Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Tulisan tangan siswa SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri. (Foto: Polres Ngada)
MerahPutih.com – Pembenahan sistem pendidikan nasional kian mendesak menyusul kasus tragis seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang meninggal dunia karena bunuh diri akibat tidak mampu membeli buku dan alat tulis.
Sistem pendidikan nasional kini seharusnya tidak hanya dari sisi akademik tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan ekonomi siswa.
"Pendidikan yang baik harus mampu memberikan ruang nyaman bagi anak saat belajar. Bagaimana sekolah turut memperhatikan personal dan ekonomi siswanya," kata Ketua DPR Puan Maharani Soekarnoputri, dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Kamis (5/2)
Baca juga:
Bocah SD Tak Bisa Beli Buku Bunuh Diri di NTT Potret Hitam Dunia Pendidikan
Akar Masalah Kemiskinan
Untuk itu, Ketua DPR juga menekankan perlunya pemerintah menjangkau masyarakat di daerah dengan program bantuan sosial.
Menurutnya, kepedulian sosial di lingkungan sekolah harus menjadi bagian dari peta jalan pendidikan nasional agar kejadian tragis yang dialami YBR tidak terulang lagi di masa depan.
“Kita perlu lihat persoalan di Ngada secara lebih jauh lagi, kasus ini muncul karena kemiskinan. Sehingga negara harus menghilangkan akar masalah kemiskinan,” tandas Puan.
Baca juga:
1 dari 9 Anak di Indonesia Hidup Miskin
Kasus YBR, siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT, yang berusia 10 tahun, menyentak perhatian publik. Korban ditemukan meninggal dunia karena gantung diri karena tidak mampu membeli buku tulis dan pulpen.
Angka kemiskinan di Indonesia berdasarkan laporan Bappenas-UNICEF yang dirilis November 2025 menemukan 11,8 persen anak hidup di bawah garis kemiskinan nasional.
Artinya, jika dirata-rata ada lebih dari satu dari sembilan anak di Indonesi hidup di level ekstrem miskin. Kondisi ini berdampak langsung pada akses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan psikologis anak. (*)
Bagikan
Wisnu Cipto
Berita Terkait
Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Polda NTT Kirim Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di Ngada
Tragedi Anak di NTT, Komisi VIII DPR Minta Negara Hadir Lindungi Hak Pendidikan
Bocah SD Tak Bisa Beli Buku Bunuh Diri di NTT Potret Hitam Dunia Pendidikan
Siswa Meninggal Karena Tidak Bisa Beli Buku, Tamparan Bagi Dunia Pendidikan
Tali Nilon dan Surat Pendek, Kronologis Kisah Pilu Bocah SD Bunuh Diri Tak Bisa Beli Alat Sekolah di NTT
Bocah SD Tidak Bisa Beli Buku Bunuh Diri Alarm Hilangnya Tanggung Jawab Sosial
Siswa SD di NTT Bunuh Diri Diduga tak Mampu Beli Buku, DPR Minta Kemendikdasmen Usut Tuntas
Guru Pamulang Dipolisikan karena Nasihati Murid, DPR Desak Restorative Justice
Komisi X DPR Nilai Gaji Guru Honorer Belum Sejahtera, Usulkan Rp 5 Juta per Bulan