Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy Sebut 115 UU Harus Diubah untuk Benahi Ekonomi Indonesia

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Selasa, 21 Juli 2026
Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy Sebut 115 UU Harus Diubah untuk Benahi Ekonomi Indonesia

Ilustrasi. (Foto: Pexels/Tom Fisk)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Ekonom senior Ichsanuddin Noorsy menilai berbagai persoalan ekonomi nasional tidak dapat diselesaikan hanya dengan melahirkan kebijakan-kebijakan baru.

Menurutnya dalam diskusi bertajuk 'Arah Baru Amanah Ekonomi Konstitusi' di Jakarta, Selasa (21/7), pemerintah perlu berani melakukan perubahan mendasar terhadap sistem dan regulasi yang selama ini dinilai menjadi akar berbagai persoalan ekonomi.

Ada sekitar 115 Undang-undang yang harus diubah, karena sangat berpihak terhadap ekonomi neoliberalisme. Jika ingin ekonomi maju, maka sistemnya yang harus direstrukturisasi,

Ichsanuddin Noorsy.

Inkonsistensi Kebijakan Dinilai Gerus Kepercayaan Investor

Ichsanuddin menilai buruknya sistem ekonomi turut membuat Indonesia tidak konsisten dalam menjalankan berbagai kebijakan.

Inkonsistensi tersebut, menurut dia, telah menggerus kepercayaan investor sekaligus memperlemah daya saing nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ia juga menyoroti munculnya berbagai penilaian internasional terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Menurutnya, salah satu perusahaan China telah memberikan sinyal bahwa Indonesia menghadapi risiko krisis. Di sisi lain, media internasional juga mulai mempertanyakan arah pengelolaan ekonomi nasional.

Baca juga:

Prabowo: PT DSI Kelola Devisa Lebih dari USD 10,5 Miliar, Kebijakan Ekspor Satu Pintu Mulai Berbuah Hasil

Manfaat Hilirisasi Dinilai Belum Optimal

Ichsanuddin turut mengkritisi pelaksanaan program hilirisasi yang dinilai belum mampu memberikan manfaat optimal bagi Indonesia.

Berdasarkan kajian yang dilakukannya, nilai tambah terbesar dari proses tersebut justru lebih banyak dinikmati negara lain.

"Ketika hilirisasi dilakukan di China, mereka mampu menghasilkan nilai tambah sekitar 70 hingga 75 persen. Sementara Indonesia hanya memperoleh sekitar 25 persen. Artinya, manfaat terbesar justru mengalir ke luar negeri," katanya.

Menurutnya, persoalan tersebut juga berdampak terhadap penerimaan negara.

Ia menilai praktik penghindaran pajak melalui berbagai skema, termasuk tax haven, berpotensi mengurangi penerimaan dari PPN, PPh, maupun pajak lainnya dalam beberapa tahun mendatang.

Baca juga:

Pemerintah Siapkan Perkebunan Rakyat 870 Ribu Hektare, Dorong Hilirisasi dan Serap Tenaga Kerja

Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Sulit Lewati 5,1 Persen

Ichsanuddin memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit melampaui 5,1 persen.

Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan kajian dan perbandingan berbagai indikator ekonomi yang telah dilakukannya.

Ia juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai semakin menambah tekanan terhadap dunia usaha.

"Pelemahan nilai tukar rupiah yang rata-rata mencapai sekitar 9,38 persen per tahun hingga akhir 2025 dan sekitar 10,2 persen pada 2026 semakin memperberat kondisi dunia usaha," bebernya.

Baca juga:

Groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela, Prabowo: Investor Harus Untung, Rakyat Harus Sejahtera

Ketergantungan Impor Energi Masih Tinggi

Ichsanuddin juga mengkritisi wacana kedaulatan energi yang dicanangkan pemerintah.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor energi, terutama minyak olahan.

Ia mencatat nilai impor energi Indonesia mencapai sekitar 40,183 miliar dolar AS, dengan impor minyak olahan sekitar 17,183 miliar dolar AS.

Berdasarkan perhitungannya, tingkat ketergantungan energi Indonesia terhadap impor masih berada pada kisaran 63 hingga 66 persen.

"Dengan kondisi seperti ini, jangan terlalu cepat berbicara mengenai swasembada energi apabila persoalan mendasarnya belum diselesaikan," tegasnya. (Pon)

#Ekonom #Ekonomi Nasional #Hilirisasi #Pertumbuhan Ekonomi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Alasan Kenapa Indonesia Harus Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia memiliki waktu terbatas untuk memanfaatkan besarnya penduduk usia produktif sebelum populasi menua dan rasio ketergantungan meningkat
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 13 Oktober 2026
Alasan Kenapa Indonesia Harus Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia
Rosan Ungkap Investasi Hilirisasi Naik Jadi 30 Persen, Total Investasi RI Tembus Rp 1.010,6 Triliun
Rosan melaporkan investasi Indonesia mencapai Rp 1.010,6 triliun pada Semester I-2026. Kontribusi hilirisasi naik menjadi 30 persen dari total nasional.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 09 Oktober 2026
Rosan Ungkap Investasi Hilirisasi Naik Jadi 30 Persen, Total Investasi RI Tembus Rp 1.010,6 Triliun
Berita Foto
Presiden Prabowo Subianto Luncurkan Program Hilirasisasi di Malut
Presiden Prabowo Subianto (tengah) meluncurkan program hilirisasi di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis 8/10/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 08 Oktober 2026
Presiden Prabowo Subianto Luncurkan Program Hilirasisasi di Malut
Indonesia
Ungkap Arah APBN 2027, Menkeu Suahasil: Kejar Pertumbuhan 6 Persen Tetap Jaga Disiplin Fiskal
APBN 2027 menganggarkan belanja Rp 4.106,3 triliun dengan defisit Rp 671,2 triliun atau 2,4 persen PDB untuk mendukung target ekonomi 6 persen.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Oktober 2026
Ungkap Arah APBN 2027, Menkeu Suahasil: Kejar Pertumbuhan 6 Persen Tetap Jaga Disiplin Fiskal
Indonesia
Prabowo Luncurkan Sejumlah Program Hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park Rp 180 Triliun
Prabowo bertolak dari Jakarta menuju Maluku Utara pada Kamis (8/10) pagi untuk meluncurkan program hilirisasi senilai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 180 triliun.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 08 Oktober 2026
Prabowo Luncurkan Sejumlah Program Hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park Rp 180 Triliun
Indonesia
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Tapi Aktivitas Ekonomi Domestik Tunjukan Pelemahan
Bauran kebijakan pemerintah dinilai turut menopang pertumbuhan ekonomi jangka pendek, namun pada saat yang sama berkontribusi terhadap pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 06 Oktober 2026
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Tapi Aktivitas Ekonomi Domestik Tunjukan Pelemahan
Indonesia
Eddy Soeparno Harap Pidato Kenegaraan Prabowo Tegaskan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, berharap pidato kenegaraan Presiden RI, Prabowo Subianto, tegaskan pertumbuhan ekonomi.
Soffi Amira - Jumat, 14 Agustus 2026
Eddy Soeparno Harap Pidato Kenegaraan Prabowo Tegaskan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia
Paruh ke-2 Tahun 2026, Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh 5 Persen
Sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia, perlambatan ekonomi China, menekan perdagangan global dan permintaan komoditas Indonesia.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 11 Agustus 2026
Paruh ke-2 Tahun 2026, Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh 5 Persen
Indonesia
Airlangga Senang Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5 Persen Selama 7 Tahun Berturut Turut
Capaian pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 melanjutkan keberhasilan Indonesia menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen selama tujuh tahun berturut-turut.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 05 Agustus 2026
Airlangga Senang Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5 Persen Selama 7 Tahun Berturut Turut
Indonesia
Rupiah Terancam Melemah usai Perry Warjiyo Mundur, Ekonom Beberkan Penyebabnya
Ekonom mengingatkan, Rupiah terancam melemah usai Perry Warjiyo mundur dari Gubernur BI.
Soffi Amira - Senin, 27 Juli 2026
Rupiah Terancam Melemah usai Perry Warjiyo Mundur, Ekonom Beberkan Penyebabnya
Bagikan