Mengenal Sindrom Feline Hyperesthesia pada Kucing
Feline hyperesthesia syndrome (FHS) juga disebut sindrom kulit bergulir dan penyakit kucing berkedut, dapat menyerang semua jenis kucing. (Foto: freepik/freepik)
JIKA kucing kamu memiliki kulit punggung berkedut, sering mengeong berlebihan, sering mengejar ekor, seperti kesakitan saat dibelai dan terlihat kelelahan, bisa jadi kucingmu mengidap sindrom feline hyperesthesia. Gejala tadi terlihat seperti biasa saja, tapi ternyata tidak.
Melansir dari laman PetMD, Feline hyperesthesia syndrome (FHS) juga disebut dengan sindrom kulit bergulir dan penyakit kucing berkedut. FHS umumnya melibatkan kontraksi otot yang tidak dapat dikendalikan kucing dan bersamaan dengan perubahan perilaku.
Baca Juga:
FHS masih kurang dipahami dan mungkin disebabkan oleh neurologis, psikologis, atau dermatologis (kulit). Berbagai kondisi lain yang terlihat sangat mirip harus disingkirkan sebelum sindrom hyperesthesia kucing didiagnosis.
Ras kucing yang rentan terkena feline hyperesthesia syndrome
Sindrom hyperesthesia pada kucing dapat terjadi pada kucing mana pun, meskipun lebih sering ditemukan pada kucing Abyssinian, Burma, Persia, dan Siam. FHS juga lebih sering terjadi pada kucing muda. Dalam dua penelitian, usia rata-rata ketika tanda-tanda pertama kali diketahui adalah sekitar tahun pertama kehidupan kucing, dan sebagian besar kucing dengan kondisi tersebut berusia di bawah 7 tahun.
Penyebab Sindrom
Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang menyebabkan sindrom hyperesthesia. Kucing berbeda akan merespons jenis pengobatan berbeda, yang menunjukkan bahwa mungkin ada beberapa penyebab mendasarinya. Pada beberapa kucing, sindrom hyperesthesia didiagnosis bersamaan dengan kondisi mendasar lainnya.
Penyebab sindrom hyperesthesia kucing biasanya dianggap dermatologis (masalah kulit), neurologis (masalah pada sistem saraf), atau psikologis (masalah kesehatan mental). Masing-masing mungkin memiliki pemicu yang berbeda.
Hipersensitivitas terhadap makanan juga dapat menyebabkan FHS. Dalam penelitian terbaru, seekor kucing mengalami gejala hiperestesi yang hilang setelah mencoba diet protein terhidrolisis.
Baca Juga:
Pengobatan
Setelah kondisi hiperestesia kucing didiagnosis, dokter hewan kamu mungkin perlu berkonsultasi atau merujukmu ke ahli perilaku hewan untuk mendapatkan rencana perawatan lebih lengkap lagi. Perawatan untuk kucingmu mungkin termasuk:
- Perubahan pada lingkungan
- Obat/suplemen
- Modifikasi perilaku
Tujuan pengobatan adalah untuk membuat perubahan yang membantu mengurangi sindrom. Modifikasi perilaku akan memberi kucing kamu merespons emosional atau perilaku yang berbeda untuk dilakukan selama masa stres. (dgs)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya