Polda NTT Kirim Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di Ngada
Tulisan tangan siswa SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri. (Foto: Polres Ngada)
MerahPutih.com - Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menangani kasus bunuh diri MBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, yang meninggal dunia usai diduga mengalami tekanan akibat persoalan ekonomi keluarga.
Sebagai bentuk respons cepat, Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko mengirimkan tim konselor psikologi untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban, khususnya orang tua.
“Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban,” kata Rudi di Kupang, Rabu (4/2).
Tim yang diturunkan terdiri dari Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan, Kasubbag Psipol Bagian Psikologi Biro SDM Kompol Prasetyo Dwi Laksono, serta Bamin Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT Bripda Yoseph Alexander Rewo.
Baca juga:
Tragedi Anak di NTT, Komisi VIII DPR Minta Negara Hadir Lindungi Hak Pendidikan
Pendampingan psikologis tersebut dijadwalkan berlangsung mulai Rabu, 4 Februari hingga Minggu, 8 Februari 2026, dan berlokasi di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada.
“Tim melakukan pembinaan dan pendampingan mental kepada keluarga korban,” ujar Kapolda NTT.
Rudi menambahkan, peristiwa gantung diri yang menimpa siswa sekolah dasar tersebut menjadi perhatian serius jajaran Polda NTT. Usai kejadian, ia juga memerintahkan Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino untuk langsung menemui keluarga korban.
“Saya sudah perintahkan Kapolres Ngada ke kediaman orang tua korban,” kata Rudi.
Baca juga:
Bocah SD Tak Bisa Beli Buku Bunuh Diri di NTT Potret Hitam Dunia Pendidikan
Sementara itu, penyebab meninggalnya MBR mulai terungkap. Korban diduga mengalami kekecewaan mendalam karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, korban yang berinisial YBR meminta uang kepada ibunya untuk membeli perlengkapan sekolah.
Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi lantaran kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.
Dion mengungkapkan, YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa yang berbeda. Pada malam sebelum kejadian, YBR diketahui menginap di rumah ibunya untuk menyampaikan permintaan tersebut. (Knu)
Bagikan
Joseph Kanugrahan
Berita Terkait
Tragedi Siswa SD di NTT, Pendidikan Kawasan 3T Harus Jadi Prioritas Nasional
Nyawa Melayang Tak Mampu Beli Buku, Surat Perpisahan YBR Simbol Nestapa Anak Miskin
Bocah SD NTT Bunuh Diri, Mensesneg Prasetyo Hadi 'Warning' Aparat Desa
Siswa SD Tak Mampu Beli Buku Bunuh Diri, Ketua DPR: Biaya Pendidikan Bukan Cuma Sekolah Gratis
Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Polda NTT Kirim Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di Ngada
Tragedi Anak di NTT, Komisi VIII DPR Minta Negara Hadir Lindungi Hak Pendidikan
Bocah SD Tak Bisa Beli Buku Bunuh Diri di NTT Potret Hitam Dunia Pendidikan
Tali Nilon dan Surat Pendek, Kronologis Kisah Pilu Bocah SD Bunuh Diri Tak Bisa Beli Alat Sekolah di NTT
Bocah SD Tidak Bisa Beli Buku Bunuh Diri Alarm Hilangnya Tanggung Jawab Sosial