MerahPutih.Com - Pengamat politik yang juga peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego menilai, dalam hal pendidikan politik publik, Pilpres 2019 tidak banyak memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Menurut Indria Samego, selama Pilpres 2019 banyak narasi tak bermutu yang diucapkan elite politik. Sebab yang ada hanyalah saling sindir dan serang satu sama lain untuk menjatuhkan lawannya sehingga minim argumentasi yang mencerahkan.
Hal itu terbukti dengan adanya pernyataan dari kedua kubu tidak memberikan pendidikan politik bagi masyarakat, justru bisa jadi mengarah ke arah konflik pada saat pencoblosan 17 April 2019 mendatang.
"Karena ada informasi dan berita-berita yang mengarah kepada (konflik), satu bilang people power, satu bilang perang total. Seolah-olah pemilu ini berlangsung diwarnai tarik-menarik kepentingan," ucap Indria Samego dalam diskusi di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/4).
BACA JUGA: Hati-Hati Eksis di Medsos Selama Masa Tenang Pemilu 2019
Goda Titiek Soeharto Hingga Dapat Singkong Warnai Kampanye Prabowo di Yogyakarta
Warga Palangka Raya Kecewa Jokowi Batal Berkunjung ke Pusat Wisata Kuliner Sangomang
Peneliti yang mengambil spesialisasi bidang kepartaian itu menilai perang narasi dalam kontestasi pilpres sama sekali tidak menonjolkan pendidikan politik.
"Yang menonjol semangat untuk mencari jatuhnya lawan. Jadi posisi head to head yang mengakibatkan masing-masing kubu berusaha mendelegitimasi lawan baik kelompok 02 ke 01 atau sebaliknya," beber Indria.
Peneliti utama pada LIPI ini mencontohkan ucapan mantan Ketum PAN Amien Rais soal ajakan melakukan people power.
"Seolah-olah pemilu ini berlangsung diwarnai tarik menarik," pungkas Indria Samego.(Knu)

