Merahputih.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri sesi perdagangan Jumat (21/8) di zona hijau dengan lonjakan 24,10 poin atau 0,37 persen menuju level 6.525,69.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turut terkerek 5,85 poin atau 0,92 persen ke posisi 644,59.
Baca juga:
IHSG Hari Ini: Tembus 6.500, Aturan Saham Gocap Jadi Rp 1 dan Redupnya Bursa Saham AS
Pergerakan positif bursa regional terdorong oleh rilis data ekonomi Jepang serta antisipasi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi China.
Sektor manufaktur Jepang mencatatkan ekspansi aktivitas pabrik delapan bulan berturut-turut dengan kenaikan Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global ke angka 55,1, menandai laju pertumbuhan terkuat sejak awal tahun.
Bursa regional Asia bergerak menguat, tampaknya pelaku pasar merespon rilis data ekonomi Jepang dan juga menantikan pertemuan komite China,
ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus.
Faktor Eksternal dan Rencana Reformasi Perdagangan BEI

Sentimen pasar global turut terwarnai oleh dinamika ekonomi Amerika Serikat serta kenaikan harga minyak mentah akibat potensi sanksi ekonomi baru terhadap Iran di kawasan Selat Hormuz.
Di sisi lain, perhatian utama pelaku pasar domestik tertuju pada rencana strategis BEI menghapus batas harga saham minimum Rp50 (saham gocap) demi meningkatkan likuiditas perdagangan.
Kebijakan harga minimum Rp50 yang telah bertahan lebih dari satu dekade dinilai kerap mendistorsi mekanisme pasar pada saham berharga rendah.
"Penghapusan tingkat minimum akan memungkinkan harga untuk mencerminkan penawaran dan permintaan dengan lebih baik, dan langkah ini sejalan dengan upaya regulasi yang lebih luas untuk memperkuat likuiditas di pasar ekuitas Indonesia. Namun berpotensi meningkatkan risiko spekulasi pada saham-saham berharga rendah," tutur Maximilianus Nico Demus.
Rangkuman Data Ekonomi dan Statistik Transaksi Saham
Penguatan IHSG mendapat dukungan kuat dari perbaikan fundamental ekonomi nasional serta dominasi sektor penggerak utama.
-
Perbaikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI): Bank Indonesia merekam penurunan defisit NPI secara drastis dari 9,1 miliar dolar AS (sekitar Rp160,9 Triliun) pada triwulan pertama menjadi 0,9 miliar dolar AS (sekitar Rp15,9 Triliun) pada triwulan kedua.
-
Pergerakan Sektor IHSG: Sektor infrastruktur memimpin penguatan sebesar 0,61 persen, diikuti sektor barang baku 0,57 persen, serta sektor keuangan 0,31 persen.
-
Volume dan Nilai Transaksi: Perdagangan saham mencatatkan frekuensi 2.234.000 kali transaksi dengan volume 56,72 miliar lembar saham senilai Rp17,37 triliun.
-
Sebaran Saham: Sebanyak 332 saham menguat, 314 saham melemah, serta 317 saham bergerak stagnan.
-
Saham Top Gainers: Saham CSMI, GRIA, SDMU, PIPA, dan BLUE mencatatkan lonjakan harga tertinggi.
-
Saham Top Losers: Saham HATM, SMLE, TCPI, AEGS, dan IKPM mengalami koreksi terbesar.
-
Pergerakan Bursa Regional Asia: Indeks Hang Seng naik 1,21 persen ke 25.008,46, Kospi naik 0,88 persen ke 6.912,95, Straits Times naik 0,32 persen ke 5.690,08, Shanghai naik 0,04 persen ke 3.905,20, sedangkan Nikkei melemah 0,36 persen ke 66.040,00.
Langkah reformasi harga minimum saham oleh BEI bersamaan dengan penyusutan defisit NPI memperkuat fondasi pasar ekuitas Indonesia dalam menghadapi dinamika pasar keuangan global.