Sains

Ilmuwan China Kembangkan Teknologi Fiksasi Karbon untuk Bikin Likopen

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 23 September 2024
Ilmuwan China Kembangkan Teknologi Fiksasi Karbon untuk Bikin Likopen

Ilmuwan China kembangkan teknologi untuk menghasilkan likopen.(foto: pexels-edward-jenner)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - LIKOPEN kini tak lagi susah diekstrak. Ilmuwan China berhasil mengembangkan teknologi untuk membuat zat antioksidan kuat ini.

Likopen merupakan antioksidan kuat yang diyakini efektif melawan obesitas, diabetes, dan beberapa penyakit pernapasan. Selain itu, likopen juga disebut memberikan banyak manfaat kesehatan, termasuk perlindungan dari sinar matahari, meningkatkan kesehatan jantung, serta menurunkan risiko beberapa jenis kanker.

Oleh karena itu, likopen banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, dan makanan. Meski umum digunakan dan banyak manfaatnya, likopen tidak mudah diproduksi. Mengekstraksi likopen dari tanaman alami memakan waktu. Di lain sisi, sintesis kimia likopen merupakan proses yang rumit dan memakan banyak energi.

Tidak mengherankan jika likopen cukup mahal. Zat antioksidan ini diperdagangkan dengan biaya hingga USD 708.800 atau sekitar Rp 10,8 miliar per ton.

Baca juga:

Tubuh Sangat Butuh Jenis Antioksidan ini di Usia 40 agar Kulit Sehat



Namun, ilmuwan China mengubah keadaan. Seperti dilansir South China Morning Post, Senin (23/9), tim peneliti dari Universitas Pertanian Qingdao berhasil mengembangkan teknologi biologi sintetik yang mampu mengatasi masalah-masalah tersebut. Pemimpin tim, Profesor Yang Jianming, memutuskan untuk menggunakan metode biologis yang disebut ‘teknologi fiksasi karbon’ untuk menghasilkan likopen.

Dalam metode ini, organisme mengubah karbon dioksida menjadi senyawa organik, seperti yang terjadi pada fotosintesis tanaman. Teknologi ini menggunakan mikroorganisme sebagai bioreaktor untuk memproduksi bahan kimia, material, atau obat-obatan. Kelebihannya, teknologi ini juga mampu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Yang menyatakan teknologi ini memiliki keunggulan karena merupakan cara yang sederhana, berbiaya rendah, dan ramah lingkungan untuk memproduksi likopen.(*)

Baca juga:

3 Jenis Teh Kaya Antioksidan, Lindungi Tubuh Dari Berbagai Penyakit

#Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama sampel dari Mars atau bulan-bulannya dikembalikan untuk dianalisis di laboratorium di Bumi.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Bagikan