Demonstrasi yang Beradab: Sampaikan Aspirasi tanpa Ditunggangi
Sejumlah aparat kepolisian berjaga saat bentrok dalam demostrasi mahasiswa di jalan tol dalam kota, Senayan, Jakarta, Selasa, (24/9/2019). (Foto: Merahputih.com/Rizki Fitrianto)
MerahPutih.com- Ketua Presidium JARI 98 Willy Prakarsa menyesalkan adanya aksi demonstrasi yang malah disalahgunakan untuk merusak fasilitas publik. Hal itu menyoal kerusuhan dalam demonstrasi di DPR, beberapa waktu lalu.
Menurut Willy, aksi massa yang merusak tempat-tempat publik adalah suatu pengkhianatan dan mereka ditunggangi kelompok tertentu.
Baca Juga:
Polisi Aniaya dan Ancam Tembak Mahasiswa Pendemo DPR, Korban Lapor Propam
"Tidak seharusnya demo itu merusak fasilitas negara yang uangnya dari uang pajak. Itu bentuk pengkhianatan terhadap orang tua dan almamater karena dibiayai oleh orang tua untuk belajar," kata Willy dalam acara diskusi bertajuk "Demonstrasi yang Beradab", di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/10).
Willy juga menyinggung tentang penumpang gelap dalam kerusuhan demo lalu. Ia mengatakan, penumpang gelap dalam aksi itu adalah bentuk orang yang tidak ikhlas Jokowi menang. Apalagi, penunggang gelap ini diprediksi tengah berupaya menggagalkan Pelantikan Presiden-Wakil Presiden pada 20 Oktober mendatang.
"Itu efek dari Pilpres dan terus merongrong Jokowi. Mereka belum legowo dan kurang dewasa dalam berpolitik dan berdemokrasi, siap menang dan siap kalah," kata Willy.
Para penumpang gelap inilah yang menunggangi berbagai isu yang sedang ramai dibahas publik.
"Ada yang nolak RUU KPK terus pulangnya chaos, apa pun pada waktu itu sudah di-framing oleh KPK dan kita tidak akan pernah benar. Lalu dia hari kemudian, mahasiswa di-breffing ke dalam, dana bos ditilep rektor," terang Willy.
Baca Juga:
Willy menilai, elemen aksi terutama mahasiswa harus berdemokrasi dengan cara yang beradab.
"Jangan bebas memberikan kebebasan dan jangan terlalu kebebasan," terang Willy.
Sementara itu, pengamat intelijen Stanislaus menyebut penunggang aksi unjuk rasa justru lebih kuat daripada yang ditunggangi.
"Jadi kemarin itu tidak ada faktor tunggal, tetapi mengganggu pemerintah. Ujung-ujungnya turunkan Jokowi. Jadi kita harus menyiapkan apa yang akan dilakukan , dengan siapa akan bernegosiasi," kata Stanislaus.
Stanislaus melihat, demo yang terjadi hanya akan dimanfaatkan oleh kelompok yang tidak suka dengan pemerintah.
"Saran saya jika ingin melanjutkan aksi seperti ini setelah pelantikan hubungi Polri, minta dikawal karena tugas Polri mengamankan aksi seperti itu," papar Stanislaus. (Knu)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Negara-Negara Eropa Perintahkan Warganya Secepatnya Tinggalkan Iran
Ancaman Invasi AS dan Kerusuhan Iran, DPR Soroti Keselamatan WNI
Ancaman Invasi AS ke Iran, Pemerintah RI Keluarkan Imbauan untuk WNI
Korban Tewas di Iran Bertambah Jadi 2.500, Jumlah Terbesar dalam Beberapa Dekade Terakhir
Iran Bergolak, Demo Ekonomi Berubah Ricuh hingga 2.000 Orang Tewas
Demo Ojol Hari Ini, Polisi Turunkan 1.541 Aparat dan Imbau Warga Jauhi Ring 1 Monas
Kelompok HAM Sebut Sedikitnya 648 Pengunjuk Rasa Tewas dalam Penindakan di Iran, Khawatirkan Jumlahnya Bisa saja Lebih Banyak
Demo di Iran Tewaskan Sekitar 500 Orang, DPR: Siapkan Rencana Evakuasi WNI, Jangan Tunggu Situasi Memburuk
Hakim Tolak Eksepsi, Perkara Penghasutan Demo Delpedro Marhaen Cs Masuk Pokok Perkara
Picu Perdebatan Publik, Menkum Akui Pasal Penghinaan, Perzinaan, dan Demonstran Jadi Isu Utama KUHP