MerahPutih.com - Peristiwa tragis menimpa YBR, siswa kelas IV SD di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bunuh diri diduga karena tidak mampu membeli buku dan pulpen seharga Rp 10.000.
Gerakan Rakyat menilai kasus ini sebagai tamparan keras bagi pemerintah dan bukti nyata kegagalan negara dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem.
“Ibu Pertiwi menangis. Seorang anak sekolah dasar bunuh diri karena kemiskinan,” kata Wakil Ketua Umum Gerakan Rakyat Bidang Peningkatan Kualitas Manusia, Mira Pane, dalam keterangannya kepada media, Kamis (5/2).
Baca juga:
Bocah SD NTT Bunuh Diri, Mensesneg Prasetyo Hadi 'Warning' Aparat Desa
Surat Perpisahan YBR
Sebelum meninggal, YBR meninggalkan surat pendek dalam bahasa Ngadha yang ditujukan kepada ibunya, Mama Reti, yang berisi pesan perpisahan dan permintaan agar sang ibu merelakan kepergiannya.
Surat pendek itu ditulis menggunakan bahasa Ngadha, "Kertas tii Mama Reti. Mama Galo zee. Mama molo ja'o. Galo Mata Mao Rita ee Mama", artinya "Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya mama".
Baca juga:
Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Pesan untuk Ibu Pertiwi
Mira yang juga seorang psikolog menilai surat itu bukan hanya pesan pribadi, melainkan simbol penderitaan anak-anak Indonesia yang kehilangan harapan akibat kemiskinan.
“Surat itu sesungguhnya bukan hanya untuk Mama Reti, surat itu untuk semua Ibu, surat untuk Ibu Pertiwi. Tanah air yang kaya, tapi telah membuat anaknya harus bunuh diri karena kehilangan harapan akan masa depan,” tuturnya.
Baca juga:
Bocah SD Tak Bisa Beli Buku Bunuh Diri di NTT Potret Hitam Dunia Pendidikan
Tamparan Keras untuk Pemerintah
Mira menegaskan aksi bunuh diri YBR adalah tamparan keras bagi pemerintah yang selama ini lantang berjanji memerangi kemiskinan.
“Pemberantasan kemiskinan masih berupa demagogi, dan retorika politik belaka tanpa aksi yang konkret dan masif, yang belum dirasakan oleh seluruh rakyat,” tandasnya. (Asp)