Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti

Ilustrasi menyusui. (Foto: Unsplash/Dave Clubb)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - PERKEMBANGAN informasi di media sosial membuat banyak ibu semakin mudah mendapatkan edukasi tentang menyusui. Namun, derasnya informasi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak semua pesan yang beredar memiliki dasar ilmiah.

Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.

Menurutnya, pengalaman pribadi seorang ibu tidak bisa dijadikan acuan umum karena setiap ibu dan anak memiliki kondisi yang berbeda.

Pengalaman satu ibu itu tidak bisa dijadikan evidence-based (bukti ilmiah). Kita tidak bisa mengambil pengalaman satu orang lalu menganggap hal tersebut pasti berlaku untuk semua ibu.

Nia Umar, Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)



Nia mencontohkan fenomena pemberian ASI menggunakan botol atau dot. Menurutnya, sebagian ibu mungkin merasa tidak mengalami kendala ketika memberikan ASI melalui botol, tetapi kondisi tersebut belum tentu sama pada ibu lainnya.

Baca juga:

Konsumsi Pil KB Diklaim Tidak Mengurangi Air Susu Ibu Menyusui



“Banyak ibu yang mengatakan, 'saya tidak apa-apa memerah ASI, anak tetap menyusu langsung, lalu minum menggunakan dot'. Namun, anak setiap ibu berbeda. Tidak bisa pengalaman satu ibu disamakan dengan ibu lain,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, selama 15 tahun menjadi konselor menyusui, ia menemukan berbagai kasus dengan respons anak terhadap perpindahan dari payudara ke botol bisa berbeda.

“Ada ibu dengan anak pertama yang baik-baik saja saat berpindah dari payudara ke botol. Namun, pada anak kedua, justru mengalami bingung puting hingga berhenti menyusu langsung,” katanya.


Pentingnya Memahami Risiko sebelum Mengambil Keputusan


Nia menegaskan kampanye menyusui harus tetap mengutamakan informasi yang berbasis penelitian, bukan sekadar pengalaman individu. Ia menyebut AIMI tidak merekomendasikan penggunaan botol dot secara sembarangan karena terdapat risiko bayi mengalami bingung puting.

Menurutnya, keputusan akhir tetap berada di tangan orangtua. Namun, tenaga konselor memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi mengenai risiko dan konsekuensi dari setiap pilihan. “Kita tidak bisa memaksa ibu. Setelah diberikan edukasi dan mengetahui risikonya, keputusan tetap menjadi pilihan masing-masing. Namun, informasi mengenai risikonya tetap harus disampaikan,” ujar Nia.

Ia menambahkan tidak semua bayi yang menggunakan dot pasti mengalami bingung puting. Namun, karena setiap pasangan ibu dan anak memiliki kondisi yang berbeda, risiko tersebut perlu menjadi pertimbangan. Nia melihat tantangan terbesar saat ini yakni melimpahnya informasi mengenai menyusui di ruang digital. Alih-alih membantu, banyaknya informasi justru membuat ibu semakin bingung menentukan sumber yang dapat dipercaya.

Oleh karena itu, ia mengajak para ibu untuk membedakan antara pesan yang memiliki unsur promosi dan edukasi yang benar-benar didukung bukti ilmiah.

“Informasi yang sangat banyak seperti tsunami membuat ibu semakin bingung mencari mana informasi yang benar. Maka penting bagi ibu untuk belajar menilai sumber informasi,” ucapnya.(Tka)

Baca juga:

Pentingnya Ibu Bekerja Tetap Sukses Menyusui Eksklusif




#Parenting #Ibu Menyusui #MPASI Anak
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Lifestyle
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Indonesia
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial hingga memengaruhi kesehatan mental peserta didik.
Dwi Astarini - Rabu, 29 Juli 2026
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Lifestyle
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Langkah sistematis ini memastikan batas waktu bermain berjalan otomatis tanpa perlu penyitaan perangkat secara fisik
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 Juli 2026
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Fun
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain menghadirkan pengalaman edukatif imersif yang mengajak orang tua memahami perkembangan anak.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 25 Juli 2026
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
Fun
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
MAKUKU perkenalkan popok comfort fit. Hadirkan teknologi SAP dan 360 Leak Protection, dirancang mendukung kebebasan gerak anak.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 12 Februari 2026
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
Lifestyle
Bunda, Coba deh Lavender & Chamomile untuk Tenangkan Bayi Rewel secara Alami
Lavender dan chamomile kerap menjadi pilihan utama dalam praktik mindful parenting.
Dwi Astarini - Minggu, 07 September 2025
Bunda, Coba deh Lavender & Chamomile untuk Tenangkan Bayi Rewel secara Alami
Fun
Liburan Bersama Anak di Kolam Renang: Seru, Sehat, dan Penuh Manfaat
Periode libur long weekend di Agustus ini jadi saat yang tepat untuk mengunjungi kolam renang.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 17 Agustus 2025
Liburan Bersama Anak di Kolam Renang: Seru, Sehat, dan Penuh Manfaat
Indonesia
Tak hanya Melarang Roblox, Pemerintah Dituntut Lakukan Reformasi Literasi Digital untuk Anak-Anak
Perlu diiringi dengan edukasi yang mencakup tiga elemen kunci yakni anak, orangtua, dan tenaga pendidik.
Dwi Astarini - Jumat, 08 Agustus 2025
Tak hanya Melarang Roblox, Pemerintah Dituntut Lakukan Reformasi Literasi Digital untuk Anak-Anak
Lifestyle
Tak Melulu Negatif, Roblox Tawarkan Manfaat Pengembangan Kreavitas untuk Pemain
Orangtua juga perlu tahu bahwa ada sisi positif dari gim daring ini.
Dwi Astarini - Jumat, 08 Agustus 2025
 Tak Melulu Negatif, Roblox Tawarkan Manfaat Pengembangan Kreavitas untuk Pemain
Lifestyle
Susu Soya, Jawaban Tepat untuk Anak dengan Intoleransi Laktosa
Ini merupakan pilihan yang bijak dan menyehatkan bagi anak-anak yang tidak bisa menoleransi susu sapi.
Dwi Astarini - Jumat, 04 Juli 2025
Susu Soya, Jawaban Tepat untuk Anak dengan Intoleransi Laktosa
Bagikan