Parenting

Berbeda, Cara Anak Membaca dari Buku dan Layar

P Suryo RP Suryo R - Selasa, 12 Oktober 2021
Berbeda, Cara Anak Membaca dari Buku dan Layar

Membaca teks pada buku cetak memberikan pemahaman pada anak. (Foto: Unsplash/Gabriel Tovar)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ANAK-anak terlatih membaca cepat ketika scrolling di media sosial. Namun, para ahli mengatakan, untuk tugas sekolah, anak-anak lebih baik jika mereka memperlambat kecepatan membaca.

Selama pandemi ini, orangtua telah menyaksikan, seringkali dengan cemas, ketergantungan anak-anak yang meningkat pada layar untuk setiap aspek pendidikan. Rasanya seolah-olah tidak ada jalan untuk kembali pada masa ketika belajar melibatkan membaca buku yang sebenarnya.

Baca Juga:

Budaya Literasi Penting! Bagaimana Cara Membangun Budaya Literasi?

literasi
Diskusikan cerita dan mengajukan pertanyaan yang membantu anak-anak memahami bacaan. (Foto: 123RF/ferli)

Padahal, format yang dibaca anak-anak dapat membuat perbedaan dalam hal bagaimana mereka menyerap informasi. Naomi Baron, profesor emerita linguistik di American University dan penulis buku How We Read Now: Strategic Choices for Print, Screen and Audio, mengatakan “Ada dua komponen, bentuk media dan pola pikir yang kita bawa ketika membaca di media itu."

Karena kita menggunakan layar untuk tujuan sosial dan hiburan, kita semua, dewasa dan anak-anak, terbiasa menyerap materi daring. Itu sebagian besar dirancang untuk dibaca dengan cepat dan santai, tanpa banyak usaha.

Kemudian, kita cenderung menggunakan pendekatan yang sama untuk membaca di layar dengan materi yang lebih sulit yang perlu kita pahami dengan perlahan agar menyerap informasi lebih hati-hati. Akibatnya, bisa jadi anak-anak yang terbiasa membaca cepat di layar, tidak memberikan perhatian yang tepat pada materi pembelajaran tersebut.

Pembaca pemula

literasi
Buku cetak memudahkan orangtua dan anak-anak untuk berinteraksi dengan bahasa. (Foto: Pexels/Maël BALLAND)


Pada anak-anak yang lebih kecil, kata Baron, masuk akal untuk tetap menggunakan buku sebisanya. Buku cetak, katanya, memudahkan orangtua dan anak-anak untuk berinteraksi dengan bahasa, pertanyaan dan jawaban. Itulah yang disebut dengan "membaca dialogis." Karena, banyak aplikasi dan e-book memiliki terlalu banyak gangguan yang dapat mengalihkan perhatian.

Seperti yang dituliskan dalam nytime.com (1/10), Jenny Radesky, dokter anak perilaku perkembangan dan asisten profesor pediatri di Michigan Medicine C.S. Mott Children’s Hospital, Ann Arbor, mengatakan bahwa aplikasi yang dirancang untuk mengajar membaca di tahun-tahun awal sekolah bergantung pada permainan gim yang dimaksudkan untuk membuat anak-anak tetap terlibat.

Meskipun aplikasi-aplikasi tersebut berhasil mengajarkan keterampilan inti, Radesky mengatakan, “Apa yang hilang di pembelajaran jarak jauh adalah konteks kelas, guru sebagai pembuat makna, untuk mengikat semuanya, membantunya menjadi lebih bermakna bagi anak, bukan hanya sekelompok komponen kurikuler yang telah dikuasai.”

Kapan pun orangtua dapat menemani anak membaca adalah baik, menggunakan media apa pun yang paling cocok untuk mereka, kata Dr. Tiffany Munzer, juga seorang dokter anak perkembangan perilaku di Rumah Sakit Anak Mott. Dia telah mempelajari bagaimana anak-anak kecil menggunakan e-book.

Namun, Munzer adalah penulis utama pada studi tahun 2019 yang menemukan bahwa orangtua dan balita berbicara lebih sedikit secara keseluruhan, dan juga berbicara lebih sedikit tentang cerita, ketika mereka melihat buku elektronik dibandingkan dengan buku cetak. Studi lain juga menunjukkan, kurangnya sosialisai akibat balita lebih cenderung menggunakan layar sendiri.

Baca Juga:

Literasi Penting di Era Digital

Kecepatan membaca

literasi
Memperlambat kecepatan membaca dapat membantu pemahaman. (Foto: Pexels/Pixabay)


Radesky, yang terlibat dalam proyek penelitian dengan Munzer, berbicara tentang pentingnya membantu anak-anak menguasai membaca yang melampaui detail yang diingat secara spesifik, kata-kata atau karakter atau peristiwa. Sehingga seorang anak mampu mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh dari cerita dengan pengalaman hidup.

Sementara, katanya, bukan itu yang ditekankan dalam desain digital. “Hal-hal yang membuat kamu berpikir, membuatmu melambat dan memproses sesuatu secara mendalam, tidak laku, tidak mendapatkan klik terbanyak,” Radesky menjelaskan.

Orangtua dapat membantu dengan ini ketika anak-anak mereka masih kecil, kata Dr. Radesky. Dia menyarakan dengan mendiskusikan cerita dan mengajukan pertanyaan yang membantu anak-anak menarik hubungan tersebut.

Dalam eksperimen dengan siswa sekolah menengah dan universitas yang diminta untuk membaca bagian dan kemudian diuji. Baron mengatakan, siswa yang berpikir bahwa mereka membaca lebih baik di layar akan tetap melakukan tes dengan lebih baik jika mereka telah membaca seluruh bagian.

Dan, mahasiswa yang mencetak artikel, katanya, cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi dan nilai ujian yang lebih baik. Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang menggunakan buku, majalah atau surat kabar otentik untuk menulis esai menulis, hasilnya lebih baik daripada yang hanya diberi hasil print dan fotokopi.

Dengan teks kompleks dalam format apa pun, memperlambat kecepatan membaca dapat membantu pemahaman. Baron menganjurkan, orangtua dapat memberi contoh di rumah dengan duduk dan bersantai sambil membaca buku, membaca tanpa terburu-buru, dan mungkin secara umum tidak menekankan kecepatan dalam hal belajar. Guru dapat dilatih untuk membantu siswa mengembangkan cara pembacaan yang dalam, penuh perhatian, dan fokus pada teks.

Tidak ada yang akan mengambil layar gawai dari kehidupan anak-anak, atau dari pembelajaran mereka. Namun, semakin kita mengeksploitasi kemungkinan yang kaya dari membaca digital, semakin penting untuk mendorong anak-anak mencoba membaca sesuatu dengan cara yang berbeda. (aru)

Baca Juga:

Kembangkan Literasi pada Anak sejak usia Dini

#Parenting #Literasi #Lipsus Literasi Oktober
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Survei Forum Anak di Jawa Tengah terhadap lebih dari 20 ribu anak menunjukkan 80 persen lebih nyaman curhat kepada teman dibanding orang tua.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Indonesia
Industri Perbukuan Indonesia Sedang Menghadapi Persoalan Serius
RUU Sistem Perbukuan diperlukan karena industri perbukuan Indonesia sedang menghadapi persoalan serius.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 08 Agustus 2026
Industri Perbukuan Indonesia Sedang Menghadapi Persoalan Serius
Lifestyle
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Indonesia
Pemerintah Kirim 5,54 Juta Eksemplar Buku Bacaan Bermutu ke 24.609 Sekolah
Abdul Mu'ti juga menjelaskan pemerintah saat ini menjalankan tiga kebijakan literasi yang saling terintegrasi.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 31 Juli 2026
Pemerintah Kirim 5,54 Juta Eksemplar Buku Bacaan Bermutu ke 24.609 Sekolah
Indonesia
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial hingga memengaruhi kesehatan mental peserta didik.
Dwi Astarini - Rabu, 29 Juli 2026
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Lifestyle
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Langkah sistematis ini memastikan batas waktu bermain berjalan otomatis tanpa perlu penyitaan perangkat secara fisik
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 Juli 2026
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Fun
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain menghadirkan pengalaman edukatif imersif yang mengajak orang tua memahami perkembangan anak.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 25 Juli 2026
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
Indonesia
DPR Dukung Tambahan Anggaran Perpusnas Rp 357,77 Miliar, Literasi Dinilai Investasi Masa Depan Bangsa
Anggota Komisi X DPR RI dukung usulan tambahan anggaran Perpusnas Rp 357,77 miliar untuk perkuat layanan perpustakaan hingga pemerataan literasi daerah 3T.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 18 Juni 2026
DPR Dukung Tambahan Anggaran Perpusnas Rp 357,77 Miliar, Literasi Dinilai Investasi Masa Depan Bangsa
Indonesia
Literasi dan Numerasi Sejak Dini Kunci Hadapi Era Modern
Anak-anak yang dekat dengan buku dinilai akan lebih berani bermimpi, mampu berpikir kritis, serta memiliki rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan zaman.
Dwi Astarini - Jumat, 29 Mei 2026
Literasi dan Numerasi Sejak Dini Kunci Hadapi Era Modern
Fun
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
MAKUKU perkenalkan popok comfort fit. Hadirkan teknologi SAP dan 360 Leak Protection, dirancang mendukung kebebasan gerak anak.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 12 Februari 2026
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
Bagikan