Kerap Berkamuflase, Identifikasi Pelaku Teror Tak Hanya Bermodal Pakaian

Zulfikar SyZulfikar Sy - Sabtu, 16 November 2019
Kerap Berkamuflase, Identifikasi Pelaku Teror Tak Hanya Bermodal Pakaian

Polisi berjaga pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11/2019). (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/aww)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Pengamat terorisme dari UIN Jakarta M Zaki Mubarak melihat bahwa tidak bisa mengidentifikasi pakaian atau penampilan seseorang sebagai teroris.

"Saya kira model seperti ini akan bervariasi, bisa menggunakan perempuan dan anak-anak, kamuflase dalam bentuk ojol, orang yang kecurian motor dan sebagainya," ujar Zaki kepada wartawan dalam diskusi Perspektif Indonesia, di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Sabtu (16/11).

Baca Juga:

Pengamat: 80 Persen Pelaku Serangan Teror Terkoneksi JAD, Termasuk di Medan

Menurut Zaki, hal itu membuat semakin sulit dideteksi kepolisian. Aparat keamanan tidak memantau dan menganggap mereka sebagai orang yang potensial melakukan aksi teror.

Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)
Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

Zaki juga menambahkan, terorisme yang dikenal sebagai lone wolf atau bekerja sendiri sulit dideteksi karena tidak punya struktur dan tidak juga terkait dengan struktur JAD.

"Teroris sekarang menggunakan strategi yang sederhana tapi efektif. Misalnya yang di Wonokromo ngakunya kehilangan motor. Kemudian mau ketemu polisi untuk laporan, ternyata itu hanya dalih. Di medan kamuflasenya kan sederhana, pakai jaket ojek online. Karena ojol kan lalu lalang, ada yang kirim makanan, kirim barang, antar orang jadi tidak terdeteksi," sambungnya.

Lalu masalah pelibatan perempuan dan anak-anak dalam aksi pengeboman, menurut Zaki, karena kurangnya peran laki-laki dalam kelompok-kelompok tersebut.

"Di Indonesia kekurangan sumber daya. Karena aktivis laki-laki itu banyak yang masuk penjara, atau banyak yang tewas, kemudian mereka menggunakan sumber daya yang siap. Maka perempuan dan anak-anak diajak untuk melaksanakan itu," kata Zaki.

Baca Juga:

Pengamat Ungkap "Nuansa Lokal" Serangan Teror yang Berbeda dari Titah Pimpinan ISIS

Zaki mencontohkan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang juga masih ada di Indonesia.

Jaringan yang sempat menggegerkan Indonesia pada periode 2004 hingga 2009 itu disebut Zaki tak pernah menarget polisi sebagai pihak yang harus diberantas.

Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)
Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

Justru saat ini, kata dia, JI punya pola baru. "Mereka punya konsentrasi untuk membangun laskar di beberapa tempat dan dakwah untuk membangun ideologi di masyarakat," kata Zaki.

Sedangkan JAD, menurut Zaki, lebih banyak melakukan aksi yang mereka sebut sebagai jihad atau serangan kepada thogut. Apalagi, JAD merupakan kepanjangan tangan dari kelompok teror ISIS yang ada di Suriah.

"Sekitar 80 persen pelaku serangan teror itu terkoneksi dengan JAD, baik secara struktural maupun secara fungsional," kata Zaki. (Knu)

Baca Juga:

Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Teror di Medan sebagai Strategi ISIS

#Jaringan Teroris #Aksi Teror #Terorisme
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa Ditangkap Tak Jauh dari Sekolah
Tim penyidik Polda Metro Jaya saat ini tengah memeriksa intensif terduga pelaku teror bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa guna mengungkap motif asli tindakan tersebut
Angga Yudha Pratama - Senin, 13 Juli 2026
Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa Ditangkap Tak Jauh dari Sekolah
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Indonesia
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Presiden RI, Prabowo Subianto, meneken Perpres RAN PE. DPR pun mengapresiasi pencegahan terorisme.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Indonesia
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
untuk aspek penegakan hukum, peran Polri tetap menjadi yang utama. Sementara itu, pelibatan TNI akan disesuaikan dengan bentuk dan tingkat ancaman terorisme yang dihadapi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 10 Februari 2026
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
Bagikan