Menunggu Langkah Perdana Bukalapak Melantai di Bursa

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Rabu, 04 Agustus 2021
Menunggu Langkah Perdana Bukalapak Melantai di Bursa

Bambang Brodjonegoro dan Yenny Wahid. (Foto: Bukalapak)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Bukalapak akan segera lakukan pencatatan perdana atau listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 6 Agustus 2021 mendatang. Bukalapak melepas 25,76 miliar lembar saham biasa atas nama yang seluruhnya adalah saham baru atau 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Jumlah seluruh nilai IPO saham tersebut mencapai Rp 21,9 triliun dengan harga IPO sebesar Rp 850 per saham yang merupakan batas atas harga yang ditawarkan kepada masyarakat pada penawaran awal yang berada di kisaran Rp 750 per saham hingga Rp 850 per saham.

Baca Juga:

Bambang Brodjonegoro dan Yenny Wahid Jadi Komisaris Bukalapak

Perusahaan e-commerce ini, telah melakukan penawaran umum perdana saham dimulai pada Rabu (28/7) dan diklaim animo investor jika dilihat dari permintaan yang oversubscribed bisa dibilang bagus dengan kondisi emisi yang terbilang besar.

"Tapi tetap hati-hati setelah listing nanti, jika hari pertama tidak mampu langsung menguat," kata Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas dilansir Antara, beberapa waktu lalu.

Ia menyarankan, investor untuk mencermati prospek saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) meski saham perusahaan rintisan (startup) berstatus unicorn tersebut dikabarkan banyak peminatnya.

"Coba pelajari minat masyarakat dalam menggunakan Bukalapak ini dibandingkan pesaingnya. Karena di sini kita bisa melihat juga peluang ke depannya untuk Bukalapak, apakah masih ada peluang untuk bisa meningkatkan kinerja dan bisa menghasilkan laba," ujar Sukarno.

Salah seorang investor, Dwitya Putra, mengaku tertarik membeli saham BUKA karena optimistis perusahaan all-commerce tersebut perlahan tapi pasti akan memiliki kinerja positif walau saat ini masih merugi.

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2020, Bukalapak tercatat masih mengalami kerugian Rp 1,35 triliun, membaik 51,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp2,79 triliun. Kerugian tersebut seiring dengan masih tingginya beban penjualan dan pemasaran yang mencapai Rp 1,51 triliun dan juga beban umum dan administrasi Rp1,49 triliun. Sementara pendapatan Bukalapak pada 2020 mencapai Rp 1,35 triliun, naik 25,56 persen dibandingkan 2019 Rp 1,07 triliun.

Sementara itu, total aset konsolidasian perseroan pada per akhir Desember 2020 mencapai Rp 2,59 triliun, naik 26,29 persen dari tahun sebelumnya Rp2,05 triliun. Kenaikan total aset konsolidasian perseroan terutama disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas konsolidasian sebesar 67,93 persen atau senilai Rp600 miliar, serta kenaikan aset pajak tangguhan konsolidasian senilai Rp 477,79 miliar.

Pada 2020, total processing value (TPV) perseroan mencapai Rp85 triliun. Hingga 31 Desember 2020, jumlah pengguna yang terdaftar sebanyak 104,9 juta. Adapun dari TPV tersebut, sekitar 70 persen transaksi berasal dari kota-kota di luar wilayah tier 1.

"Selain masuk daftar efek syariah, saham berbau teknologi sedang naik daun. Perusahaan rugi ke depan bisa jadi untung," ujar Dwitya.

Chief Executive Officer PT Bukalapak.com Tbk Rachmat Kaimuddin mengatakan, Bukalapak bertumbuh dengan performa finansial yang terus meningkat, strategi bisnis yang efektif, dan didukung oleh potensi pasar yang besar.

Ilustrasi belanja online. (Foto: Antara)
Ilustrasi belanja online. (Foto: Antara)

Dari 2018 hingga 2020, rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) pendapatan perseroan mencapai 115 persen. Pada 2020, pendapatan Bukalapak sebesar Rp1,35 triliun.

Ia mengklaim, perseroan memiliki rekam jejak program online to offline (O2O) yang dikenal dengan nama Mitra Bukalapak yang telah terbukti menunjukkan hasil yang bertumbuh secara signifikan. Pertumbuhan pendapatan mitra Bukalapak dari 2018 hingga 2020 lebih dari 1.200 persen.

Berdasarkan riset Frost & Sullivan, Bukalapak merupakan platform e-commerce yang paling banyak memiliki jaringan mitra di Indonesia. Tahun lalu, sekitar 27 persen dari TPV Bukalapak berasal dari mitra.

Per akhir Desember 2020, jumlah mitra yang terdaftar sebanyak 6,9 juta dengan pertumbuhan penjualan per mitra setelah bergabung mencapai tiga kali lipat, berdasarkan estimasi internal perusahaan. (*)

Baca Juga:

Gandeng Bukalapak dan Tokopedia, Kemenkeu Optimis APBN Berbasis Digital Dapat Tercapai

#Bukalapak #Bukalapak.com #E-commerce Indonesia #Bursa Efek Indonesia (BEI) #Harga Saham
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Prediksi IHSG Hari Ini dan Sinyal Cuan Saham Saat Geopolitik Panas, Cek Support-Resistancenya!
Pergerakan IHSG hari ini sukses menghijau di level 6.632, tak gentar hadapi konflik Timur Tengah dan rilis data ekonomi AS. Cek prediksi IHSG dan sentimen pasar modal terbaru di sini
Angga Yudha Pratama - Kamis, 03 September 2026
Prediksi IHSG Hari Ini dan Sinyal Cuan Saham Saat Geopolitik Panas, Cek Support-Resistancenya!
Indonesia
IHSG Hari Ini Babak Belur Dihantam Sentimen Global, Cek Prediksi dan Biang Keroknya!
Pergerakan IHSG hari ini anjlok mengikuti bursa saham Asia dan global akibat lonjakan tajam harga minyak mentah. Cek analisis lengkap dan prediksi arah pergerakan IHSG di sini
Angga Yudha Pratama - Rabu, 02 September 2026
IHSG Hari Ini Babak Belur Dihantam Sentimen Global, Cek Prediksi dan Biang Keroknya!
Indonesia
Mundur ke Akhir September, BEI Tunda Implementasi Batas Minimum Harga Saham Rp 1
BEI resmi menunda implementasi aturan saham Rp1 di pasar reguler dari target 7 September ke akhir September 2026. Ketahui alasan dan dampak penundaannya di sini
Angga Yudha Pratama - Selasa, 01 September 2026
Mundur ke Akhir September, BEI Tunda Implementasi Batas Minimum Harga Saham Rp 1
Indonesia
IHSG Hari Ini Menghijau, Investor Masih Tahan Napas Tunggu Data Ekonomi
IHSG hari ini dibuka menguat di tengah sikap wait and see investor. Simak prediksi IHSG, analisis pergerakan saham BEI, dan sentimen global terbaru di sini
Angga Yudha Pratama - Selasa, 01 September 2026
IHSG Hari Ini Menghijau, Investor Masih Tahan Napas Tunggu Data Ekonomi
Indonesia
IHSG Hari Ini Tahan Banting, Tembus Zona Hijau Walau The Fed Tebar Ancaman Suku Bunga
Kondisi pasar modal domestik berbanding terbalik dengan tren kawasan regional akibat faktor kebijakan ekonomi Amerika Serikat
Angga Yudha Pratama - Senin, 31 Agustus 2026
IHSG Hari Ini Tahan Banting, Tembus Zona Hijau Walau The Fed Tebar Ancaman Suku Bunga
Indonesia
IHSG Hari Ini Rawan Koreksi Buntut Tarik Menarik Sentimen Devisa Domestik dan Bunga Global
Seluruh eksportir pemegang kriteria kini wajib menempatkan minimal 30 persen devisa
Angga Yudha Pratama - Senin, 31 Agustus 2026
IHSG Hari Ini Rawan Koreksi Buntut Tarik Menarik Sentimen Devisa Domestik dan Bunga Global
Indonesia
​IHSG Hari Ini Meroket Tajam! Kepanikan Mereda, Saatnya Borong Saham Blue Chip?
IHSG hari ini ditutup menguat tajam seiring meredanya kekhawatiran isu domestik. Cek rangkuman pergerakan pasar, saham incaran, dan prediksi IHSG di sini!
Angga Yudha Pratama - Kamis, 27 Agustus 2026
​IHSG Hari Ini Meroket Tajam! Kepanikan Mereda, Saatnya Borong Saham Blue Chip?
Indonesia
IHSG Anjlok ke 6.501 Sore Ini, Rekor Defisit Transaksi Berjalan dan Tensi Global Jadi Biang Kerok
IHSG hari ini ditutup melemah 24,02 poin ke level 6.501,67. Cari tahu pemicu utamanya
Angga Yudha Pratama - Senin, 24 Agustus 2026
IHSG Anjlok ke 6.501 Sore Ini, Rekor Defisit Transaksi Berjalan dan Tensi Global Jadi Biang Kerok
Indonesia
Anak Usaha UGM Gebrak Pasar Modal, Intip Potensi IPO Saham SWAP Berkemas Rp45,22 Miliar
PT Swayasa Prakasa Tbk (SWAP), anak usaha UGM, bersiap menggelar IPO di BEI dengan target dana Rp45,22 miliar. Cek jadwal, rentang harga, dan alokasi dananya di sini
Angga Yudha Pratama - Senin, 24 Agustus 2026
Anak Usaha UGM Gebrak Pasar Modal, Intip Potensi IPO Saham SWAP Berkemas Rp45,22 Miliar
Indonesia
IHSG Menguat ke 6.525, BEI Siap Hapus Aturan Harga Saham Rp 50
Sentimen pasar global turut terwarnai oleh dinamika ekonomi Amerika Serikat serta kenaikan harga minyak mentah
Angga Yudha Pratama - Jumat, 21 Agustus 2026
IHSG Menguat ke 6.525, BEI Siap Hapus Aturan Harga Saham Rp 50
Bagikan