MERAHPUTIH.COM - MENJAGA anak di zaman teknologi yang semakin maju memiliki tantangan sendiri. Salah satunya paparan konten produksi sosial media mengandung kekerasan bahkan radikalisme. Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Beberapa anak usia dini bisa mengakses berbagai platform dengan bebas. Kebebasan tak terbatas itulah yang menjadi pintu pertama masuknya paparan kekerasan hingga radikalisme. Dampaknya makin parah, apalagi tanpa ada pengawasan orang tua.
Kondisi seperti ini membuat anak rentan menjadi sasaran yang mengonsumsi konten yang mengandung kekerasan bahkan radikalisme. Bahayanya membentuk pola keyakinan pada anak, juga bisa sampai tahap meniru, yakni berperilaku kasar dan radikal.
Baca juga:
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Pentingnya Kedekatan Orang Tua di Rumah
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan anak berkelakuan baik di rumah alias good boy dan nice girl tidak menjadi jaminan anak bebas dari konten media yang mengandung kekerasan dan radikalisme.
Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena ruang kekerasan dan radikalisme hari ini bergerak di media sosial.
Makanya perlu sekali andil keluarga sebagai benteng paling pertama yang memberikan perspektif terkait dengan apa bahaya kekerasan dan melukai orang lain karena ideologi.
Berikut langkah memberikan wawasan pengetahuan mencegah paparan bahaya kekerasan pemahaman radikalisme
1. Bangun keluarga yang harmonis dan komunikatif
Hubungan keluarga yang penuh perhatian dapat membantu memperkuat ketahanan psikologis anak sehingga tidak mudah terpengaruh ajakan atau propaganda ekstremisme.
2. Biasakan mendengarkan anak
Berikan ruang bagi anak untuk menyampaikan cerita, pendapat, maupun persoalan yang mereka hadapi. Anak yang merasa dihargai dan didengarkan akan lebih percaya diri menghadapi pengaruh negatif.
3. Berikan perhatian yang cukup
Kehadiran dan perhatian orang tua penting agar anak tidak mencari penerimaan dari lingkungan yang berpotensi membawa pengaruh buruk.
4. Ciptakan budaya diskusi di rumah
Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai kebangsaan, toleransi, serta pentingnya menghargai perbedaan.
5. Ajarkan etika bermedia sosial
Bekali anak dengan kemampuan menggunakan media sosial secara bijak, termasuk memahami informasi yang mereka konsumsi dan membagikannya.
6. Kenalkan bahaya konten kebencian dan kekerasan
Orang tua perlu membantu anak mengenali informasi atau propaganda yang mengandung kebencian, intoleransi, dan kekerasan.
7. Perkuat kemampuan berpikir kritis anak
Anak perlu dibiasakan mempertanyakan dan memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya, terutama yang diperoleh dari media sosial.
8. Jangan bekerja sendiri
Perlindungan anak dari radikalisme membutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan.(Tka)
Baca juga:
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial