Tragedi Siswa SD di NTT, Pendidikan Kawasan 3T Harus Jadi Prioritas Nasional
Guru bersama anak didik di salah satu desa wilayah Soe, NTT. (Foto: Mercy)
MerahPutih.com – Legislator mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menjadikan pendidikan di kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) sebagai skala prioritas nasional.
Desakan ini muncul setelah tragedi meninggalnya YBR, siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri karena keterbatasan ekonomi keluarga untuk membeli buku dan alat tulis seharga Rp 10.000.
“Ini peristiwa yang membuat bangsa prihatin. Program pemenuhan kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis harus disiapkan secara sistematis. Pemerintah wajib memiliki peta pendidikan yang akurat dan pendataan utuh terkait kebutuhan riil di kawasan 3T,” kata Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad, di Jakarta, Kamis (5/2).
Baca juga:
Bocah SD NTT Bunuh Diri, Mensesneg Prasetyo Hadi 'Warning' Aparat Desa
Potret Buram Pendidikan di Kawasan 3T
Menurut Habib, kasus YBR sebagai bukti rapuhnya perlindungan negara terhadap anak-anak di pelosok yang perlunya penanganan khusus dan darurat.
Apalagi, khusunya bagi wilayah 3T seperti NTT yang menghadapi kompleksitas masalah pendidikan, mulai dari akses geografis yang sulit, kemiskinan struktural, hingga minimnya fasilitas fisik sekolah.
“Banyak sekolah di NTT kondisinya rusak parah bahkan ambruk, namun tetap dipaksakan untuk kegiatan belajar mengajar,” ungkap legislator asal Jawa Barat itu.
Baca juga:
Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Angka Putus Sekolah dan Kekurangan Guru
Data BPS (2025) menunjukkan angka putus sekolah di kawasan 3T masih mencapai 8,7 persen, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 3,2 persen.
Habib juga menyoroti krisis tenaga pendidik. Menurutnya, banyak guru tidak bertahan lama karena tantangan hidup yang berat dan minimnya insentif tambahan.
“Banyak guru hanya bertahan dua sampai tiga tahun. Tidak ada tunjangan khusus sebagaimana profesi lain. Kondisi ini jelas berdampak pada kualitas dan keberlanjutan pendidikan anak-anak kita di sana,” tandasnya. (Pon)
Bagikan
Ponco Sulaksono
Berita Terkait
Tragedi Siswa SD di NTT, Pendidikan Kawasan 3T Harus Jadi Prioritas Nasional
Belajar dari Tragedi Bocah SD NTT, Anak Cowok Juga Butuh Ruang Aman Bercerita
Nyawa Melayang Tak Mampu Beli Buku, Surat Perpisahan YBR Simbol Nestapa Anak Miskin
Bocah SD NTT Bunuh Diri, Mensesneg Prasetyo Hadi 'Warning' Aparat Desa
Siswa SD Tak Mampu Beli Buku Bunuh Diri, Ketua DPR: Biaya Pendidikan Bukan Cuma Sekolah Gratis
Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Polda NTT Kirim Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di Ngada
Tragedi Anak di NTT, Komisi VIII DPR Minta Negara Hadir Lindungi Hak Pendidikan
Bocah SD Tak Bisa Beli Buku Bunuh Diri di NTT Potret Hitam Dunia Pendidikan