Bocah SD Tidak Bisa Beli Buku Bunuh Diri Alarm Hilangnya Tanggung Jawab Sosial
Tulisan tangan siswa SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri. (Foto: Polres Ngada)
MerahPutih.com - Kasus bunuh diri siswa SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga dipicu karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis menjadi sorotan Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira.
Politikus asal NTT itu menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tragis itu. Andreas menilai kasus ini sebagai tanda darurat kondisi sosial masyarakat.
“Peristiwa meninggalnya seorang bocah SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, karena dugaan bunuh diri dengan menggantungkan diri sangat memilukan semua kita yang mempunyai hati,” kata Andreas, di Jakarta, Rabu (4/2).
Baca juga:
Siswa SD di NTT Bunuh Diri Diduga tak Mampu Beli Buku, DPR Minta Kemendikdasmen Usut Tuntas
Cegah Spekulasi Liar
Andreas menekankan tiga langkah penting yang harus segera dilakukan. Pertama, aparat kepolisian diminta mengusut tuntas penyebab kematian agar tidak berkembang spekulasi liar.
“Terhadap kasus ini, pertama, pihak kepolisian perlu menyelidiki penyebab dan menjelaskan penyebab kematian ini secara jelas,” tutur politikus senior PDIP itu
Kedua, lanjut dia, pemerintah daerah didorong untuk turun tangan membantu keluarga korban secara serius. Menurut dia, perlindungan sosial harus benar-benar dirasakan masyarakat, khususnya keluarga tidak mampu.
Baca juga:
Putus Rantai Kemiskinan, Prabowo Targetkan 500 Ribu Murid Masuk Sekolah Rakyat
Refleksi Kolektif Tanggung Jawab Sosial
Terakhir, Andreas menekankan pentingnya refleksi kolektif atas tragedi tersebut. Dia menilai kematian YBS mencerminkan lemahnya perhatian dan kepedulian sosial terhadap anak-anak.
Andreas berharap tragedi ini menjadi pelajaran bersama agar semua pihak, baik keluarga, masyarakat, maupun negara, lebih peka terhadap kondisi sosial anak-anak.
“Ketiga, bagaimanapun peristiwa ini merupakan tamparan untuk kita sebagai masyarakat ketika seorang bocah meninggal tragis karena putus asa, hilangnya perhatian, dan kasih sayang,” tandasnya. (Pon)
Bagikan
Ponco Sulaksono
Berita Terkait
Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Polda NTT Kirim Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di Ngada
Tragedi Anak di NTT, Komisi VIII DPR Minta Negara Hadir Lindungi Hak Pendidikan
Bocah SD Tak Bisa Beli Buku Bunuh Diri di NTT Potret Hitam Dunia Pendidikan
Tali Nilon dan Surat Pendek, Kronologis Kisah Pilu Bocah SD Bunuh Diri Tak Bisa Beli Alat Sekolah di NTT
Bocah SD Tidak Bisa Beli Buku Bunuh Diri Alarm Hilangnya Tanggung Jawab Sosial
Siswa SD di NTT Bunuh Diri Diduga tak Mampu Beli Buku, DPR Minta Kemendikdasmen Usut Tuntas
Pemprov NTB dan NTT Nyatakan Kesiapan Gelar PON XXII 2028
2 Bibit Siklon Terpantau di Sekitar NTT, Bawa Potensi Hujan Ringan hingga Lebat
Cak Imin Tegaskan Reforma Agraria Dipercepat, Prioritas Desil 1–2 dengan Target 1 Juta Penerima