MerahPutih.com - Tragedi siswa SD berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang meninggal diduga bunuh diri karena keterbatasan ekonomi untuk bersekolah, kini menjadi perhatian serius elit politik nasional.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menilai tragedi itu membuktikan anak laki-laki juga kerap mengalami masalah psikis, tetapi belum mendapatkan ruang aman untuk berbicara.
“Mereka juga butuh untuk didengarkan. Anak laki-laki berhak merasa aman untuk berbicara dan meminta bantuan,” kata Arifah dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/2).
Baca juga:
Nyawa Melayang Tak Mampu Beli Buku, Surat Perpisahan YBR Simbol Nestapa Anak Miskin
6.000 Anak Laki-Laki Indonesia Jadi Korban Kekerasan
Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) Kemen PPPA, mencatat lebih dari 6.000 anak laki-laki menjadi korban kekerasan, baik fisik, psikis, maupun seksual sepanjang 2025. Namun, banyak anak laki-laki memilih diam karena stigma dan rasa takut.
“Kondisi ini menegaskan bahwa perlindungan anak harus inklusif dan responsif terhadap kebutuhan korban tanpa membedakan jenis kelamin,” imbuh Menteri PPPA.
Baca juga:
Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Penguatan Maskulinitas Positif
Untuk itu, Arifah meminta Pemerintah Daerah Ngada untuk merekrut psikolog klinis yang ditempatkan di RSUD, UPTD PPPA, dan Puskesmas.
Tim profesi ini diperlukan untuk memberikan ruang aman bagi anak untuk konseling gangguan kesehatan jiwa maupun pendampingan korban kekerasan dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
“Kemen PPPA terus mendorong penguatan maskulinitas positif agar anak dan remaja laki-laki memiliki ruang aman untuk mengekspresikan emosi, mencari pertolongan, dan berbicara ketika menghadapi masalah,” tandasnya. (Knu)