Pertumbuhan Stagnan 5 Persen, Rizal Ramli: Ini akibat Model Ekonomi Tergantung pada Utang

Zulfikar SyZulfikar Sy - Jumat, 08 November 2019
Pertumbuhan Stagnan 5 Persen, Rizal Ramli: Ini akibat Model Ekonomi Tergantung pada Utang

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli memberikan keterangan terkait kondisi ekonomi Indonesia di Kampus IAIN Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (7/11). (MP/Ismail)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli angkat bicara terkait pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang stagnan di angka 5 persen selama Presiden Jokowi memimpin Indonesia. Hal tersebut, kata Rizal, akibat Indonesia menerapkan model ekonomi tergantung pada utang.

"Saya menilai formula yang dilakukan pemerintah untuk perekonomian di Indonesia kurang tepat. Selama ini, Indonesia menyelesaikan persoalan ekonominya dengan utang," ujar Rizal saat ditemui d Kampus IAIN Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (7/11).

Baca Juga:

Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen, Jokowi: Sudah Bagus Dibanding Negara-Negara Lain

Rizal mengungkapkan, model ekonomi tergantung pada utang memang disarankan oleh Bank Dunia. Bahkan, negara-negara di Amerika Latin menjadikan utang untuk membangun ekonomi.

Presiden Joko Widodo menggelar pertemuan bilateral dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Impact Exhibition and Convention Center pada Minggu (3/11/2019). (ANTARA/HO-Biro Pers Media)
Presiden Joko Widodo menggelar pertemuan bilateral dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Impact Exhibition and Convention Center pada Minggu (3/11/2019). (ANTARA/HO-Biro Pers Media)

"Model ekonomi tergantung pada utang awalnya memang bagus, tapi harus direm. Kalau tidak utangnya akan kebanyakan,” papar Rizal yang juga mantan Menko Bidang Kemaritiman kabinet Jokowi periode pertama ini.

Rizal mencontohkan negara seperti Jepang dan Tiongkok lebih mengandalkan industrialisasi ekspor dalam membangun ekonomi. Alhasil, kedua negara ini tidak membebani rakyatnya dengan menaikkan pajak untuk melunasi utang.

"Data pendapatan pajak tahun ini hanya 82-85 persen. Pendapatan ini di bawah target nasional dan kurang 15 persen. Melihat fakta itu, negara mencari utang lagi untuk menutup bunga lebih tinggi," kata dia.

Baca Juga:

Kritisi Kenaikan, Rizal Ramli Usul BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan Digabung

Kupon utang Indonesia pada bank dunia, lanjut dia, sudah mencapai 8,34 persen. Kalau angkanya lebih tinggi akan membuat negara tidak berminat untuk investasi ataupun membeli surat utang Indonesia.

"Surat utang yang diterbitkan oleh Indonesia, bunganya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang ratingnya di bawah Indonesia. Ya harusnya kupon hutang ini bunganya lebih murah 1 persen di bawah negara-negara berkembang seperti Filipina, Thailand dan Vietnam," tutur dia.

Mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Rizal Ramli di Kampus IAIN Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (7/11). (MP/Ismail)
Mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Rizal Ramli di Kampus IAIN Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (7/11). (MP/Ismail)

Ia menyarankan pada pemerintah, kalau ingin meningkatkan pendapatan negara di sektor pajak, kenaikan pajak harus dibebankan khusus untuk pengusaha besar, di antaranya bos sawit, pertambangan, ataupun batu bara.

"Masak pedagang pempek keliling ditarik pajak. Tidak masuk akal membebani pajak pada pengusaha kecil. Masih banyak pengemplang pajak dibiarkan saja tidak diseret pengadilan. Ini jadi catatan kabinet baru kepemimpinan Jokowi kedua," tutup dia. (Ism)

Baca Juga:

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat, Pemerintah Diminta Kerja Lebih Serius

#Pertumbuhan Ekonomi #Rizal Ramli
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Alasan Kenapa Indonesia Harus Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia memiliki waktu terbatas untuk memanfaatkan besarnya penduduk usia produktif sebelum populasi menua dan rasio ketergantungan meningkat
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 13 Oktober 2026
Alasan Kenapa Indonesia Harus Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia
Ungkap Arah APBN 2027, Menkeu Suahasil: Kejar Pertumbuhan 6 Persen Tetap Jaga Disiplin Fiskal
APBN 2027 menganggarkan belanja Rp 4.106,3 triliun dengan defisit Rp 671,2 triliun atau 2,4 persen PDB untuk mendukung target ekonomi 6 persen.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Oktober 2026
Ungkap Arah APBN 2027, Menkeu Suahasil: Kejar Pertumbuhan 6 Persen Tetap Jaga Disiplin Fiskal
Indonesia
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Tapi Aktivitas Ekonomi Domestik Tunjukan Pelemahan
Bauran kebijakan pemerintah dinilai turut menopang pertumbuhan ekonomi jangka pendek, namun pada saat yang sama berkontribusi terhadap pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 06 Oktober 2026
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Tapi Aktivitas Ekonomi Domestik Tunjukan Pelemahan
Indonesia
Eddy Soeparno Harap Pidato Kenegaraan Prabowo Tegaskan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, berharap pidato kenegaraan Presiden RI, Prabowo Subianto, tegaskan pertumbuhan ekonomi.
Soffi Amira - Jumat, 14 Agustus 2026
Eddy Soeparno Harap Pidato Kenegaraan Prabowo Tegaskan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia
Paruh ke-2 Tahun 2026, Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh 5 Persen
Sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia, perlambatan ekonomi China, menekan perdagangan global dan permintaan komoditas Indonesia.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 11 Agustus 2026
Paruh ke-2 Tahun 2026, Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh 5 Persen
Indonesia
Airlangga Senang Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5 Persen Selama 7 Tahun Berturut Turut
Capaian pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 melanjutkan keberhasilan Indonesia menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen selama tujuh tahun berturut-turut.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 05 Agustus 2026
Airlangga Senang Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5 Persen Selama 7 Tahun Berturut Turut
Indonesia
Dalam 6 Bulan, Pemprov Jakarta Berhasil Kumpulkan Duit Rp 29,29 Triliun Buat Pembangunan
Pemprov DKI juga memperkuat kualitas tenaga kerja untuk memastikan pertumbuhan ekonomi diikuti perluasan kesempatan kerja.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 22 Juli 2026
Dalam 6 Bulan, Pemprov Jakarta Berhasil Kumpulkan Duit Rp 29,29 Triliun Buat Pembangunan
Indonesia
Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy Sebut 115 UU Harus Diubah untuk Benahi Ekonomi Indonesia
Ekonom senior Ichsanuddin Noorsy menilai sekitar 115 UU perlu diubah karena dinilai berpihak pada ekonomi neoliberalisme.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 Juli 2026
Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy Sebut 115 UU Harus Diubah untuk Benahi Ekonomi Indonesia
Indonesia
Indonesia Nomor 1 Negara dengan Pertumbuhan Crazy Rich 5 Tahun Mendatang, Berpotensi Ciptakan Gap Ekstrem
Proyeksi ini bukan berarti sinyal positif bagi negara Indonesia. Celios melihat situasi ini akan menciptakan ketimpangan ekstrem dengan gap yang sangat jauh.
Dwi Astarini - Rabu, 15 Juli 2026
Indonesia Nomor 1 Negara dengan Pertumbuhan Crazy Rich 5 Tahun Mendatang, Berpotensi Ciptakan Gap Ekstrem
Indonesia
Pemerintah Kembali Tempatkan Dana Rp 281 Triliun di Bank BUMN, Likuiditas Dijaga hingga Akhir 2026
Pemerintah kembali menempatkan dana Rp 281 triliun di bank BUMN hingga Desember 2026 untuk menjaga likuiditas perbankan. Tambahan dana siaga Rp 100 triliun juga disiapkan.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 29 Juni 2026
Pemerintah Kembali Tempatkan Dana Rp 281 Triliun di Bank BUMN, Likuiditas Dijaga hingga Akhir 2026
Bagikan