Hafalan versus Kreativitas di Bangku Sekolah

P Suryo RP Suryo R - Jumat, 29 November 2019
Hafalan versus Kreativitas di Bangku Sekolah

Kreativitas seolah mati begitu saja jika mereka tak bisa meraih nilai bagus. (Foto: Pexels/Pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEKOLAH dan belajar menjadi momok menakutkan bagi siswa Indonesia. Bagaimana tidak? Setiap harinya selama delapan jam mereka harus berkutat dengan materi pelajaran. Belasan mata pelajaran harus dihafalkan dan dikuasai demi sebuah pencapaian: nilai yang bagus.

Keterampilan dan bakat alami yang mereka bawa sejak lahir seolah terabaikan begitu saja. Kreativitas seolah mati begitu saja jika mereka tak bisa meraih nilai bagus untuk semua mata pelajaran yang diempukan. Esensi pendidikan seolah tergerus karena attitude bukan lagi menjadi hal yang dipedulikan oleh para pengajar dan pelajar.

Baca Juga:

Parents, Gali Juga Potensi Anak di Luar Akademik

sekolah
Proses belajar dengan metode hafalan hanya menguntungkan pihak pengajar. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Melihat hal tersebut, para praktisi pendidikan dari berbagai latar belakang bersatu. Tak henti mendiskusikan formula yang pas untuk para pelajar Indonesia demi masa depan bangsa. Itu karena pendidikan adalah refleksi masa depan. Apa yang dipelajari hari ini akan berdampak pada masa depan.

Praktisi dan Pengamat Pendidikan, Itje Chodijah menuturkan bahwa proses belajar dengan metode hafalan hanya menguntungkan pihak pengajar. "Tinggal suruh anak hafalkan, kemudian guru buat soal, kemudian soal diisi oleh anak-anak berdasarkan hafalan, kemudian gurunya dapat nilai, laporan beres. Tugasnya selesai karena laporannya selesai," urainya ditemui di acara Perkuat Ekosistem Penddikan untuk Siapkan SDM Unggul, Kamis (28/11).

Sementara itu, apa yang didapatkan oleh anak hanyalah selembar kertas berisi nilai. Kita tidak tahu maknanya apa untuk anak. Nyaris tidak ada proses yang melibatkan anak berpikir, menganalisa, dan menyambungkan dengan kebutuhan dirinya. Ironisnya lagi, pada akhirnya anak-anak hanya bergantung pada angka.

Hal berbeda akan diraih jika melibatkan kreativitas dan mengenyahkan metode hafalan di bangku sekolah. "Ketika menggunakan kreativitas maka pengetahuan yang didapatkan oleh anak tidak serta merta diujikan tetapi dibahas, diinternalisasikan pada anak, dan dihubungkan pada lingkungan yang ada di sekitar anak," lanjutnya lagi. Jika demikian, anak bisa memproduksi informasinya dengan baik.

Cara itulah yang kemudian diadaptasi dan disosialisasikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Anwar Makariem, B.A., M.B.A. Proses belajar para siswa tak lagi akrab dengan hafal menghafal. Mereka akan disibukan dengan proyek kelas yang menuntut mereka berpikir kritis dan berinovasi. "Pendidikan yang selama ini hafalan akan diubah menjadi pemikiran kreatif. Kurikulum akan menekankan pada kreatif dan pembelajaran proyektif. Ke depan bukan lagi tahu apa tetapi bisa apa," ungkap Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ir. Ananto Kusuma Seta, M.SC, Ph.D.

Baca Juga:

4 Alasan Kenapa Perlu Membiarkan Anak 'Nakal' Pada Masanya

sekolah
Ananto Kusuma Seta, agaimana membuat proses belajar layaknya bermain yang menyenangkan. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Selain pemikiran kreatif, Ananto menerangkan bahwa hal penting dalam dunia pendidikan di masa depan adalah passion dan playfulness. "Dengan passion yang dimiliki, anak tahu bagaimana membuat proses belajar layaknya bermain yang menyenangkan," tuturnya ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.

"Di masa depan, ekonomi Indonesia adalah ekonomi yang berbasis budaya dam tidak akan bisa digantikan robot," tegas Ananto.

Perubahan itu tentu saja menuntut kebisaan guru. Di dalam kelas, guru harus mampu mengajak anak-anak menganalisa informasi yang dibaca bukannya dihafalkan dengan cara dan attitude yang tepat. Kemudian dia tahu bagaimana membangun motivasi pada anak-anak.

Pemerhati dan Praktisi Manajemen SDM, PM Susbandono menilai di masa sekarang guru dan dosen adalah pekerjaan paling sulit. Ia mengatakan,Kalau dulu guru mengajar, butuh empat hingga lima tahun bagi siswa menyadari bahwa yang diajarkan gurunya salah. Sementara sekarang dalam waktu lima menit saja murid bisa menyadari bahwa yang diajarkan gurunya salah. "Kemajuan teknologi saat ini membuat siswa bisa langsung mengoreksi kesalahan gurunya dalam hitungan menit," demikian analisisnya.

Untuk itu, ia menganggap tugas guru tak lagi membagikan ilmu pengetahuan tetapi juga mencontohkan perilaku baik. "Teladan guru bukan lagi dari aspek pengetahuan tetapi dari cara bicara, sikap dan nilai yang dipegang," tukasnya. (avia)

Baca Juga:

Pentingnya Kedekatan Ayah dan Anak, Berpengaruh Pada Kecerdasan Si Kecil

#Anak Sekolah
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Iftinavia Pradinantia

I am the master of my fate and the captain of my soul
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Survei Temukan Ratusan Iklan Rokok Dekat Sekolah, Matraman Jadi Titik Terparah
Hasil survei penelitian IYCTC mendapati 99 persen iklan rokok luar ruang di Jakarta terpasang dalam radius 500 meter dari sekolah, melanggar PP Nomor 28 Tahun 2024 dan Pergub DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2015.
Wisnu Cipto - Jumat, 26 Juni 2026
Survei Temukan Ratusan Iklan Rokok Dekat Sekolah, Matraman Jadi Titik Terparah
Indonesia
Tanggapi Seskab Teddy, DPR Minta Target Proyek Jembatan 2027 Ditambah 2 Kali Lipat Jadi 10.000
Komisi V DPR minta target 2027 ditingkatkan jadi 10.000 rpoyek jembatan demi akses dan keselamatan masyarakat pelosok.
Wisnu Cipto - Kamis, 25 Juni 2026
Tanggapi Seskab Teddy, DPR Minta Target Proyek Jembatan 2027 Ditambah 2 Kali Lipat Jadi 10.000
Indonesia
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan Ribuan Siswa Alami Masalah Gigi dan Anemia
Program Cek Kesehatan Gratis di sekolah menemukan berbagai masalah kesehatan siswa, mulai dari gangguan kebugaran, gigi berlubang, anemia hingga tekanan darah meningkat.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 07 Mei 2026
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan Ribuan Siswa Alami Masalah Gigi dan Anemia
Indonesia
Siswa SD di Pemalang Diisukan Dikeluarkan dari Sekolah karena Orangtuanya Kritik MBG, ini Kronologinya
Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Tengah secara tegas mengatakan informasi tersebut tidak benar dan merupakan kesalahpahaman yang telah diselesaikan pihak sekolah.
Dwi Astarini - Rabu, 06 Mei 2026
Siswa SD di Pemalang Diisukan Dikeluarkan dari Sekolah karena Orangtuanya Kritik MBG, ini Kronologinya
Indonesia
Anak Indonesia Wajib Sekolah Lebih Awal, DPR RI Dorong Standarisasi Fasilitas PAUD Nasional
Melalui integrasi PAUD ke dalam skema wajib belajar, target besar pemerintah adalah menciptakan pemerataan kualitas pendidikan yang berkualitas di seluruh pelosok Indonesia demi menyambut generasi emas
Angga Yudha Pratama - Senin, 04 Mei 2026
Anak Indonesia Wajib Sekolah Lebih Awal, DPR RI Dorong Standarisasi Fasilitas PAUD Nasional
Indonesia
Prabowo Senang 218 Jembatan di Berbagai Daerah Rampung, Anak Sekolah Tidak Lagi Duduk di Kelas Dengan Pakaian Basah
Presiden menuturkan ratusan jembatan itu dibangun untuk membantu masyarakat di daerah terdampak bencana dan wilayah-wilayah yang membutuhkan akses penghubung.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Prabowo Senang 218 Jembatan di Berbagai Daerah Rampung, Anak Sekolah Tidak Lagi Duduk di Kelas Dengan Pakaian Basah
Indonesia
Bocoran 63 Sekolah Swasta di Jakarta yang Bakal Gratis Tahun Ini
Hingga saat ini, sekolah-sekolah unggulan seperti SMA Plus Khadijah Islamic School dan SMK Cyber Media telah membuktikan efektivitas program ini
Angga Yudha Pratama - Jumat, 27 Februari 2026
Bocoran 63 Sekolah Swasta di Jakarta yang Bakal Gratis Tahun Ini
Indonesia
Polda NTT Kirim Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di Ngada
Polda NTT menangani kasus bunuh diri siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada. Kapolda NTT mengirim tim konselor untuk mendampingi keluarga korban.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 04 Februari 2026
Polda NTT Kirim Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di Ngada
Indonesia
Siswa Aceh Utara Belajar di Lumpur, DPR Desak Bantuan Perabotan
Ia menekankan bahwa pemerintah harus hadir dengan bantuan konkret agar anak-anak tidak berlama-lama terjebak dalam situasi pendidikan yang tidak layak
Angga Yudha Pratama - Kamis, 22 Januari 2026
Siswa Aceh Utara Belajar di Lumpur, DPR Desak Bantuan Perabotan
Indonesia
Desak Negara Hadir Selamatkan Pendidikan 700 Ribu Anak Papua
Lalu Hadrian menegaskan bahwa hambatan pendidikan di Papua memang nyata adanya
Angga Yudha Pratama - Kamis, 18 Desember 2025
Desak Negara Hadir Selamatkan Pendidikan 700 Ribu Anak Papua
Bagikan