Pengamat: 80 Persen Pelaku Serangan Teror Terkoneksi JAD, Termasuk di Medan

Zulfikar SyZulfikar Sy - Sabtu, 16 November 2019
Pengamat: 80 Persen Pelaku Serangan Teror Terkoneksi JAD, Termasuk di Medan

Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Pengamat terorisme Zaki Mubarak menduga, pelaku bom di Mapolrestabes Medan memiliki koneksi struktural langsung dengan Jamaah Ansharut Daullah (JAD). Salah satu alasannya karena mereka menjadikan polisi sebagai sasaran serangan teror.

"Indikasinya bahwa kelompok jihad selain JAD tidak menjadikan polisi sebagai sasaran jihad," ucap Zaki kepada wartawan saat acara diskusi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (16/11).

Baca Juga:

Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Teror di Medan sebagai Strategi ISIS

Zaki menyebut, koneksi ini terjadi secara struktural maupun fungsional. "Sekitar 80 persen pelaku serangan teror itu terkoneksi dengan JAD baik secara struktural maupun secara fungsional," ujar Zaki.

Ilustrasi Densus 88 Antiteror (MP/Win)
Ilustrasi Densus 88 Antiteror (MP/Win)

Zaki mengingatkan, bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan menjadi peringatan bagi aparat keamanan karena pelaku bisa menembus jantung pertahanan kepolisian.

"Nah kalau yang level kw (palsu) saja bisa memasuki jantung pertahanan dari institusi keamanan dan menewaskan beberapa polisi, maka saya kira yaitu sedang menjadi alarm bahwa mereka sendiri ternyata belajar tentang strategi-strategi itu," sambungnya.

Dia mengatakan, secara struktural, ada hubungan kepengurusan dengan petinggi organisasi JAD di wilayah mereka.

Pengamat Gerakan Islam dari UIN Jakarta ini menambahkan, telah terjadi perubahan aksi teror di Indonesia belakangan ini yang sebagian dilakukan individual.

"Mereka belajar autodidak dan mengalami proses radikalisasi secara personal. Misalnya beberapa pelaku yang melakukan serangan terhadap polisi yang di Tangerang, kemudian di Polsek Wonokromo, itu secara struktural tidak terkoneksi dengan jihadis maupun perkumpulan jihadis di tanah air," ujar Zaki.

Proses radikalisasi personal itu terjadi melalui berbagai media seperti Youtube hingga media sosial seperti Facebook. Keterampilan mereka pun berbeda jauh dengan mereka yang pernah belajar ke Afghanistan dan Filipina dalam merancang bom atau strategi dalam melakukan aksi teror.

Baca Juga:

Romo Benny: Pancasila Senjata Paling Ampuh Berantas Intoleransi

"Sekarang itu skalanya kecil. Bomnya dirakit ala kadarnya karena sumber daya yang dimiliki mulai merosot secara signifikan. Sebagian yang punya skil sudah pergi jihad atau sedang dipenjara, tersisa adalah yang tidak memiliki keterampilan dan kapasitas sangat lemah sekali," kata Zaki.

Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)
Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Zaki menambahkan, kejadian dari tahun 2014 sampai 2016, jihadis-jihadis di Indonesia yang terampil dengan ideologi kuat lebih dari 700 orang berangkat ke Suriah. Jadi yang tersisa di Indonesia kini adalah nonstruktural atau kelompok kecil.

"Mereka yang berangkat ke Suriah hampir semuanya mati dan tergabung dalam ISIS, yang tersisa adalah jihadis skilnya kurang, sumber daya sangat kecil. Karena yang punya keterampilan tinggi dan ideologi kuat itu kalau enggak ada di Suriah, itu ada di penjara," tutup Zaki. (Knu)

Baca Juga:

Waspadai Propaganda Teroris Bermodus "Teror Rekayasa"

#Terorisme #Aksi Teror
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa Ditangkap Tak Jauh dari Sekolah
Tim penyidik Polda Metro Jaya saat ini tengah memeriksa intensif terduga pelaku teror bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa guna mengungkap motif asli tindakan tersebut
Angga Yudha Pratama - Senin, 13 Juli 2026
Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa Ditangkap Tak Jauh dari Sekolah
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Indonesia
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Presiden RI, Prabowo Subianto, meneken Perpres RAN PE. DPR pun mengapresiasi pencegahan terorisme.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Indonesia
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
untuk aspek penegakan hukum, peran Polri tetap menjadi yang utama. Sementara itu, pelibatan TNI akan disesuaikan dengan bentuk dan tingkat ancaman terorisme yang dihadapi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 10 Februari 2026
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
Bagikan