AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit

Ilustrasi program imunisasi. (Foto: Unsplash/Mufid Majnun)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — AMERIKA Serikat mengambil langkah yang belum pernah terjadi dengan mengurangi jumlah vaksin yang direkomendasikan untuk setiap anak, Senin (5/1). Namun, imunisasi lain, seperti vaksin flu, diserahkan kepada pilihan keluarga tanpa panduan yang jelas.

Para pejabat mengatakan perubahan besar pada jadwal vaksin federal tersebut tidak akan menyebabkan keluarga kehilangan akses atau perlindungan asuransi terhadap vaksin. Namun, para ahli medis mengkritik langkah itu dengan mengatakan kebijakan tersebut dapat menurunkan tingkat cakupan vaksin penting dan meningkatkan risiko penyakit.

Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump pada Desember 2025 meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin dan mempertimbangkan revisi panduan agar selaras dengan praktik mereka. HHS mengatakan perbandingan terhadap 20 negara sejawat menemukan AS merupakan penyimpang baik dalam jumlah jenis vaksin maupun jumlah dosis yang direkomendasikan untuk semua anak. Para pejabat lembaga tersebut membingkai perubahan ini sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan publik dengan hanya merekomendasikan vaksin yang paling penting untuk diterima anak-anak.

“Keputusan ini melindungi anak-anak, menghormati keluarga, dan membangun kembali kepercayaan terhadap kesehatan masyarakat,” kata Menteri Kesehatan Robert F Kennedy Jr dalam pernyataan pada Senin.

Baca juga:

Petugas Kesehatan Pastikan Screening Sebelum Vaksin


Para pakar medis tidak sependapat. Mereka menyatakan perubahan tanpa diskusi publik atau peninjauan data yang transparan akan membahayakan anak-anak.

“Menghentikan rekomendasi untuk vaksin yang mencegah influenza, hepatitis, dan rotavirus, serta mengubah rekomendasi untuk HPV tanpa proses publik untuk menimbang risiko dan manfaatnya akan menyebabkan lebih banyak rawat inap dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah di kalangan anak-anak Amerika,” kata Michael Osterholm dari Vaccine Integrity Project yang berbasis di Universitas Minnesota.(dwi)

Baca juga:

Pemerintah Jemput Bola Vaksinasi Ribuan Hewan Peliharaan, Jakarta Targetkan Bebas Rabies

#Vaksinasi #Kesehatan #Amerika Serikat
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Love to read, enjoy writing, and so in to music.

Berita Terkait

Indonesia
Menlu: AS Ingin Beli Greenland Bukan Menginvasi
Retorika keras Gedung Putih bertujuan untuk membujuk Denmark agar menjual Greenland kepada Amerika Serikat.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Januari 2026
Menlu: AS Ingin Beli Greenland Bukan Menginvasi
Dunia
Culik Nicolas Maduro, Presiden AS Donald Trump Klaim Venezuela akan Serahkan 50 Juta Barel Minyak kepada AS
Trump mengatakan uang hasil penjualan akan berada di bawah kendalinya dan digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.
Dwi Astarini - Rabu, 07 Januari 2026
 Culik Nicolas Maduro, Presiden AS Donald Trump Klaim Venezuela akan Serahkan 50 Juta Barel Minyak kepada AS
Dunia
AS Akan Kontrol Penjualan 50 Juta Barel Minyak Venezuela, Larang Kerjasama Dengan China
Trump mengatakan minyak itu akan dijual pada harga pasar, dan hasilnya akan dikontrol oleh dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Januari 2026
AS Akan Kontrol Penjualan 50 Juta Barel Minyak Venezuela, Larang Kerjasama Dengan China
Dunia
Niat Caplok Greenland, AS Bahas Opsi Gunakan Kekuatan Militer
Berbagai opsi dipertimbangkan pihak AS untuk Greenland, mulai dari pembelian hingga penggunaan militer.
Dwi Astarini - Rabu, 07 Januari 2026
Niat Caplok Greenland, AS Bahas Opsi Gunakan Kekuatan Militer
Dunia
Venezuela Umumkan Masa Berkabung 7 Hari Hormati Korban Serangan Amerika Serikat
Pemerintah Kuba menyampaikan bahwa 32 pejuang yang menjalankan tugas keamanan dan pertahanan di Caracas
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Januari 2026
Venezuela Umumkan Masa Berkabung 7 Hari Hormati Korban Serangan Amerika Serikat
Berita Foto
Aksi Solidaritas dan Dukungan untuk Rakyat Venezuela di Gedung Kedubes Amerika Serikat
Aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 06 Januari 2026
Aksi Solidaritas dan Dukungan untuk Rakyat Venezuela di Gedung Kedubes Amerika Serikat
Dunia
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Jadi Ajang Taruhan, Penjudi Kripto Anonim Raup Cuan Rp 6,6 Miliar
Pasar taruhan di Polymarket menyebut Maduro akan lengser dari kekuasaan sebelum akhir Januari melonjak dalam beberapa jam sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangkapan pada Sabtu (3/2).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Jadi Ajang Taruhan, Penjudi Kripto Anonim Raup Cuan Rp 6,6 Miliar
Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
Penangkapan Nicolas Maduro oleh AS Jadi Preseden Buruk, DPR RI: Hari Ini Venezuela, Besok Bisa Terjadi pada Negara Lain
Tindakan Amerika Serikat berisiko dinormalisasi oleh negara-negara kuat.
Frengky Aruan - Senin, 05 Januari 2026
Penangkapan Nicolas Maduro oleh AS Jadi Preseden Buruk, DPR RI: Hari Ini Venezuela, Besok Bisa Terjadi pada Negara Lain
Bagikan