagai negara perang.

"Kalau orang Indonesia pergi ke Irak, Suriah, kemudian dia kembali, bisa diproses hukum, tapi tetap harus dibuktikan, bahwa dia pergi ke sana dan menjadi Kombatan," kata dia.

Di sinilah peran intelijen untuk membuktikan hal itu.

Ridwan Darmawan
Pegiat HAM Ridwan Darmawan (Foto: mk.go.id)

RUU Antiterorisme dalam Persepsi HAM

Menyikapi hal itu, Pegiat HAM yang juga Mantan Direktur Indonesian Human Right Comitte for Social Justice (IHCS) Ridwan Darmawan menegaskan menyambut baik terkait perumusan RUU tersebut. Hanya saja dia mengingatkan agar perumusan tidak terburu-buru, sehingga emosionalitas yang dikedepankan, justru substansi dan muatan materi serta arah strategis penanggulan Terorisme secara sistematis dan jangka panjang terabaikan.

"Ini penting untuk diingatkan. terkait narasi besar yang diperbincangkan terkait RUU ini yakni sisi perlindungan HAM bagi pelaku atau orang yang di duga sebagai pelaku teror, ini mesti memang diatur sedemikian rupa, jangan sampai menimbulkan multi tafsir dalam penegakan hukumnya, agar tidak dikesankan terutama sebagai pasal Karet untuk kepentingan yang berkuasa," kata Ridwan kepada merahputih.com, Rabu (16/5).

Ilustrasi penggerebekan teroris
Ilustrasi penggerebekan teroris (MP/Budi Lentera)

Menurutnya, perlindungan terhadap HAM harus juga dikedepankan kerena hal itu juga sudah diatur dalam UU dan konstitusi bangsa ini.

"Mengutip pandangan Prof. Mahfud MD yang menyatakan bahwa melindungi kepentingan HAM yang lebih besar harus dikedepankan dan itu sesuai dengan Konstitusi, saya sepakat dan sependapat," ujarnya.

"Tentu jika terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh aparatur negara dalam melaksanakan pemberantasan Terorisme, Keadilan juga harus ditegakkan," pungkas kuasa hukum pemerintah saat menghadapi gugatan HTI ini.(Fdi)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Gerakan Warga Lawan Terorisme Ajak Masyarakat Amalkan Bhinneka Tunggal Ika

#RUU Terorisme #Asrul Sani #DPR #HAM
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Fadhli

Berkibarlah bendera negerku, tunjukanlah pada dunia.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
RUU Satu Data Indonesia Jadi Usul Inisiatif DPR, Begini Pengertian dan Isinya
Penyelenggara Satu Data Indonesia diantaranya adalah pemerintah bertanggung jawab atas penyelenggaraan Satu Data Indonesia, yang dilaksanakan di tingkat pusat dan di tingkat daerah
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 22 Juli 2026
RUU Satu Data Indonesia Jadi Usul Inisiatif DPR, Begini Pengertian dan Isinya
Indonesia
DPR Sahkan UU Pusat Finansial Internasional Indonesia, Apa Dampaknya Buat Rakyat?
DPR RI sahkan UU Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Regulasi ini atur struktur kelembagaan, pengawasan, dan pengadilan khusus. Apa efeknya bagi rakyat?
Wisnu Cipto - Selasa, 21 Juli 2026
DPR Sahkan UU Pusat Finansial Internasional Indonesia, Apa Dampaknya Buat Rakyat?
Indonesia
3 Orang Tewas, DPR Instruksikan Polisi Bongkar Motif Bentrokan Maut Adonara
DPR RI instruksikan polisi mengusut motif bentrokan maut di Adonara, Flores Timur, NTT. Tiga orang tewas, lima luka, dan 20 rumah terbakar. TNI-Polri siaga.
Wisnu Cipto - Selasa, 21 Juli 2026
3 Orang Tewas, DPR Instruksikan Polisi Bongkar Motif Bentrokan Maut Adonara
Indonesia
Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Swasta Diusulkan Masuk RUU Sisdiknas
usulan itu disiapkan sebagai langkah menyelamatkan operasional perguruan tinggi swasta, terutama kampus-kampus kecil yang berpotensi tutup akibat tekanan dalam ekosistem pendidikan tinggi.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 19 Juli 2026
 Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Swasta Diusulkan Masuk RUU Sisdiknas
Berita Foto
Raker Komisi VI DPR Bersama Mendag Bahas Kemitraan Ekonomi dengan Peru
Menteri Perdagangan Budi Santoso bersama Wamendag Dyah Roro Esti rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 16 Juli 2026
Raker Komisi VI DPR Bersama Mendag Bahas Kemitraan Ekonomi dengan Peru
Berita Foto
Raker Menhan dan Panglima TNI Bahas Realisasi APBN Tahun Anggaran 2025
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 16 Juli 2026
Raker Menhan dan Panglima TNI Bahas Realisasi APBN Tahun Anggaran 2025
Indonesia
DPR Kebut Pembahasan RUU Ketenagakerjaan
Mahkamah Konstitusi memerintahkan pembentuk undang-undang untuk segera membuat undang-undang ketenagakerjaan yang baru dan memisahkannya dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 14 Juli 2026
DPR Kebut Pembahasan RUU Ketenagakerjaan
Indonesia
Politikus Wacanakan Hak Angket Kasus Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Penggunaan Hak Angket tidak dimaksudkan untuk mencampuri proses penyidikan maupun memengaruhi penanganan perkara yang sedang berlangsung.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 14 Juli 2026
Politikus Wacanakan Hak Angket Kasus Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Berita Foto
Rapat Paripurna DPR: Menkeu Beri Tanggapan atas RUU Pertanggungjawaban APBN Tahun 2025
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyerahkan tanggapan pemerintah ke Wakil Ketua DPR Sari Yuliati saat Rapat Paripurna di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 14 Juli 2026
Rapat Paripurna DPR: Menkeu Beri Tanggapan atas RUU Pertanggungjawaban APBN Tahun 2025
Indonesia
DPR Bantah Hentikan Proses Pembahasan RUU Perampasan Aset
RUU Perampasan Aset masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2026 dan saat ini Komisi III DPR RI pun sedang dalam tahap penyusunan menghimpun aspirasi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 14 Juli 2026
DPR Bantah Hentikan Proses Pembahasan RUU Perampasan Aset
Bagikan