Relasi

Mengapa Kita Begitu Terobsesi dengan Likes di Instagram?

P Suryo RP Suryo R - Rabu, 16 September 2020
Mengapa Kita Begitu Terobsesi dengan Likes di Instagram?

Baikah likes di postingan Instagram kita. (Foto: Unsplash/prateekkatyal)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SADAR tidak kalau kita dalam beberapa menit mengunggah foto baru. Kemudian setiap beberapa menit refresh feed Instagram untuk melihat jumlah likes postingan terbaru kita. Kalau likesnya tidak banyak, ada bagian dari diri kita yang merasa minder dan kecewa.

Seperti yang diungkapkan oleh Medium, bahwa kita menjadi sangat terobsesi dengan likes, followers, komen, dan segala hal yang berhubungan dengan mendapatkan perhatian di sosial media. Sangat terobsesi sehingga kita bisa jadi lupa dengan hal penting lain dalam kehiudpan kita.

Baca Juga:

Awas Tertipu, Kenali 'Catfishing' di Media Sosial

Kebutuhan pengakuan

likes
Setelah posting foto baru di Instagram kita cenderung langsung sering-sering refresh feed buat lihat berapa orang yang like foto kita. (Foto: Unsplash/kate_torline)

Wajar bagi akun online shop untuk terobsesi dengan likes. Tapi bagi kita yang hanya memiliki akun pribadi, kenapa sih kita sebegitu terobsesi dengan likes di Instagram?

Daria Kuss, profesor psikologi di Universitas Nottingham Trent di Inggris mengatakan kepada VICE bahwa sangat normal bagi seorang manusia untuk ingin dilihat, dimengerti, dan diakui.

Seperti seorang anak yang mendatangi orang tuanya untuk memamerkan sebuah proyek seni. Mereka mengharapkan diberi penghargaan atas pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik, pada usia atau tahap kehidupan apa pun.

Kuss menambahkan bahwa mendapatkan sejumlah likes dan komentar yang baik, mengaktifkan pusat penghargaan otak, menimbulkan ledakan kebahagiaan singkat.

Seiring waktu, otak mengasosiasikan notifikasi media sosial dengan pengalaman yang menyenangkan, Ini menjelaskan mengapa kamu secara aktif mencari perasaan itu lagi. Sehingga menciptakan lingkaran: posting, tunggu reaksi, hadiah dan berulang lagi.

Walau normal, tidak sehat untuk terus menerus mendapatkan pujian, akuan untuk setiap selfie, setiap foto artistik, dan setiap kiriman lainnya.

“Mengetahui bahwa kamu mendapat afirmasi dan dukungan melalui platformmu adalah satu hal. Namun menjadi hal lain ketika kamu menjadi sangat bergantung pada validasi eksternal media sosial,” ungkap psikoterapis Marline Francois-Madden kepada VICE.

Baca Juga:

Lakukan 'Social Media Detox' Untuk Bantu Tingkatkan Kesehatan Mental

Stereotype

likes
Terkadang kita menjadi minder dengan diri kita yang sebenarnya karena persona palsu yang kita ciptakan di media sosial. (Foto: Unsplash/mdenkasyarif)

Melansir laman Medium, dalam masyarakat saat ini, orang percaya bahwa popularitas, kecantikan, dan harga diri mereka semua berasal dari jumlah likes pada selfie mereka.

Hal ini dapat sangat merusak harga diri seseorang karena standar yang tinggi sering kali hampir mustahil untuk dicapai. Terutama jika mereka membandingkan diri mereka dengan selebriti seperti keluarga Kardashian, Selena Gomez, atau Justin Bieber, dan lainnya.

Untuk anak-anak atau remaja yang depresi atau memiliki gangguan kecemasan. Medium menuliskan bahwa mereka kemudian mulai mengedit foto-foto mereka untuk menutupi masalah serius dan berpura-pura menjadi sempurna.

Selain itu, Medium menulis bahwa para remaja tersebut bisa jadi telah menciptakan persona online palsu dan mungkin akan merasa putus asa dan depresi ketika mereka fokus pada kesenjangan antara siapa mereka sebenarnya dengan persona palsu mereka.

Social media break

likes
Sering-sering lakukan social media break demi kesehatan mentalmu. (Foto: Unsplash/seteph)

Kalau kamu merasa sudah terobsesi dengan mendapatkan validasi dari sosial media, para psikolog menyarankan untuk coba melakukan social media break.

Medium menyarankan untuk setidaknya melakukan hal itu selama seminggu dan ulangi ini sebanyak mungkin. Terkadang kamu hanya perlu beristirahat untuk mendapatkan ruang pikiran yang tepat, dan memastikan bahwa kecanduanmu tidak menjadi terlalu drastis.

Marline Francois-Madden, psikoterapis yang dilansir dari VICE, mengatakan bahwa saat kamu melakukan social media break, cobalah temukan cara lain untuk mendapatkan validasi.

"Temukan cara untuk memvalidasi diri kamu sendiri secara internal sehingga kamu tidak selalu mencari validasi eksternal," jelas Francois-Madden. (lev)

Baca Juga:

Cara Move On Dari Kecanduan Media Sosial, Nomor 3 Solusi Terbaik!

#Instagram #Media Sosial #Sosial Media
Bagikan
Ditulis Oleh

P Suryo R

Stay stoned on your love

Berita Terkait

Lifestyle
Instagram Hadirkan Fitur Baru, Kini Bisa Menulis Caption di Setiap Foto Carousel
Kehadiran fitur ini disebut-sebut sebagai salah satu pembaruan yang paling banyak diminta oleh komunitas kreator.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 20 Juni 2026
Instagram Hadirkan Fitur Baru, Kini Bisa Menulis Caption di Setiap Foto Carousel
Fun
Konten Kreator Kini Wajib Punya NIB? Begini Penjelasan Lengkap dan Aturan Terbarunya
Konten kreator kini wajib punya NIB. Lalu, apa itu NIB dan bagaimana cara mendaftarnya? Berikut adalah penjelasan lengkapnya.
Soffi Amira - Jumat, 19 Juni 2026
Konten Kreator Kini Wajib Punya NIB? Begini Penjelasan Lengkap dan Aturan Terbarunya
Indonesia
Polisi di Palembang Amankan Pemuda Bikin Konten Pocong AI, Alasannya Resahkan Warga
Masifnya sebaran di media sosial membuat banyak warga telanjur mempercayai foto tersebut sebagai peristiwa nyata.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 02 Juni 2026
Polisi di Palembang Amankan Pemuda Bikin Konten Pocong AI, Alasannya Resahkan Warga
Tekno
Meta Luncurkan Paket Lengkap Langganan IG, FB, dan WhatsApp Rp 124 Ribu, Ini Fitur-Fitur Plusnya!
Paket baru langganan lengkap Instagram, Facebook, dan WhatsApp ini khusus menyasar kalangan pengguna untuk bisnis, konten kreator, dan Meta AI.
Wisnu Cipto - Kamis, 28 Mei 2026
Meta Luncurkan Paket Lengkap Langganan IG, FB, dan WhatsApp Rp 124 Ribu, Ini Fitur-Fitur Plusnya!
Indonesia
Age Assurance Senjata Baru PP Tunas Tutup Celah Anak Manipulasi Umur Daftar Medsos
Pentingnya teknologi Age Assurance bagi PSE sesuai PP Tunas. Teknologi ini menutup celah verifikasi usia manual dan didukung program literasi digital untuk orang tua.
Wisnu Cipto - Jumat, 22 Mei 2026
Age Assurance Senjata Baru PP Tunas Tutup Celah Anak Manipulasi Umur Daftar Medsos
Indonesia
Akun Medsos Wajib Cantumkan Nomor Ponsel, DPR: Cegah Hoaks dan Penipuan
Penggunaan media sosial harus diatur dengan baik demi menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Dwi Astarini - Jumat, 22 Mei 2026
Akun Medsos Wajib Cantumkan Nomor Ponsel, DPR: Cegah Hoaks dan Penipuan
Indonesia
Begini Data Terkini Pengguna Internet di Indonesia Tahun 2026, Masih Ada Jutaan Orang Tidak Dapatkan Akses
Masyarakat yang bekerja memiliki kontribusi penggunaan internet terbesar dengan penetrasi mencapai 84,9 persen.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 21 Mei 2026
Begini Data Terkini Pengguna Internet di Indonesia Tahun 2026, Masih Ada Jutaan Orang Tidak Dapatkan Akses
Indonesia
Wakil Ketua MPR Minta Maaf soal Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar di Kalbar, Janji Segera Evaluasi
MPR RI menyampaikan permohonan maaf atas viralnya Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar. Pihaknya akan segera melakukan evaluasi.
Soffi Amira - Selasa, 12 Mei 2026
Wakil Ketua MPR Minta Maaf soal Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar di Kalbar, Janji Segera Evaluasi
Indonesia
Akun Centang Biru Sempat Kena Hack Jadi Dagang Emas, Ahmad Dhani Lapor Polisi
Ahmad Dhani memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kasus ini selesai secara hukum guna memulihkan nama baiknya
Angga Yudha Pratama - Kamis, 07 Mei 2026
Akun Centang Biru Sempat Kena Hack Jadi Dagang Emas, Ahmad Dhani Lapor Polisi
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Bagikan