Waspadai Tanda-Tanda Mata Minus pada Anak
Ilustrasi. (Foto: Pexels/Kush Kaushik)
Merahputih.com - Anak-anak yang sering menyipitkan mata saat membaca, duduk terlalu dekat dengan televisi atau papan tulis, atau mengeluh mata cepat lelah saat melihat objek jauh, kemungkinan besar mengalami gangguan penglihatan yang dikenal sebagai rabun jauh atau miopia.
Dokter spesialis mata, dr. Artha Latief, Sp.M, menyatakan bahwa banyak orang tua mungkin mengabaikan tanda-tanda ini.
"Banyak orang tua mungkin sering melihat anaknya duduk terlalu dekat dengan televisi, menyipitkan mata saat membaca, atau mengeluh mata cepat lelah. Tanda-tanda ini bisa jadi sinyal awal adanya mata minus pada anak," ujar Dokter Artha dalam keterangannya, Rabu (1/10).
Baca juga:
Kacamata Canggih Penyembuh Rabun Jauh Mulai Dijual di Jepang
Rabun jauh terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus tepat pada retina, melainkan jatuh di depannya. Kondisi ini membuat objek yang letaknya jauh terlihat buram. Pada anak, miopia umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kebiasaan menatap layar (gawai) terlalu lama, kurangnya waktu beraktivitas di luar ruangan, serta faktor keturunan (genetik).
Orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter spesialis mata jika mendapati si kecil sering mengedipkan mata ketika menonton, mengeluh sakit kepala, atau kesulitan melihat jelas dari jarak jauh.
Dokter Artha Latief menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin. Pemeriksaan berkala berperan vital untuk mengendalikan progresivitas gangguan penglihatan.
"Pertambahan mata minus ini akan mengganggu aktivitas belajar maupun perkembangan anak. Pemeriksaan rutin akan membantu menentukan penanganan yang tepat," imbuhnya.
Baca juga:
Jangan Tunda Periksa Dokter Mata Jika Sudah Muncul Gejala Rabun Jauh
Ia menambahkan, pemeriksaan rutin mata yang disertai dengan kebiasaan hidup sehat seperti membatasi durasi penggunaan gawai, mendorong anak bermain di luar ruangan, dan memastikan pencahayaan memadai saat membaca atau belajar, dapat menjaga kesehatan mata anak dan mencegah gangguan yang lebih serius.
Jika anak sudah terdiagnosis miopia, dokter biasanya akan merekomendasikan penggunaan kacamata dengan lensa korektif yang sesuai atau terapi tetes mata untuk mengendalikan laju pertambahan mata minus.
Bagikan
Angga Yudha Pratama
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya