Fat Shaming Bisa Datang dari Siapa Saja, Termasuk Dokter

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Minggu, 06 Juni 2021
Fat Shaming Bisa Datang dari Siapa Saja, Termasuk Dokter

Stigma berat badan dapat menghalangi usaha untuk mencari perawatan kesehatan. (Foto: 123RF/Dmytro)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KELEBIHAN berat badan membuat orang menghindari layanan kesehatan. Demikian sebuah penelitian yang melakukan survei di Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.

Lebih dari setengah orang dewasa dalam survei tersebut mengatakan, mereka pernah mengalami penghinaan dari dokter, keluarga, teman, teman sekelas, dan rekan kerja akibat kelebihan berat badan. Tindakan fat shaming menyebabkan orang yang kelebihan berat badan menyalahkan diri sendiri dan menghindari perawatan kesehatan.

Stigma berat badan tersebut begitu umum, sangat merugikan harga diri seseorang dan menghalangi usaha untuk mencari perawatan kesehatan. Hal ini telah menjadi masalah ketidakadilan sosial dan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, seperti dikatakan wakil direktur di Rudd Center for Food Policy and Obesity di University of Connecticut, Rebecca Puhl.

Baca juga:

Segala Hal yang Pernah Kamu Tahu Tentang Berat Badan Mungkin Keliru

"Stigma adalah musuh bagi kesehatan," jelas Puhl. "Sama seperti kesehatan mental, stigma berat badan adalah masalah kesehatan masyarakat yang nayata, dan kita perlu melegitimasinya dengan cara yang belum pernah dilakukan," tambahnya.

Prevalensi stigma berat badan sangat signifikan karena penyebab obesitas kompleks dan seringkali di luar kendali pribadi. Itu telah mempelajari stigma berat badan selama hampir dua dekade. Peran masyarakat yang memfasilitasi obesitas dengan mempopulerkan budaya makanan cepat saji dan makanan olahan tinggi serta kurangnya aktivitas fisik, kerap diabaikan.

"Kita mengabaikan semua bagian lain dari teka-teki seperti genetika, lingkungan, biologi, pertanian, harga makanan, gurun makanan, dan aksesibilitas," lanjut Puhl. "Sebaliknya, kepercayaan masyarakat yang terlalu disederhanakan dan tidak akurat ini bertahan bahwa jika berusaha cukup keras, kamu dapat memiliki tubuh apa pun yang diinginkan. Itulah keyakinan yang benar-benar memicu stigma berat badan masyarakat," jelasnya.

"Pada dasarnya, masalah ini adalah tentang rasa hormat dan martabat dan perlakuan yang sama terhadap orang-orang dengan ukuran dan berat tubuh yang berbeda," Puhl seperti dikutip dari CNN (4/6).

Fat Shaming Bisa Datang dari Siapa Saja, Termasuk Dokter
Anggota keluarga paling mungkin melakukan fat shaming. (Foto: 123RF/Olga Yastremska)

Hampir 14.000 anggota WW (Weight Watchers) di enam negara disurvei antara Mei dan Juli 2020, soal pengalaman mereka dengan stigma berat badan dan pengaruhnya terhadap harga diri dan kesediaan mereka untuk mencari bantuan perawatan kesehatan.

Hasilnya, inilah kelompok yang kerap memberikan stigma yang menyakitkan dan makin memperburuk kondisi kesehatan orang dengan masalah berat badan.

Keluarga dan Orang-orang Terdekat

Anggota keluarga paling mungkin melakukan fat shaming. Demikian menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Selasa (1/6) di International Journal of Obesity.

Antara 76 persen dan 88 persen orang yang disurvei pernah mengalami penghinaan berat badan dari orangtua, saudara kandung atau anggota keluarga lain, sebagian besar selama masa kanak-kanak dan remaja.

Stigma itu adalah hasil yang tidak disengaja dari orang-orang terdekat, mereka yang mencoba membantu mengatasi masalah berat badan dan meningkatkan kesehatan. Namun, tidak demikian yang ditemukan dalam penelitian itu.

"Ketika kami mengajukan pertanyaan terbuka tentang pengalaman orang-orang tentang stigma berat badan dari anggota keluarga, seringkali itu adalah kritik yang sangat keras, ejekan, olok-olok," kata Puhl.

"Seperti menyebut mereka gemuk hingga membuat pernyataan bahwa mereka tidak akan pernah menemukan pacar karena berat badan, komentar yang benar-benar meremehkan yang memiliki dampak jangka panjang," tambahnya.

Dia mengingatkan, kita perlu membantu keluarga terlibat dalam komunikasi yang lebih mendukung. Termasuk mengurangi stigmatisasi kepada anggota yang mengalami masalah berat badan.

Fat Shaming Bisa Datang dari Siapa Saja, Termasuk Dokter
Teman sekelas berada di urutan kedua di tingkatan pelaku fat shaming. (Foto: 123RF/rawpixel)

Teman di Sekolah dan Kantor

Teman sekelas berada di urutan kedua di tingkatan pelaku fat shaming dengan 72 persen hingga 81 persen. Peserta survei mengatakan, mereka diejek atau diintimidasi di sekolah. Antara 54 persen dan 62 persen dari mereka yang menanggapi survei mengatakan rekan kerja telah mempermalukan mereka di tempat kerja.

Akhirnya, bahkan pada mereka yang kritis tentang berat badan pun, antara 49 persen dan 66 persen pernah mengalami komentar negatif dari teman-teman. "Orang-orang mengalami stigma berat badan dalam berbagai hubungan interpersonal yang erat dan di berbagai latar, baik itu perawatan kesehatan, pekerjaan, atau di rumah," ujar Puhl.

Baca juga:

Jangan Sampai Didiamkan, Ini Cara Menghentikan Tindakan 'Bullying'

Dokter dan Tenaga Kesehatan

Pada penyelidikan multinasional pertama tentang hubungan antara stigma berat badan dan pengalaman perawatan kesehatan, Puhl dan rekan-rekannya menggunakan dataset WW yang sama dalam studi kedua untuk melihat apakah peserta survei merasa dokter menilai mereka berdasarkan berat badan. Studi ini diterbitkan Selasa (1/6) di jurnal PLOS ONE.

Puhl mengatakan, studi sebelumnya telah mengidentifikasi stigma berat badan, atau bias, di antara para profesional medis, tetapi penelitian ini fokus di AS. Dalam studi berikutnya, ditemuka antara 63 persen dan 74 persen orang yang disurvei di Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, dan AS merasa diremehkan karena berat badan mereka saat mengunjungi dokter untuk perawatan kesehatan.

Pada enam negara tersebut, orang-orang yang menginternalisasi stigma itu, atau menyalahkan diri mereka sendiri atas berat badan mereka, lebih mungkin untuk menghindari perawatan kesehatan. Demikian temuan studi yang dilakukan Puhl dan rekan-rekannya.

"Mereka akan lebih jarang melakukan pemeriksaan ke dokter. Mereka lebih cenderung melihat bahwa dokter menilai secara negatif tentang berat badan mereka, serta bahwa dokter kurang menghormati dan tidak mendengarkan kebutuhan mereka," kata Puhl.

Studi tersebut juga menemukan, keyakinan itu bertahan bahkan jika orang tersebut tidak kelebihan berat badan secara signifikan. "Perlu dicatat bahwa berat badan tidak terkait dengan pengalaman perawatan kesehatan itu, jadi itu hanya internalisasi stigma," tambahnya.

Sementara, penelitian sebelumnya menunjukkan, ketika orang mengalami stigma berat badan dan menginternalisasikannya, hal itu sendiri dapat memprediksi kenaikan berat badan.

"Persepsi umum adalah bahwa sedikit rasa malu atau stigma mungkin memotivasi orang untuk menurunkan berat badan, tapi bukan itu yang kita lihat dalam penelitian," jelas Puhl. Ia melanjutkan, "faktanya, ketika orang mengalami stigma berat badan, ini sebenarnya berkontribusi pada perilaku makan yang tidak sehat, aktivitas fisik yang lebih rendah dan penambahan berat badan."

Pola itu juga terlihat dalam kedua penelitian di semua negara: Semakin banyak orang menyalahkan diri sendiri atas berat badan mereka, semakin besar kenaikan berat badan dalam satu tahun terakhir. Selain itu, semakin banyak dari mereka beralih ke makanan sebagai cara untuk mengatasi stres.

"Temuan ini benar-benar memberi kami alasan kuat untuk menargetkan tidak hanya stigma berat dari dokter atau profesional perawatan kesehatan, tetapi juga menemukan cara untuk membantu orang mengurangi stigma menyalahkan diri sendiri," Puhl menekankan.

Perubahan sikap harus dimulai di rumah, kata Puhl, dengan percakapan penuh kasih tentang perilaku sehat tanpa "membuat anak merasa benar-benar malu atau dihakimi karena seperti apa tubuh mereka."

"Studi kami menunjukkan bahwa ketika orangtua mengalihkan percakapan ke perilaku sehat, itu cenderung jauh lebih efektif," katanya. Fokusnya bukan pada angka pada timbangan berat badan, tetapi pada seluruh keluarga yang makan buah dan sayuran, mengganti soda dengan air, melakukan aktivitas fisik setiap hari.

Menurut Puhl, para remaja kebanyakan lebih suka mendengar kata-kata yang lebih netral, seperti BMI atau berat badan, daripada gemuk, besar, atau berat. Tetapi itu dapat berubah berdasarkan preferensi individu dan jenis kelamin.

"Salah satu hal yang juga kami temukan, terutama untuk anak perempuan, adalah bahwa bahkan ketika orangtua menyebut berat badan dengan cara yang lebih netral, itu masih bisa membuat mereka merasa tertekan secara emosional, jadi mungkin lebih baik untuk tidak mengungkit masalah itu sama sekali," tutupnya. (aru)

Baca juga:

Langkah-langkah Tepat dalam Menghadapi Perlakuan Body Shaming

#Body Shaming #Tenaga Kesehatan #Obesitas #Kesehatan #Kesehatan Mental #Bullying
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Cara Cek Masuk Daftar PBI JKN 2026 Pakai HP, Biar Akses Kesehatan Gratis Tetap Aman
Pemerintah memastikan masyarakat bisa dengan mudah mengecek status kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) 2026 hanya lewat HP.
Wisnu Cipto - Jumat, 04 September 2026
Cara Cek Masuk Daftar PBI JKN 2026 Pakai HP, Biar Akses Kesehatan Gratis Tetap Aman
Indonesia
Asap Karhutla Mengepul, ini nih Pilihan Masker yang Direkomendasikan untuk Melindungi Pernapasan
. Di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, misalnya, ISPU sempat mencapai angka 1.919 pada 2 September 2026 atau masuk kategori berbahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 04 September 2026
Asap Karhutla Mengepul, ini nih Pilihan Masker yang Direkomendasikan untuk Melindungi Pernapasan
Lainnya
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Usus buntu bisa mengakibatkan kematian. Jangan anggap semua sakit perut anak sebagai keluhan biasa.
Wisnu Cipto - Selasa, 01 September 2026
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Lifestyle
Ramalan Zodiak Hari Ini 1 September 2026: Taurus Wajib Waspadai 5 Hal Ini
Ramalan zodiak hari ini 1 September 2026, lengkap dengan asmara, karier, keuangan, dan keberuntungan Aries hingga Pisces. Simak 5 hal yang Taurus wajib waspadai
ImanK - Senin, 31 Agustus 2026
Ramalan Zodiak Hari Ini 1 September 2026: Taurus Wajib Waspadai 5 Hal Ini
Indonesia
Kasus Kanker di Bogor Naik 138 Persen, Mayoritas Payudara dan Paru-Paru
Terjadi lonjakan kasus kanker di Kota Bogor sebesar 138 persen dalam empat tahun terakhir.
Wisnu Cipto - Kamis, 27 Agustus 2026
Kasus Kanker di Bogor Naik 138 Persen, Mayoritas Payudara dan Paru-Paru
Lifestyle
Program Sejuta Vaksin Kanker Serviks Bakal Diperluas ke Seluruh Indonesia
Program Sejuta Vaksin merupakan kerja sama KORPRI seluruh Indonesia dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai pihak dalam upaya mencegah kanker serviks.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 18 Agustus 2026
Program Sejuta Vaksin Kanker Serviks Bakal Diperluas ke Seluruh Indonesia
Indonesia
Prabowo Bongkar Masalah Dokter di Indonesia: Puluhan Ribu Tenaga Medis Masih Dibutuhkan
Prabowo mengungkap Indonesia masih kekurangan 84.781 dokter umum dan 55.712 dokter spesialis. Kebutuhan tenaga medis tersebar di ratusan kabupaten/kota.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 14 Agustus 2026
Prabowo Bongkar Masalah Dokter di Indonesia: Puluhan Ribu Tenaga Medis Masih Dibutuhkan
Indonesia
Viral Nakes Merundung Pasien, Psikolog: . Setiap Unggahan Mencerminkan Karakter
Etika profesional tidak berhenti ketika jam kerja selesai, tetapi juga perlu tercermin dalam perilaku tenaga kesehatan di ruang digital.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 10 Agustus 2026
Viral Nakes Merundung Pasien, Psikolog: . Setiap Unggahan Mencerminkan Karakter
Indonesia
PAM Jaya Perkuat K3, Siapkan Pembangunan 7.000 Km Jaringan Pipa
PAM Jaya kini memperkuat K3 dalam implementasinya. PAM Jaya juga telah menyiapkan pembangunan 7.000 km jaringan pipa.
Soffi Amira - Senin, 10 Agustus 2026
PAM Jaya Perkuat K3, Siapkan Pembangunan 7.000 Km Jaringan Pipa
Indonesia
Kasus Pasien BPJS Yurizal Viral, DPR Tegur Kemenkes Benahi Pola Gaya Komunikasi Nakes
Anggota Komisi III DPR RI Abdullah meminta Kemenkes membenahi sistem komunikasi pelayanan pasien menyusul kasus Yurizal Tri Chaerawan yang viral.
Wisnu Cipto - Minggu, 09 Agustus 2026
Kasus Pasien BPJS Yurizal Viral, DPR Tegur Kemenkes Benahi Pola Gaya Komunikasi Nakes
Bagikan