MerahPutih.com - Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, menyoroti program pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang tengah menjadi fokus Pemerintahan Prabowo Subianto.
Menurut Noval, pembangunan gedung koperasi yang kini mulai dilakukan di berbagai daerah berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila tidak diiringi dengan perencanaan bisnis yang matang.
Ia menilai, pembangunan infrastruktur fisik semata tidak otomatis membuat koperasi mampu beroperasi secara produktif maupun berkelanjutan.
"Yang terjadi saat ini sejatinya adalah pembangunan gedung-gedung semata. Padahal, setelah gedung selesai dibangun akan muncul berbagai konsekuensi biaya yang tidak bisa dihindari," kata Noval dalam keterangannya dikutip Rabu (1/7).
Baca juga:
Prabowo Pamer Koperasi Merah Putih di Forum APEC, Contoh Konkret Ekonomi Inklusif
Biaya Operasional Dinilai akan Menjadi Tantangan
Noval menjelaskan, setiap bangunan yang telah berdiri akan memunculkan biaya overhead atau biaya operasional tetap yang harus ditanggung secara berkelanjutan.
Biaya tersebut meliputi pembayaran listrik, pemeliharaan bangunan, kebersihan, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Menurut Noval, seluruh biaya tersebut merupakan committed cost, yakni pengeluaran yang tetap harus dibayar terlepas dari apakah koperasi memperoleh keuntungan atau tidak.
Di sisi lain, dana yang telah digunakan untuk membangun gedung koperasi merupakan sunk cost, yaitu biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak dapat dipulihkan maupun dihemat setelah pembangunan selesai.
Begitu gedung selesai dibangun maka otomatis biaya-biaya itu akan muncul. Jika tidak mampu membiayainya, gedung koperasi berisiko menjadi tidak terawat, kotor, bahkan gelap gulita,
Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib.
Keberhasilan Koperasi Ditentukan Model Bisnis
Noval menilai kondisi tersebut dapat menjadi beban baru apabila aktivitas bisnis koperasi belum memiliki arah yang jelas.
Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak ditentukan oleh megahnya bangunan, melainkan oleh kemampuan koperasi menjalankan usaha yang mampu menghasilkan pendapatan secara berkesinambungan.
Karena itu, ia mempertanyakan apakah pemerintah telah memperhitungkan secara matang dampak lanjutan dari pembangunan ribuan gedung Koperasi Desa Merah Putih.
Baca juga:
Noval mengingatkan agar fokus pembangunan tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur fisik.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memastikan kesiapan tata kelola, sumber daya manusia, permodalan, hingga model bisnis yang mampu menopang operasional koperasi dalam jangka panjang.
Noval memungkasi, tanpa fondasi bisnis yang kuat, gedung-gedung Koperasi Desa Merah Putih berpotensi menjadi aset yang justru membebani keuangan koperasi maupun pemerintah. (Asp)