DPR Dukung Tambahan Anggaran Perpusnas Rp 357,77 Miliar, Literasi Dinilai Investasi Masa Depan Bangsa

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 18 Juni 2026
DPR Dukung Tambahan Anggaran Perpusnas Rp 357,77 Miliar, Literasi Dinilai Investasi Masa Depan Bangsa

Ilustrasi perpustakaan.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad, menyatakan dukungan penuh terhadap usulan tambahan anggaran yang diajukan Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Menurutnya, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus terhadap penguatan dan pengembangan literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Sebelumnya, Perpusnas memperbaiki usulan tambahan anggaran Pagu Indikatif kepada Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Kementerian Keuangan. Nilainya meningkat dari semula Rp 204,04 miliar menjadi Rp 357,77 miliar.

Tambahan anggaran tersebut diarahkan untuk mendukung penguatan layanan perpustakaan, transformasi digital, serta pengembangan ekosistem literasi nasional.

Secara keseluruhan, kebutuhan anggaran Perpusnas pada 2026 mencapai Rp 725,50 miliar.

Fokus Perluas Akses Membaca hingga Daerah Rentan

Usulan penambahan anggaran itu terutama ditujukan untuk memperluas akses membaca bagi masyarakat di daerah-daerah pinggiran serta kelompok-kelompok rentan yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses terhadap bahan bacaan dan layanan literasi.

Baca juga:

KPK Usulkan Tambahan Anggaran Rp 762,3 Miliar untuk Tahun 2027, Sahroni: Tanggung, Ajuin Rp 5 Triliun

Habib Syarief menilai kebijakan fiskal yang diarahkan untuk pengembangan institusi perpustakaan, penambahan kuantitas dan kualitas koleksi buku, serta peningkatan kapasitas pustakawan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai beban pengeluaran negara.

Menurutnya, Kamis (18/6), anggaran untuk sektor perpustakaan harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat besar bagi masa depan bangsa.

Anggaran untuk sektor perpustakaan harus senantiasa dikonseptualisasikan sebagai investasi jangka panjang. Setiap rupiah yang dialokasikan negara untuk menyalakan pelita literasi akan memberikan tingkat pengembalian yang tidak ternilai, yakni lahirnya generasi penerus yang berdaya saing global, berintegritas, dan tidak mudah dimanipulasi oleh pusaran zaman,

Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad.

Pemerintah Diminta Beri Perhatian Penuh

Karena itu, legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat I tersebut menegaskan pentingnya dukungan pemerintah terhadap postur anggaran Perpusnas.

"Oleh karena itu, adalah sebuah keniscayaan bagi pemerintah untuk memberikan perhatian penuh terhadap postur anggaran Perpusna," kata Habib Syarief dalam keterangannya, Kamis (18/6).

Ia menyayangkan apabila program-program yang berkaitan langsung dengan peningkatan kecerdasan masyarakat harus terhambat akibat kebijakan rasionalisasi anggaran.

Program seperti pemerataan distribusi buku ke pelosok daerah maupun pelatihan literasi dinilai memiliki peran penting dalam memperluas akses pengetahuan bagi masyarakat.

Baca juga:

Raker Menag, Mensos dan Menteri Haji dengan Komisi VIII DPR Bahas Anggaran Tahun 2027

Habib Syarief menegaskan seluruh pihak perlu memiliki kesadaran kolektif mengenai pentingnya anggaran perpustakaan bagi masa depan Indonesia.

Menurutnya, pengurangan anggaran di sektor literasi dapat berdampak langsung terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Memangkas anggaran perpustakaan sama halnya dengan memadamkan cahaya masa depan bangsa kita sendiri," tegasnya.

"Mari kita pastikan bahwa Republik ini terus bertumbuh tidak hanya dengan jembatan beton yang kokoh, tetapi juga dengan jembatan ilmu pengetahuan yang menghubungkan setiap anak bangsa dengan cita-cita luhurnya," lanjut Habib Syarief.

Soroti Ketimpangan Akses Informasi di Daerah 3T

Lebih lanjut, Habib Syarief menilai Indonesia masih menghadapi persoalan ketimpangan akses informasi. Menurutnya, buku-buku berkualitas dan fasilitas literasi modern masih banyak terkonsentrasi di kota-kota besar, terutama di Pulau Jawa.

Sementara itu, masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menghadapi keterbatasan bahan bacaan dan fasilitas pendukung literasi.

"Anak-anak bangsa yang menetap di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih harus bergulat dengan kelangkaan bahan bacaan. Sentralisasi pengetahuan ini merupakan sebentuk ketidakadilan sosial yang mencederai amanat konstitusi," tegasnya. (Pon)

#Perpustakaan Nasional #Komisi X DPR #Literasi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
DPR Soroti Batas Waktu Konsumsi Makanan MBG, BGN Diminta Perkuat Pengawasan
Komisi X DPR meminta batas waktu konsumsi MBG disampaikan. DPR ingin adanya label di informasi itu.
Soffi Amira - Kamis, 13 Agustus 2026
DPR Soroti Batas Waktu Konsumsi Makanan MBG, BGN Diminta Perkuat Pengawasan
Indonesia
Industri Perbukuan Indonesia Sedang Menghadapi Persoalan Serius
RUU Sistem Perbukuan diperlukan karena industri perbukuan Indonesia sedang menghadapi persoalan serius.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 08 Agustus 2026
Industri Perbukuan Indonesia Sedang Menghadapi Persoalan Serius
Indonesia
Polemik Pasien BPJS Berujung Sorotan DPR, Nakes Diminta Bijak Bermedia Sosial
Polemik komentar sejumlah tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS menuai sorotan DPR. Ingatkan pentingnya menjaga etika profesi, empati, dan tanggung jawab moral
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 06 Agustus 2026
Polemik Pasien BPJS Berujung Sorotan DPR, Nakes Diminta Bijak Bermedia Sosial
Indonesia
Komisi X DPR Minta Anggaran Pendidikan Fokus Atasi Kekurangan Guru usai Putusan MK
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Esti Wijayati meminta anggaran pendidikan difokuskan untuk mengatasi kekurangan guru dan meningkatkan mutu pendidikan.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 04 Agustus 2026
Komisi X DPR Minta Anggaran Pendidikan Fokus Atasi Kekurangan Guru usai Putusan MK
Indonesia
DPR Desak Putusan MK soal Anggaran MBG Segera Diterapkan pada APBN 2027
Komisi X DPR mendesak pemerintah mempercepat putusan MK soal anggaran MBG di APBN 2027.
Soffi Amira - Senin, 03 Agustus 2026
DPR Desak Putusan MK soal Anggaran MBG Segera Diterapkan pada APBN 2027
Indonesia
Pemerintah Kirim 5,54 Juta Eksemplar Buku Bacaan Bermutu ke 24.609 Sekolah
Abdul Mu'ti juga menjelaskan pemerintah saat ini menjalankan tiga kebijakan literasi yang saling terintegrasi.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 31 Juli 2026
Pemerintah Kirim 5,54 Juta Eksemplar Buku Bacaan Bermutu ke 24.609 Sekolah
Indonesia
Komisi X DPR Dukung Putusan MK: Anggaran Pendidikan Tak Boleh Dipakai untuk MBG
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian mendukung putusan MK yang menegaskan anggaran pendidikan diprioritaskan untuk kebutuhan inti pendidikan, tidak untuk MBG.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 31 Juli 2026
Komisi X DPR Dukung Putusan MK: Anggaran Pendidikan Tak Boleh Dipakai untuk MBG
Indonesia
Komisi X DPR akan Panggil Kemendiktisaintek, Minta Penjelasan Pendirian Universitas Republik Indonesia
Pembahasan mengenai URI belum pernah dilakukan bersama DPR.
Dwi Astarini - Jumat, 24 Juli 2026
Komisi X DPR akan Panggil Kemendiktisaintek, Minta Penjelasan Pendirian Universitas Republik Indonesia
Indonesia
DPR Desak Pemerintah Jelaskan Rencana Pembentukan Universitas Republik Indonesia, Belum Pernah di Rapatkan
Komisi X akan meminta penjelasan langsung kepada pemerintah dalam rapat kerja bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi setelah DPR memasuki masa sidang berikutnya.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 24 Juli 2026
DPR Desak Pemerintah Jelaskan Rencana Pembentukan Universitas Republik Indonesia, Belum Pernah di Rapatkan
Indonesia
Banyak Warga tak Mampu Sulit Kuliah, DPR Minta Evaluasi Total Parameter Penentu Desil Penerima KIP
Negara tidak boleh menyerahkan nasib anak-anak dari keluarga miskin hanya kepada perhitungan algoritma yang berpotensi mengabaikan realitas di lapangan.
Dwi Astarini - Selasa, 14 Juli 2026
Banyak Warga tak Mampu Sulit Kuliah, DPR Minta Evaluasi Total Parameter Penentu Desil Penerima KIP
Bagikan